Mengapa Dubes Norwegia Selingkuhi Wanita Indonesia Jadi Polemik?

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Stig Ingemar Traavik (Foto: Human Rights Resource Centre/Youtube)
zoom-in-whitePerbesar
Stig Ingemar Traavik (Foto: Human Rights Resource Centre/Youtube)

Perjalanan cinta terlarang mantan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik dengan tiga wanita Indonesia menjadi polemik di negara asalnya. Kebanyakan mempertanyakan mengapa kasus ini tidak masuk ke ranah hukum karena kisah asmara ini berpotensi merugikan negara hingga senilai miliaran rupiah.

Traavik telah mengakui seluruh perbuatannya dan meminta maaf. Kasusnya diungkap oleh media Norwegia Vergen Gang (VG) pada Mei lalu. Dalam laporannya, VG mengatakan Traavik dipanggil pulang pada Desember 2016 karena selingkuh dengan tiga wanita Indonesia. Yang membongkarnya adalah suami salah satu wanita itu.

Kasus ini berpotensi merugikan negara karena salah satu wanita yang diselingkuhi Traavik adalah anggota LSM kebudayaan yang mendapatkan dana hibah Norwegia hingga lebih dari Rp 5 miliar. Menurut VG, dana ini cair atas bantuan dan rekomendasi dari Traavik.

Dua wanita selingkuhan Traavik lainnya disebut adalah para pengusaha papan atas. Tidak diketahui nama-nama mereka.

Stig Ingemar Traavik dan Istri (Foto: Pinterest)
zoom-in-whitePerbesar
Stig Ingemar Traavik dan Istri (Foto: Pinterest)

Menurut situs berita Norwegia, newsinenglish.no, kasus ini menjadi polemik karena perselingkuhan Traavik yang berpotensi merugikan uang negara tidak diselidiki oleh polisi.

Jaksa penyidik Norwegia, Jorn Maurud, kepada VG mengaku membatalkan penyelidikan atas Traavik setelah berbicara dengan Kemlu di Oslo. Kasus yang dijuluki "Kasus Dubes" itu dianggap "masalah pribadi".

Staf Kementerian Luar Negeri Norwegia, tulis newsinenglish.no, galau karena Traavik seakan jadi anak emas dan bisa lolos dengan mudah, berbeda dengan diplomat lainnya dalam kasus serupa.

Traavik memang dicabut titel "duta besar"-nya, namun dia dapat posisi baru, yaitu "penasihat senior". Dia bahkan terpilih untuk mendampingi Perdana Menteri Erna Solberg dan Menteri Luar Negeri Borge Brende dalam kunjungan kenegaraan ke China April lalu.

Bukan sekadar selingkuh

Perselingkuhan sejatinya memang permasalahan pribadi antar dua individu, negara sebaiknya tidak ikut campur. Namun menurut profesor di University of Oslo, Jan Fridthjof Bernt, perselingkuhan menjadi urusan publik jika melibatkan uang negara yang dihamburkan di dalamnya.

"Jika hubungan pribadi punya konsekuensi pada pelayanan publik, maka itu bukan lagi masalah pribadi," kata Bernt kepada VG.

Stig Ingemar Traavik (kiri) (Foto: UNDP Norway/Twitter)
zoom-in-whitePerbesar
Stig Ingemar Traavik (kiri) (Foto: UNDP Norway/Twitter)

Ahli hukum Norwegia, Professor Jon Petter Rui dari University of Bergen, setuju pada Bernt.

"Menurut saya ini lebih dari masalah pribadi. Kasus ini memicu pertanyaan soal penggunaan dana publik untuk mendanai proyek di luar negeri," kata Rui.

Hal ini juga menjadi perhatian utama media Norwegia Dagsavisen dalam tajuk utamanya Juni lalu. Menurut editorial koran itu, pemerintah harus lebih transparan dalam kasus duta besar.

Koran ini menganggap perselingkuhan membuat Traavik "menempatkan dirinya di posisi rentan pemerasan dan penyuapan, secara emosi tidak mampu membuat keputusan yang tepat atau memberi informasi."

"Jika Anda dalam posisi yang berpengaruh, jangan berharap siapa yang Anda tiduri hanya jadi urusan Anda sendiri," tulis editorial Dagsavisen.