Meneladani Hoegeng, Sosok Polisi Sejati yang Jujur dan Sederhana
·waktu baca 2 menit

Sosok mantan Kapolri almarhum Jenderal Hoegeng yang jujur dan sederhana sudah dikenal luas publik. Tak heran kala memperingati hari pahlawan, Karo Binkar SSDM Polri Brigjen Langgeng Purnomo menyinggung sosok Hoegeng.
"Kami jajaran Polri dengan penuh kerendahan hati memohon doa restu dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia, agar senantiasa diberi kekuatan dan keberanian untuk meneladani sosok Almarhum Jenderal Hoegeng," kata Langgeng dalam sambutannya di acara Konser “Bangga Merdeka untuk Indonesia Raya” yang dibarengi dengan Pameran Lukisan dan Foto Perjalanan Sejarah Kemerdekaan serta Kepahlawanan Polri dan Ulama/Santri di Surabaya, Minggu (9/11) malam.
Acara itu sendiri digelar Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTA-Indonesia) di Grand City Convention Surabaya sebagai refleksi kebangsaan dan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia.
Langgeng kemudian menambahkan, Hoegeng adalah sosok polisi sejati. Polisi yang lekat dengan kesedehanaan dan kejujuran.
"Dan berintegritas tinggi demi terwujudnya Polri yang benar-benar dicintai dan dipercaya masyarakat Indonesia," ujar dia.
Dalam sambutannya, Langgeng juga mengungkapkan peran ulama, santri, dan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan. Sebab, kemerdekaan adalah hasil kolektif termasuk para kiai dan santri di banyak pondok pesantren.
"Pesantren di era modern saat ini berperan penting dalam menjaga karakter dan moralitas bangsa," urai dia.
Sementara itu Ketua Umum PCTA Indonesia, I Dewa Nyoman S. Hartana, menyampaikan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan anugerah terbesar dari Tuhan Yang Maha Esa setelah berabad-abad lamanya rakyat hidup dalam penindasan kolonial.
“Kemerdekaan ini adalah karunia Allah yang harus disyukuri dan dijaga. Sejarah mencatat, bangsa ini mempertahankan kemerdekaan dengan segala daya upaya melalui perang, diplomasi dan persatuan rakyat dari berbagai lapisan,” ujar Dewa Nyoman dalam sambutannya.
Ia juga menegaskan bahwa semangat perjuangan rakyat, termasuk kaum petani, guru, santri dan para ulama, adalah kekuatan kolektif yang membawa Indonesia pada kemerdekaan sejati.
“Perjuangan dalah hasil gotong royong seluruh elemen bangsa. Dari para kyai, santri, TNI/Polri hingga masyarakat biasa, semua berjuang dengan caranya masing-masing,” tegasnya.
