Menengok Rumah Raya di Sukabumi: Balita yang Tewas Tubuhnya Penuh Cacing
·waktu baca 2 menit

Di halaman rumah sederhana itu, sebuah sepeda kecil tergeletak miring. Tak jauh darinya, sebuah mobil-mobilan biru sudah berdebu, seakan lama tak tersentuh tangan mungil yang dulu kerap memainkannya.
Di samping rumah, ayam berlarian bebas, sesekali masuk ke kolong rumah semi panggung yang kini kosong.
Itulah rumah mendiang Raya (4 tahun), bocah yang meninggal akibat cacingan akut. Rumah itu berdiri di Dusun Lemahduhur, Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Sukabumi.
Dari luar, rumah tersebut tampak sunyi, namun menyimpan kisah getir tentang kehidupan keluarga kecil yang tinggal di dalamnya.
Akses Jalan Sulit, Diapit Kandang Domba
Untuk sampai ke rumah ini, kumparan harus menempuh jalan berbatu yang belum sepenuhnya beraspal. Motor diparkir di pinggir jalan, perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki.
Di sepanjang jalan, kandang-kandang domba berjajar, bau khasnya menusuk hidung. Warga sekitar memang banyak yang menggantungkan hidup dari beternak domba.
“Memang mayoritas warga ada kandang buat ternak domba, itu juga bukan punya warga biasanya nanti kalau sudah dijual dibagi dua,” ujar Kepala Dusun, Minggu (17/8).
Semi Panggung, Ada Kandang Ayam di Sampingnya
Rumah Raya berdiri di pertebingan. Tepat di depannya, ada kandang domba, sementara di sisi rumah berdiri kandang ayam sederhana dari kayu.
Sesekali, ayam-ayam berkokok sambil berlarian masuk ke kolong rumah, menyisakan kotoran di tanah lembap. Dari tempat inilah, Raya diduga terpapar larva cacing gelang saat bermain.
Dari depan, rumah ini tampak sangat sederhana dengan dinding gipsum dan atap asbes. Beberapa bagian rumah sudah pernah diperbaiki. Kepala Dusun menyebut rumah itu sempat mendapat bantuan.
“Iya, dari gotong-royong warga sama kades. Digerakkan oleh kepala desa, ada yang nyumbang paku dan lain-lain,” jelasnya.
Namun, sebelum itu, rumah ini lebih sederhana lagi.
“Dulunya ini bikin, dindingnya anyaman bambu,” sambungnya.
Kini rumah itu berdiri di atas pondasi batu dan tiang penyangga. Lantainya dari papan kayu, dengan dua kamar kecil. Di bagian belakang, dapurnya masih memakai kayu bakar untuk memasak.
Tak Punya Kamar Mandi
Diketahui juga rumah Raya tidak memiliki kamar mandi, sehari-hari Raya mandi di empang yang berada di seberang area bawah rumahnya.
Kesederhanaan rumah ini memperlihatkan keterbatasan keluarga Raya dalam membangun tempat tinggal yang sehat dan layak.
Meski Raya telah tiada, jejaknya masih terasa kuat di sekitar rumah. Mainan anak-anaknya masih tergeletak di tanah. Sebuah sandal merah kecil tampak di depan pintu rumah, dekat dengan ayam yang hilir mudik di bawah kolong.
