Mendengar Cerita Dean yang Matanya Bengkak karena Alergi Vaksin Corona

kumparanNEWSverified-green

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang petugas kesehatan menunjukkan vaksin Sinovac yang akan disuntikkan kepada tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan, di Jakarta, Kamis (14/1). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang petugas kesehatan menunjukkan vaksin Sinovac yang akan disuntikkan kepada tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan, di Jakarta, Kamis (14/1). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) menjadi salah satu yang harus diperhatikan saat vaksinasi corona, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta/komorbid, riwayat alergi, infeksi akut, dan imunodefisiensi primer.

Namun, sebagian masyarakat justru merasakan bukti nyata jika pelayanan KIPI saat ini masih belum optimal.

Salah satu penerima vaksinasi corona yang juga seorang presenter JawaPos TV, Dean Cahyani, menceritakan pengalamannya saat mengalami KIPI. Dean merupakan penerima vaksin dengan riwayat alergi. Dia menerima suntikan pertama menggunakan vaksin Sinovac pada 25 Februari lalu.

"Di tahapan skrining itu, 2 kali aku sudah menyampaikan ada alergi. Terus segala macam juga sudah dijawab, misalnya (aku) rutin olahraga, sempat konsumsi obat karena hormon tidak stabil, tapi sudah selesai minum di akhir Desember. Kata dokternya Desember kemarin kalau konsumsi obat rutin nggak bisa divaksin. Terus (aku jawab juga) ada riwayat alergi, memang ada [alergi pada] 4 obat," kata Dean kepada kumparan melalui sambungan telepon, Jumat (26/3).

Di ujung telepon, Dean pun menceritakan kebingungannya saat itu. Namun ternyata dokter tetap mengizinkannya menerima vaksin.

"Lalu dokter yang skrining aku kemarin akhirnya nanya lagi ke dokter lain, 'Ini gimana?' gitu. Ada alerginya banyak, makanan juga ada alergi. Kata dokter yang satu lagi, mungkin lebih senior kayaknya, 'Sudah enggak apa-apa'. Sampai pas itu aku tanya lagi 'ini enggak papa, Dok? Bukannya kalau alergi enggak bisa?' Katanya, 'Sudah enggak papa, reaksi alerginya sedikit'. Ya sudah aku divaksin," imbuhnya.

Setelah diyakinkan dua dokter saat proses skrining, Dean memantapkan diri untuk melakukan vaksinasi. Namun, ia justru mulai merasa tak enak badan, gemetar, dan berkeringat dingin sekitar 5-10 menit usai divaksin.

Dean langsung melaporkan hal ini kepada petugas vaksinasi, yang kemudian langsung menangani keluhannya. Tak lama setelah itu ia merasa mulai membaik dan memutuskan ke kantor. Tapi, alergi Dean justru baru mulai muncul saat tiba di kantor.

"Tiba-tiba pas itu ngerasa rasa panas di badan. Bukan demam, kayak gerah gitu. Terus rasa panasnya tambah parah, padahal di kantor dingin banget. Enggak lama mata berair, gatal, bengkak, mulai deh reaksi alergi itu," jelas Dean.

Dioper-oper dan Dirawat 8 Hari di RS

Setelah merasakan reaksi alergi, Dean langsung berusaha menghubungi nomor penanganan KIPI yang tertera di surat vaksinasi. Ia kemudian diserahkan ke dokter KIPI di kawasan Makasar, Jakarta Timur. Karena dirasa terlalu jauh, Dean meminta lokasi penanganan yang lebih dekat.

Dari segi inilah Dean merasa kesiapan pemerintah dalam menangani KIPI sangat kurang. Sebab, ia justru ditolak puskesmas hingga rumah sakit terdekat yang mengaku tak bisa menangani KIPI.

"Dokter KIPI kebingungan (aku) akan dilarikan ke mana. Terus dia bilang bawa aja ke puskesmas Kebayoran Lama. Terus pas (kondisiku) dilihat, dokternya bilang 'Ini enggak bisa, Mbak. Karena ini penanganan KIPI'. Padahal katanya dokter KIPI sudah deal sama dokter puskesmas Kebayoran Lama. Tapi kok enggak bisa?" tutur Dean.

"Kata puskesmas, 'Langsung saja ke RSUD Kebayoran Lama'. Eh, sampai sana enggak nerima juga, jadi kayak dioper-oper. Alasannya, katanya itu RS khusus Covid," lanjutnya.

Dean, saat vaksinasi corona. Foto: Dok Pribadi

Dean kemudian juga ditolak beberapa rumah sakit lain seperti RS Pelni dan RS Siloam. Akhirnya, ia baru berhasil mendapat penanganan di RS Fatmawati dengan bantuan dokter KIPI. Namun alerginya sudah terlalu parah karena terlambat ditangani sehingga terpaksa dirawat selama 8 hari di RS Fatmawati.

Akibat pengalaman ini, Dean mengaku kecewa dan menyayangkan kurangnya fasilitas penanganan KIPI.

Mungkin kalau ditangani cepat enggak sampai sebengkak itu. Itu sih yang aku pikirin dari kemarin. Harusnya enggak dioper-oper.

-Dean, penderita KIPI

Ia juga merasa bingung kenapa vaksinator tetap mengizinkan vaksinasi, padahal ia sudah jujur perihal riwayat alerginya.

Setelah kejadian ini, Dean menjelaskan, dokter di RS Fatmawati melarangnya untuk menerima suntikan dosis kedua vaksin Sinovac. Jikalau ingin memakai vaksin lain, Dean harus memiliki surat layak vaksin dari dokter penyakit dalam.

"Saran aku teman-teman yang punya alergi, konsultasi dulu, deh, ke dokter alergi, bisa vaksin atau enggak. Terus bawa itu surat layak vaksin. Jadi kalau punya alergi, konsultasi dulu ke dokter penyakit dalam, biar KIPI juga lebih bertanggung jawab lagi, dari vaksinatornya juga. Padahal kan kemarin aku sudah jujur. Harapannya, ya, gimana itu kalau KIPI itu penanganannya," beber Dean.

Dean, presenter jawapostv yang merasakan KIPI. Foto: Dok Pribadi. Dean