Menengok Ritual Pernikahan Adat Solo Ala Putri Jokowi

Presiden Joko Widodo menikahkan anak keduanya, Kahiyang Ayu, dengan Bobby Nasution. Pernikahan yang digelar di Graha Saba Buana, Solo, ini menggunakan adat Jawa.
Untuk memahami lebih lanjut terkait perkawinan adat Jawa, kumparan (kumparan.com) mendatangi dukun manten --sebutan bagi perias pengantin adat Jawa yang masih mengikuti ritual, Dewi Sasongko, di kediamannya, di Jalan Talang, Jakarta Pusat, Rabu (8/11).
"Biasanya, pengantin akan puasa putih dulu 40 hari sebelumnya. Tapi kan kalau anak-anak sekarang, kan banyak yang kerja. Jadinya kondisi untuk mutih belum tentu bisa dilakukan," ujar Dewi membuka percakapan.

Untuk mengakalinya, Dewi biasanya menyarankan pengantin wanita untuk puasa senin-kamis sebanyak-bamyaknya atau puasa putih tiga hati sebelum acara siraman. Sehingga, saat acara siraman dilakukan, puasa putih sudah selesai.
Puasa putih sendiri maksudnya sang pengantin wanita hanya boleh mengonsumsi nasi putih dan air putih saja. Menurut Dewi, hal tersebut dipercaya bisa membuat 'pangling' para tamu dan mengurangi keringat saat prosesi pernikahan.
"Pertama, biasanya sebelum siraman akan diadakan pengajian terlebih dahulu. Baru kemudian ada pemasangan bleketepe oleh ayah dari pengantin perempuan sebelum acara siraman dimulai," tambah Dewi.

Bleketepe sendiri merupakan anyaman janur yang menjadi tanda adanya hajatan di keluarga tersebut. Dewi menjelaskan, pada zaman dahulu, belum ada tenda bagus seperti sekarang. Sehingga, untuk menandakan adanya hajatan, dipasanglah bleketepe di lokasi.
"Setelah pasang bleketepe, akan ada penyampuran air dari 7 sumber mata air yang sudah didoakan sebelum acara siraman. Air tersebut dicampur dalam gentong siraman. Maksud siraman sendiri adalah untuk membuang semua kotoran yang sebelumnya pernah ada. Kan mau menyambut hidup baru, jadi dibersihkan," jelasnya.
Malamnya, baru digelar ritual midodareni. Pengantin perempuan akan 'dipingit' di dalam kamar saat keluarga perempuan dari pengantin pria datang.
"Jadi keluarga besar manten pria itu dateng menyatakan kesiapan besok menikah. Sudah siap sekalian membawa tali kasih untuk seserahan," tambahnya.
Seserahannya harus berjumlah ganjil, namun bisa berupa berbagai macam benda seperti perlengkapan mandi, baju, tas, dan sepatu. Kemudian, dari pengantin wanita akan memberikan kembalian atau wangsul-wangsulan berupa makanan.
"Itu ada ketan kuning, ayam bekakak, terus jenang-jenangan. Maksudnya jenang itu kan ketan, ketan itu kan lengket. Maksudnya supaya mantennya terus berduaan dan rasanya kan manis, jadi supaya hidupnya juga manis," tutur Dewi.
Keesokannya, usai acara akad, kan dilanjutkan dengan upacara panggih atau temu manten. Pada zaman dahulu, kedua pengantin akan dipingit hingga acara akad selesai. Sehingga, keduanya baru bertemu saat sudah sah menjadi suami-istri.
"Jadi diawali dengan pasrah pisang sanggah. Pisang sanggah ini pisang raja yang dipake kertas kuning itu melambangkan permohonan apabila ada kekurangan dari pihak pengantin pria itu mau ngambil mantu. Jadi dilambangkan dengan pisang raja supaya kehidupan mereka nanti seperti raja, manis," tambahnya.
Setelah itu, dilanjutkan dengan ritual tukar menukar kembar mayang, atau rangkaian janur. Rangkaian janur milik mempelai wanita, sebenarnya sudah ada sejak upacara midodareni. Maknanya adalah sebagai penolak bala, dan tempat bidadari turun untuk mempercantik wajah pengantin wanita.
Dewi menjelaskan, dulu, kembar mayang milik pengantin wanita akan dibuang di perempatan jalan karena sudah diinapkan semalam. Namun, karena saat ini tidak boleh membuang di perempatan, akhirnya kembar mayang akan diletakkan di depan rumah.
"Nah, punya mempelai pria, ditaruh di pelaminan," kata Dewi.

Ritual dilanjutkan dengan balang-balangan sirih yang maknanya agar kedua mempelai saling menaruh cinta ke jantung hati pasangan sekuat-kuatnya. Masing-masing, akan melempar tiga kali.
"Lalu baru injak terlur. Manten prianya injak telur, manten putrinya membasuh kaki manten prianya. Itu maknanya sebagai pengabdian," jelasnya.
Setelah itu, dilanjutkan dengan sinduran. Ayah dari mempelai wanita akan berdiri di depan, kemudian kedua mempelai, lalu di belakangnya ibu dari mempelai wanita berdiri sambil merangkul keduanya dengan kain merah-putih.
"Bapak sebagai panutan akan membimbing anak-anaknya di garis depan dan ibu mendorong mereka jalan ke pelaminan dari tempat injak telur itu," tambahnya.
Sampai di pelaminan, ayah dari mempelai wanita akan duduk terlebih dahulu kemudan memangku kedua mempelai. Setelah itu, sang ibu akan bertanya, "berat yang mana?"
Sang ayah kemudian akan menjawab, "sama beratnya." Maksudnya, kasih saya dari orang tua mempelai akan sama beratnya karena keduanya sudah menjadi anak dalam keluarga tersebut.
"Setelah itu, mereka baru duduk di tempat yang sudah disiapkan, baru acara kacar-kucur. Kacar-kucur itu berupa beras kuning dengan uang logam. Maknanya sang suami berkewajiban menafkahi istrinya," ujarnya.
Kemudian, orangtua mempelai wanita akan meminum rujak degan, atau es kelapa muda dengan gula merah. Lalu sang ayah akan ditanya, bagaimana rasanya? Ia kemudian akan menjawab, "Enak, segar, untuk keberkahan semua."
"Juga deg-degannya hilang karena sudah mantu. Baru kemudian kedua mempelai saling suap-suapan," jelas Dewi.
Setelah suap-suapan, orang tua mempelai wanita akan turun dari pelaminan dan menjemput kedua orang tua mempelai pria. Kemudian kedua pasangan tersebut akan berjalan menuju pelaminan dan baru melaksanakan sungkeman.
"Memang kalau diceritakan, terkesan ribet. Tapi, kalau dilaksanakan, kira-kira sekitar 40 menit lah," tambahnya.
Meski saat ini resepsi pernikahan modern, namun pernikahan dengan adat daerah masih tetap dipertahankan. Meski, tentu saja, masih banyak yang menggunakan tanpa memahami makna dari ritual tersebut.
