Mendagri Tito: Pengungsi Sumbar Sudah Tak Tinggal di Tenda per 24 Maret

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
KSP M.Qodari, Mendagri Tito Karnavian dan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memberikan keterangan pers di Kantor KSP, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (25/3/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
KSP M.Qodari, Mendagri Tito Karnavian dan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memberikan keterangan pers di Kantor KSP, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (25/3/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan penanganan pengungsi pascabencana di Sumatra Barat menunjukkan perkembangan signifikan. Pemerintah memastikan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian per 24 Maret 2026.

Hal itu disampaikan Tito dalam konferensi pers di Kantor KSP, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (25/3).

"Nah saya karena ini highlight-nya apa kemarin ada isu mengenai pengungsi ya. Tadi sudah disampaikan bahwa jumlahnya 2,1 juta saat itu. Ini untuk di Sumatra Barat, di Sumatra Barat ini dari pengungsi yang ada saat itu data tanggal 12 ya, 18.630 KK meliputi 105.447 jiwa. Alhamdulillah saat ini dalam data kita, kami sudah meng-cross check melalui para bupati dan juga ke lapangan, tidak ada lagi yang di tenda per tanggal 24 Maret," kata Tito.

Warga pengendara sepeda motor melintasi jalan Malalak yang sedang dalam pengerjaan di kilometer 82+600, Agam, Sumatera Barat, Senin (23/2/2026). Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO

Pemerintah Apresiasi Penanganan

Tito mengapresiasi kerja berbagai pihak dalam percepatan penanganan pengungsi, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah.

"Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pihak yang telah bekerja, mulai dari BNPB, kemudian Danantara yang membangun Huntara, Kementerian PU, TNI, Polri, kemudian juga dari Pemda yang bekerja keras," ujarnya.

Plan Indonesia salurkan bantuan untuk perempuan dan anak-anak terdampak banjir di Aceh, Sumbar, dan Sumut. Foto: Plan Indonesia

Skema Bantuan untuk Warga

Pemerintah menyiapkan sejumlah bantuan bagi warga terdampak, terutama untuk perbaikan rumah.

"Sehingga alternatifnya memang ada tiga. Yang pertama adalah para pengungsi, saya ulangi ada beberapa alternatif, yang rumahnya rusak ringan dan sedang itu diberikan biaya. Ringan 15 juta, sedang itu 30 juta. Belum tambahan lagi ada yang lain nanti kami sampaikan," terang dia.

Selain itu, terdapat bantuan tambahan berupa:

  • Uang perabotan: Rp 3.000.000

  • Bantuan ekonomi: Rp 5.000.000

  • Jaminan hidup (jadup): Rp 15.000 per orang per hari selama 3 bulan

"Uang perabotan 3 juta, bantuan ekonomi 5 juta dari Kemensos. Kemudian juga ada anggaran untuk namanya Jadup (Jaminan Hidup), uang lauk pauk 15.000 per orang per hari. Diberikan sebanyak 3 bulan, 450.000 kali 3," kata dia.

Tito menyebut, bantuan tersebut memungkinkan warga memperbaiki rumah secara mandiri.

"Jadi kalau yang rumahnya ringan sedang sudah mendapatkan biaya, ya mereka perbaiki sendiri. Sedang Rp 30 juta ditambah lagi Rp 3 juta untuk perabotan, ditambah lagi untuk bantuan ekonomi. Artinya lebih kurang Rp 3 tambah Rp 5,8 juta. Rp 38 juta belum uang lauk pauk dan lain-lain," tandas dia.