Menanti dr Reisa Buka Suara soal Endorsement di Instagram

Dokter Reisa Broto Asmoro terus menjadi perbincangan publik di media sosial. Setelah muncul dengan status barunya sebagai anggota tim komunikasi publik Gugus Tugas COVID-19, dr Reisa dihadapkan pada permasalahan baru.
Reisa yang juga aktif sebagai Humas PB IDI itu kerap mengunggah foto yang menampilkan beberapa merek dagang, seperti minuman kemasan hingga susu bayi. Reisa masih aktif menerima tawaran endorsement.
Sikap Reisa mendapat kritik dari anggota Ombudsman RI, Alvin Lie. Menurut Alvin, tak etis jika Reisa, yang kini sudah diangkat menjadi anggota tim komunikasi gugus tugas pemerintah, masih menerima tawaran iklan. Alvin menyebut, Reisa sebaiknya mundur dari kontrak dengan produk apa pun.
Menurut Alvin, Reisa juga telah melanggar kode etik dunia kedokteran. Aturan itu merujuk pada Kode Etik Kedokteran Indonesia tahun 2012 Pasal 3:
Membuat ikatan atau menerima imbalan dari perusahaan farmasi/obat, perusahaan alat kesehatan/kedokteran atau badan lain yang dapat mempengaruhi pekerjaan dokter.
"Jadi ini masalah etika, mungkin yang bersangkutan sudah ada kontrak-kontrak sebelumnya. Namun saat diangkat menjadi pejabat publik, seharusnya yang bersangkutan segera mengundurkan diri dan mengatur kapan iklan-iklan yang di-endorse itu segera dihentikan," ujar Alvin.
Alvin menilai, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak boleh menerima endorsement produk komersial tanpa seizin atasan. Belakangan, Reisa meluruskan bahwa ia belum berstatus ASN.
Setelah menerima klarifikasi Reisa, Alvin justru mempertanyakan landasan hukum Reisa sebagai anggota tim komunikasi.
"Saya pertanyakan, apa landasan hukum dia (Reisa) sebagai juru bicara (anggota tim komunikasi) Gugus Tugas? Apakah patut informasi resmi pemerintah disampaikan secara rutin melalui forum resmi oleh orang yang tanpa SK pengangkatan/penunjukan, tanpa hak keuangan?" kata Alvin kepada kumparan, Jumat (19/6).
Senada dengan Alvin, Anggota Komisi Kesehatan (IX) DPR, Saleh Partaonan Daulay, meminta Reisa segera memberikan penjelasan kepada publik terkait endorsement yang masih ia terima. Menurutnya, penjelasan Reisa dibutuhkan agar tak ada conflict of interest dengan posisi Reisa yang saat ini menjabat sebagai tokoh publik.
"Saya mendorong agar dr. Reisa memberikan penjelasan terkait kritik yang disampaikan Ombudsman. Penjelasan itu setidaknya menyangkut persoalan iklan di akun IG-nya. Dengan begitu, tidak ada informasi yang simpang siur," kata Saleh.
Anggota DPR Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, meminta Reisa sebaiknya fokus pada tugasnya saat ini. Mufida menyebut, menjadi anggota tim komunikasi publik Gugus Tugas bukan hanya sekadar menginformasikan pencegahan COVID-19, namun ada tanggung jawab yang besar.
"Khusus buat para birokrat yang sedang bertugas menangani pengendalian COVID-19, baiknya lebih fokus dan konsentrasi untuk penanganan wabah ini. Apalagi saat ini angka sudah menembus di angka 1.000 (per hari)," ungkap Mufida.
Menanggapi kritik sejumlah pihak terhadap Reisa, Menkominfo Johnny G Plate menilai polemik itu tak perlu dilanjutkan. Menurutnya, endorsement hanyalah perihal teknis yang tak perlu diributkan.
Johnny berkepentingan menjawab hal ini karena Gugus Tugas menyebut Menkominfo-lah yang paling tahu detail soal status dr Reisa.
Johnny pun balik menyinggung Ombudsman yang justru mengkritik hal-hal yang dinilai bukan tujuan utama saat ini.
"Putra-putri negara bangsa Indonesia yang mau menyumbangkan pikirannya, tenaganya, kemampuannya, untuk ikut memutus COVID, kita dukung itu. Jangan tanya hal teknis untuk meributkan barang yang tidak perlu diributkan," kata Johnny.
"Siapa itu ribut-ribut. Seluruh lembaga negara apa pun itu kita ambil bagian memutus COVID," jelas dia.
Atas permasalahan itu, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas, Wiku Adisasmito, angkat bicara. Wiku mempersilahkan Reisa untuk menjelaskan secara gamblang permasalahan yang kini jadi polemik itu. Soal dipermasalahkannya status Reisa yang disebut menyandang status ASN, Wiku membantahnya.
Ia menyebut, tim di Gugus Tugas terdiri dari berbagai kalangan. Termasuk selebgram, artis, dokter, organisasi profesi dan berbagai kalangan lainnya.
"Pendekatan Gugus Tugas adalah pentahelix berbasis komunitas. Jadi semua komponen/stakeholders dilibatkan untuk menghadapi COVID ini," jelas Wiku.
"[Reisa] Bukan ASN," tambah Wiku.
---
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona. Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
