Mendiktisaintek Sudah Koordinasi dengan UNY soal Skandal Riset Palsu

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) terkait kasus dugaan pemalsuan identitas dan riset oleh sejumlah WNI, termasuk alumni UNY dalam konferensi internasional di Kopenhagen, Denmark.

Brian mengatakan pihaknya langsung bergerak setelah menerima informasi mengenai kasus yang belakangan ramai menjadi sorotan publik tersebut. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membentuk tim khusus untuk melakukan penelusuran awal.

“Kaitannya dengan kasus dugaan pemalsuan identitas dan riset di konferensi internasional, ini yang sedang sangat ramai, kami juga begitu mendapatkan informasi ini, kami langsung membentuk tim dipimpin oleh Ibu Irjen. Kami juga sudah berkoordinasi dengan kampus UNY, kampus tempat lulus S1-nya dari yang terduga melakukan pelanggaran ini,” kata Brian saat rapat kerja dengan Komisi X di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6).

Menurut Brian, langkah awal yang dilakukan kementerian adalah memeriksa afiliasi para pihak yang diduga terlibat dalam kasus tersebut. Hasil penelusuran sementara menunjukkan sebagian besar terduga pelaku bukan dosen atau peneliti aktif di kampus.

“Kami memang pertama kali mengecek yang pertama adalah afiliasi dari pelaku, terduga pelaku ini. Kami mendapati bahwa ternyata hampir semuanya ya (bukan), hanya satu kalau nggak salah ya, yang itu memiliki afiliasi sebagai dosen atau peneliti di kampus Indonesia,” kata Brian.

Menurut Brian, jika seseorang berstatus dosen atau peneliti yang berada di bawah institusi pendidikan tinggi, kementerian memiliki mekanisme penegakan disiplin yang dapat dilakukan. Namun kondisi tersebut tidak berlaku apabila yang bersangkutan tidak memiliki afiliasi formal dengan perguruan tinggi.

“Artinya adalah ketika itu bukan dosen, kewenangan kami sebagai kementerian itu tidak masuk ke dalam ranah itu. Karena yang kami bisa lakukan adalah setelah kita menginvestigasi, kita dapati, kita melakukan sidang komisi etik dan disiplin,” ungkap Brian.

“Bisa jadi nanti dihentikan kepegawaiannya dan seterusnya, tetapi kalau itu karena bukan semuanya, sebagian besarnya bahkan bukan dosen dan bukan memiliki afiliasi formal di pendidikan tinggi, maka itu tidak dapat kami lakukan,” sambungnya.

Meski demikian, Brian menegaskan kementeriannya tidak berhenti melakukan pendalaman. Hingga saat ini, proses pengumpulan data dan informasi masih terus dilakukan untuk menentukan langkah lanjutan yang dapat ditempuh.

Ia mengungkapkan UNY juga telah mengambil langkah dengan memanggil sejumlah pihak yang diduga terlibat setelah berkoordinasi dengan Kemendiktisaintek.

“Meskipun begitu, kami terus-menerus melakukan pengumpulan data-data. UNY juga sudah mengundang, setelah berkoordinasi dengan kami, UNY juga telah mengundang langsung dari pelaku ini, ada empat orang yang diundang untuk ditanyai motif dan sebagainya,” tutur Brian.

Ilustrasi UNY. Foto: Isa Mulyadi/Shutterstock

Brian menambahkan, pihaknya saat ini masih mendalami berbagai aspek kasus tersebut, termasuk kemungkinan langkah hukum yang dapat diambil terhadap para terduga pelaku.

“Dan kami saat ini sedang terus-menerus mengumpulkan data-data apa yang nantinya bisa kita lakukan proses hukum terhadap terduga pelaku ini. Karena kami meyakini kalau tidak ada tindakan hukum, kami khawatir tidak memberikan efek jera,” pungkasnya.

Sebelumnya, dugaan skandal pemalsuan riset ini diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat di akun Instagramnya, Senin (25/5) lalu, dan viral di media sosial.

Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi merupakan peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi menemukan kejanggalan terhadap abstrak ilmiah yang disodorkan sekelompok periset tersebut dalam ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026.

ISPPD atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases merupakan forum ilmiah global utama di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokal. Forum ini mempertemukan ribuan ilmuwan, dokter, epidemiolog, dan peneliti kesehatan dari berbagai negara.

Menurut Dwi, sekelompok periset itu menyodorkan 19 abstrak yang dipamerkan dalam acara tersebut. Menurutnya, jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat. Terlebih, kata dia, abstrak tersebut tidak akurat dan mengandung fabrikasi data termasuk penggunaan artificial intelligence (AI).