Menag Sebut Perceraian Lahirkan Kemiskinan Baru

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko PM, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko PM, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyebut perceraian turut berkontribusi terhadap lahirnya kemiskinan baru di masyarakat. Nasaruddin menyebut, perceraian dapat menyebabkan perempuan dan anak telantar sehingga meningkatkan kerentanan ekonomi keluarga.

Pernyataan itu disampaikan Nasaruddin dalam agenda rapat koordinasi bersama Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar di Kementerian PM, Jakarta Pusat, Senin (19/10).

Nasaruddin menerangkan, pemerintah perlu melihat persoalan kemiskinan secara komprehensif. Artinya, tidak hanya dari dampak yang ditimbulkan, tetapi juga faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.

“Secara ekosistem kita mencoba untuk memotret kemiskinan ini tidak hanya dalam bentuk akibat ya, tetapi sebab yang menyebabkan kemiskinan itu pun juga harus kita lihat ya secara komprehensif sehingga nanti solusinya bisa diselesaikan dengan tepat,” terang Nasaruddin.

Menurut Nasaruddin, perceraian dapat berkontribusi terhadap munculnya kemiskinan baru, terutama ketika perempuan dan anak telantar setelah perpisahan orang tua.

“Perceraian itu juga memberikan kontribusi lahirnya kemiskinan baru dalam masyarakat, yaitu anak-anak dan perempuan telantar,” kata Nasaruddin.

Dia menjelaskan, kondisi perempuan dan anak setelah perceraian perlu menjadi perhatian dalam upaya pengentasan kemiskinan. Sebab, perceraian dapat membuat perempuan kehilangan dukungan dalam memenuhi kebutuhan hidup, sementara anak-anak berisiko telantar.

“Karena kalau terjadi perceraian, otomatis istrinya itu banyak terbengkalai, anak-anaknya juga telantar, dan itu berkontribusi melahirkan orang miskin baru,” ujarnya.

Kendati demikian, Nasaruddin mengeklaim angka perceraian di Indonesia telah mengalami penurunan yang signifikan.

Ia pun berharap penurunan tersebut dapat berdampak pada penguatan masyarakat sekaligus mencegah munculnya kemiskinan baru.

“Dengan demikian kita harap dampaknya juga akan memberikan penguatan masyarakat, penguatan umat, dan juga mencegah kemiskinan,” tutur Nasaruddin.