Mendikdasmen Mau Renovasi 100 Ribu Sekolah di 2027: Anggaran Masih Kita Usahakan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, pihaknya tengah mengusulkan tambahan anggaran kepada Kementerian Keuangan untuk melanjutkan program renovasi sekolah pada 2027.
Mu’ti mengatakan, program renovasi sekolah yang telah ditetapkan bersama Presiden Prabowo Subianto untuk 2025 dan 2026 diupayakan dapat diselesaikan. Selanjutnya, pemerintah akan mengusulkan anggaran renovasi untuk 2027.
“Anggarannya masih kita mintakan kepada Kementerian Keuangan untuk ada penambahan anggaran di tahun 2027. Tapi yang 2025, 2026 yang sudah sama Pak Presiden insyaallah sudah bisa selesai sehingga nanti tahun 2027,” kata Mu’ti di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Mu’ti menargetkan anggaran pada 2027 nantinya dapat mencakup renovasi hingga 100 ribu satuan pendidikan.
“Kita usahakan untuk dapat bisa dianggarkan untuk dari 2027, 100.000 satuan pendidikan ya, mudah-mudahan. Tapi ini masih kita usulkan kembali kepada Menteri Keuangan,” katanya.
Menurut Mu’ti, program renovasi sekolah tersebut akan mencakup seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah tidak hanya menyasar sekolah di wilayah tertentu, tetapi melakukan perbaikan berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan masing-masing daerah.
“Seluruh Indonesia. Renovasi sekolah rusak berat kan tahun ini prioritas kita nanti yang rusak berat sama rusak sedang dan 3T,” jelas dia.
Program renovasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memenuhi target Presiden Prabowo untuk menyelesaikan perbaikan seluruh sekolah yang membutuhkan renovasi paling lambat pada 2029.
Pemerintah Siapkan Studio Pembelajaran Terpusat
Mu’ti juga menjelaskan rencana pembangunan studio terpusat untuk mendukung pembelajaran. Studio tersebut akan dibangun di Jakarta dengan memanfaatkan kembali fasilitas studio TV pendidikan yang sebelumnya pernah dimiliki pemerintah.
“Studio terpusat gurunya, guru-guru kami sendiri. Jadi studio terpusat itu nanti kita bangun di Jakarta yang dulu kita kan punya masa dulu ya punya studio TV pendidikan dulu. Nah nanti kita pakai lagi studio itu, kita renov, kita perbaiki sesuai dengan kebutuhan untuk studio seperti yang disampaikan Pak Presiden tadi,” jelas Mu’ti.
Mu’ti mengatakan pembangunan studio terpusat di Jakarta akan dimulai tahun ini. Sementara itu, di daerah, pemerintah akan memanfaatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di setiap provinsi sebagai fasilitas pendukung.
“Sementara nanti kita bangun di Jakarta tahun ini. Yang di daerah kan sementara bisa nanti memanfaatkan UPT-UPT kami yang ada di setiap provinsi,” tuturnya.
Untuk tenaga pengajar, Mu’ti mengatakan pihaknya akan menggunakan guru-guru terbaik yang dimiliki pemerintah. Namun, apabila terdapat kebutuhan terhadap keahlian tertentu, pemerintah terbuka untuk bekerja sama dengan guru profesional maupun negara lain.
“Nah gurunya dari guru-guru terbaik yang kita miliki, tapi kalau memang diperlukan untuk keahlian tertentu bisa aja kita minta misalnya guru profesional yang nanti kita kerjasamakan dengan negara tertentu,” jelas dia.
Mu’ti memastikan program studio terpusat tersebut mulai diterapkan tahun ini.
“Kalau itu tahun ini. Yang studio-studio guru kita mulai tahun ini,” katanya.
Prabowo Targetkan Renovasi Sekolah Rampung 2029
Sebelumnya Prabowo menargetkan seluruh sekolah yang membutuhkan perbaikan dapat selesai direnovasi paling lambat pada 2029.
Prabowo menegaskan tidak boleh ada lagi sekolah yang mengalami kerusakan parah hingga mengancam keselamatan siswa.
“Kita akan menyelesaikan renovasi seluruh sekolah yang membutuhkan perbaikan paling lambat tahun 2029,” kata Prabowo dalam Pidato Nota Keuangan dan RAPBN dalam Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Prabowo mengatakan negara memiliki kewajiban memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan tempat belajar yang aman dan layak.
“Bagi saya, negara wajib memastikan setiap anak sekolah belajar di sekolah yang aman dan bermartabat. Sekolah adalah tempat anak-anak Indonesia membangun masa depan mereka,” katanya.
Ia menyadari masih banyak siswa yang harus belajar dalam kondisi sekolah yang memprihatinkan, mulai dari atap bocor atau runtuh, dinding retak, toilet rusak, hingga ruang kelas yang tidak aman.
