Menanti Formula E Mengaspal di Monas

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Situasi balapan Formula E di Roma (Ilustrasi). Foto: AFP/Andreas Solaro
zoom-in-whitePerbesar
Situasi balapan Formula E di Roma (Ilustrasi). Foto: AFP/Andreas Solaro

Kawasan Monumen Nasional (Monas) bakal menjadi lokasi balapan Formula E. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pengumuman terkait titik yang akan dijadikan lintasan balap segera diumumkan Februari ini.

"Nanti kita tunggu prosesnya. Belum tahu di mana. Iya (tunggu kajian) dan memang kita punya banyak opsi-opsi," kata Anies Baswedan saat menghadiri perayaan Cap Go Meh di Pancoran Chinatown, Jakarta Barat, Sabtu (8/2).

"Kalau lintasan harus segera. Iya dong (bulan ini) karena harus ada persiapan kontruksi dan lain-lain, penyiapan aspalnya dan lain-lain," ucapnya.

PT Jakarta Propertindo (Jakpro), selaku penyelenggara kini terus mengebut persiapan jelang perhelatan pada 6 Juni 2020 mendatang. Misalnya penyiapan lintasan balap.

Pemandangan Monumen Nasional (Monas) yang berada di jantung kota Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Titik yang harus diperhatikan ada sisi di Lapangan Merdeka, yang saat ini beralas paving block. Bila ingin dijadikan sirkuit, bagian ini harus diaspal sesuai desain sirkuit Formula E.

PT Jakpro bisa mempertimbangkan opsi Jakarta mengikuti cara Paris dalam membangun sirkuit Formula E. Dikutip dari motorsporttickets.com, dijelaskan sirkuit Formula E Paris yang berlokasi di cagar budaya Des Invalides peninggalan abad 7 menggunakan aspal yang tidak permanen alias sementara.

Ada bagian dari trek yang aslinya beralas susunan batu (cobblestone) peninggalan zaman dulu, hampir mirip dengan yang ada di Lapangan Merdeka Monas yang menggunakan paving block.

Pembuatan sirkuit Formula E Jakarta memang harus memperhatikan UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Syarat ini juga merupakan bagian dari surat keputusan Komisi Pengarah yang memutuskan DKI harus merujuk pada UU tentang Cagar Budaya dalam menggunakan Monas sebagai sirkuit.

Dalam UU Cagar Budaya Pasal 81 berisi:

"Setiap orang dilarang mengubah fungsi ruang Situs Cagar Budaya dan/atau Kawasan Cagar Budaya peringkat nasional, peringkat provinsi, atau peringkat kabupaten/kota, baik seluruh maupun bagian-bagiannya, kecuali dengan izin Menteri, gubernur, atau bupati/wali kota sesuai dengan tingkatannya."

Komentar sempat bermunculan dari sejumlah pihak soal Komisi Pengarah Pembangunan Monas yang mengizinkan ajang Formula E diselenggarakan di Monas. Misalnya Wakil Ketua DPRD DKI Fraksi Gerindra M. Taufik.

Wakil Ketua DPRD Fraksi Gerindra M. Taufik. Foto: Efira Tamara Thenu/kumparan

Menurutnya, Jakarta harus berani melaksanakan Formula E. Jakarta yang menurutnya tak punya apa-apa, harus menunjukkan kemampuannya di kancah internasional.

"Kalau di Sentul kan bukan Jakarta. Jadi gini, Jakarta itu perlu event-event internasional, karena Jakarta enggak punya apa-apa," kata Taufik saat ditemui di DPRD DKI, Jakarta, Senin (10/2).

"Maka persepsi aman itu harus terbangun oleh dunia. Supaya itu terbangun, maka event internasional, bukan cuma Formula E, apa saja harus diselenggarakan di Jakarta," tambahnya.

Formula E juga kata dia tak akan berdampak banyak pada aktivitas warga DKI. Sebab hanya digelar sehari, maka menurutnya tak akan mengganggu.

"Enggaklah, kan enggak sebulan cuma sehari," tuturnya.

Infografik Formula E. Foto: Dimas Prahara/kumparan

Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD DKI Ida Mahmudah dari fraksi PDIP malah menolak usulan Formula E di kawasan Monas. Dia meminta Pemprov DKI kembali mempertimbangkan pelaksanaan Formula E di Jakarta.

"Iya harusnya tidak boleh (di Monas). Saya berpikir untuk Pemda DKI pertimbangkan ulang deh kalau memang Formula E itu di DKI," kata Ida kepada wartawan, Senin (11/2).

Dia khawatir, ajang Formula E malah membuat susah masyarakat. Apalagi jika dilakukan di jalan protokol seperti opsi lain lintasan yakni Thamrin-Sudirman hingga GBK.

"Saya berharap Pak Gubernur mempertimbangkan ulang deh karena memang tidak memadai situasinya. Pertama, itu kalau di Monas nanti lintasannya memungkinkan tidak," ujarnya.

"Apalagi dengan kemarin wacana Thamrin-Sudirman mau gabung berapa banyak orang jalan di sana?" lanjutnya.