Mengagumi Al-Quran yang Dirajut Tangan Selama 30 Tahun di Madinah

Kecintaan seseorang kepada agamanya bisa ditunjukkan dalam berbagai bentuk, selain ibadah yang rajin ada juga pengorbanan. Pengorbanannya bisa apa saja, mulai dari tenaga, harta, waktu, hingga nyawa. Seperti seorang Muslimah di Pakistan yang rela menghabiskan puluhan tahun merajut Al-Quran dengan tangan.
Alquran yang setiap hurufnya dijalin dengan benang ini terpajang rapi di dalam kotak kaca Museum Pameran Kitab Suci Al-Quran di Madinah, Arab Saudi. Satu per satu hurufnya dirajut dengan benang hitam di atas kertas kain oleh Nasim Akhtar, seorang wanita asal Pakistan.
Menurut pemandu museum tersebut, Arya Bima, Al-Quran yang dijilid menjadi empat bagian itu mulai dirajut Akhtar pada 1987 ketika usianya baru 30 tahun. Al-Quran itu baru rampung seluruhnya dirajut ketika Akhtar berusia 62 tahun, lebih dari 30 tahun lamanya.
"Al-Quran ini dibuat menggunakan kain sepanjang 300 meter dengan benang sepanjang 25.000 meter," kata Arya kepada tim Media Center Haji yang mengunjungi museum tersebut beberapa waktu lalu.
Jika dilihat dari jauh, seseorang tidak akan mengira Al-Quran itu dirajut dengan benang. Tapi jika diperhatikan dengan seksama dan lebih dekat, terlihat betapa ketelatenan Akhtar menghasilkan sebuah karya yang indah dan sangat detail.
Tidak hanya dengan keahlian, Akhtar mengerjakannya dengan ketulusan hati. Dia merajutnya setiap sepertiga malam terakhir dan berwudu terlebih dulu, kata Arya. Selain itu, Akhtar tidak menjual hasil karyanya itu kepada siapapun walau sudah ditawar dengan harga tinggi.
"Ibu ini sangat tulus dalam menulisnya. Karyanya ingin dibeli miliaran rupiah, namun ditolaknya, dia akhirnya mewakafkannya secara gratis," kata Arya.
Karya Akhtar kini bisa dikagumi oleh jutaan orang dari seluruh dunia yang mendatangi Museum Kitab Suci Al-Quran di Madinah. Terletak di dekat pintu 5 Masjid Nabawi, museum ini memuat berbagai Al-Quran kuno dari abad lampau.
Di antaranya adalah manuskrip asli tulisan tahun yang berusia hingga ratusan tahun. Selain manuskrip asli, ada juga salinan Al-Quran paling kuno yang ditulis di zaman kekhalifahan Utsman bin Affan.
"Yang aslinya ada di Istana Topkapi, Istanbul," kata Arya.
Al-Quran dalam cetakan unik, dari yang terbesar hingga terkecil juga ada di museum ini. Ada juga Al-Quran tertipis memuat hanya 30 halaman dengan satu juz per halamannya.
Berbagai koleksi berharga ini disimpan dalam kotak kaca bertemperatur dan bercahaya khusus demi menjaga kelestariannya.
Terdapat juga potongan kiswah atau kain penutup Kakbah di Mekkah, terpajang di pigura besar usai pintu masuk museum. "Kiswah Kakbah dibuat pertama kali 140 tahun lalu oleh Abdullah Zurdi dari Mesir. Kini setiap tahun diganti saat jemaah haji wukuf di Arafah. Kiswah lalu dibagikan ke negara-negara Islam, salah satunya Indonesia," kata dia.
Dengan melihat berbagai manuskrip Al-Quran dari awal penulisannya di masa Utsman lebih dari 1.400 tahun lalu, berbagai masa kekhalifahan, hingga saat ini, kita mengetahui bahwa tidak ada perubahan satu huruf pun dalam kitab suci umat Islam tersebut. Artinya, kemurnian Al-Quran masih terus terjaga.
Arya mengatakan, pengetahuan yang diperoleh pengunjung dari museum ini diharapkan bisa semakin menimbulkan kecintaan umat Islam terhadap Al-Quran.
"Museum ini didirikan agar Muslim semakin mencintai Al-Quran, mau berinteraksi dan semakin mengamalkan Al-Quran. Karena pahalanya besar sekali jika kita bisa membaca dan mengamalkan isinya," kata dia.
