Mendiktisaintek Minta Kampus Tertibkan Senior yang Bikin Aturan Ospek Sendiri
·waktu baca 2 menit

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menegaskan pihaknya melarang berbagai bentuk perpeloncoan dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru di kampus.
Brian mengatakan akan kembali menerbitkan surat edaran menjelang penerimaan mahasiswa baru untuk mengingatkan pimpinan perguruan tinggi agar memastikan kegiatan pembinaan mahasiswa berjalan tanpa kekerasan maupun praktik perundungan.
Menurut Brian, pola kekerasan di kampus saat ini mulai mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi. Jika sebelumnya kekerasan lebih banyak terjadi secara fisik, kini bentuk-bentuk kekerasan banyak terjadi melalui media digital.
“Kami sampaikan bahwa memang kekerasan seksual dan kekerasan di kampus, mohon izin kami sampaikan, sebetulnya cukup ada perubahan pola. Karena mungkin perkembangan teknologi,” tutur Brian saat rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6).
“Jadi kalau dulu mungkin kekerasannya itu banyak kekerasan fisik langsung. Kalau sekarang memang kekerasannya bentuknya lewat digital. Nah ini yang akan kita coba antisipasi,” lanjutnya.
Selain mengantisipasi kekerasan berbasis digital, Brian menegaskan pihaknya juga terus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan orientasi mahasiswa baru yang berpotensi menimbulkan praktik perundungan.
Ia menyebut Kemendiktisaintek telah mengatur secara ketat pelaksanaan kegiatan pengenalan kampus, termasuk jam pelaksanaannya.
“Terkait dengan kekerasan bullying, kami juga sudah sangat tegas melarang adanya program ospek dan sejenisnya. Kami selalu ingatkan bahkan untuk bimbingan mahasiswa baru, paling pagi itu sudah kami atur tidak boleh lebih pagi dari jam 6.30 misalnya,” ungkapnya.
Menurut Brian, aturan tersebut dibuat untuk mencegah praktik-praktik yang selama ini kerap terjadi dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru.
“Karena yang dulu-dulu kami juga mendapatkan jam 5 harus sudah ke kampus. Itu sudah kita larang. Dan kita akan ingatkan betul,” tegas Brian.
“Nanti kita akan setiap penerimaan mahasiswa baru kita akan membuat surat edaran lagi mengingatkan kepada pimpinan perguruan tinggi untuk komitmen,” sambungnya.
Brian mengakui dalam sejumlah kasus, pihak kampus sebenarnya telah melarang berbagai bentuk aturan yang memberatkan mahasiswa baru. Namun, praktik tersebut terkadang tetap muncul dari senior-senior.
“Dan memang kadang kala dari perguruan tinggi sudah melarang tapi senior-seniornya membuat aturan tersendiri. Lalu kita akan minta kampus untuk bagian kemahasiswaannya bisa menangani atau mengontrol kondisi-kondisi seperti ini,” ungkap dia.
“Tapi memang kekerasan ini polanya sedikit berbeda. Jadi ada hal-hal yang modelnya berubah meskipun modusnya tetap sama, tetap kekerasan seksual tapi sekarang penggunaan digital dan sebagainya lebih dominan,” lanjut dia.
