Mengapa Elektabilitas Anies Stagnan di Bawah Ganjar dan Prabowo?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
Bacapres dari Koalisi Perubahan, Anies Baswedan, bertemu dengan Tim Kecil Koalisi Perubahan di Brawijaya, Jakarta Selatan, Jumat (5/5/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Bacapres dari Koalisi Perubahan, Anies Baswedan, bertemu dengan Tim Kecil Koalisi Perubahan di Brawijaya, Jakarta Selatan, Jumat (5/5/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Bakal calon presiden Anies Baswedan berada di posisi ketiga dalam beberapa survei terahir. Teranyar survei Litbang Kompas yang merilis elektabilitas mantan Gubernur DKI itu hanya 13,6%.

Dalam tren di Litbang Kompas, persentase elektabilitas Anies memang sempat naik-turun, namun sejak Oktober 2021 hingga Mei 2023 ia selalu berada di bawah capres Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, membeberkan alasannya. Menurut Adi, selama 20 bulan terakhir Anies sudah kehilangan momentumnya sebagai figur oplosan.

"Telat panas karena baru-baru ini saja lantang menyalak ke pemerintah. Mestinya itu dilakukan tahun lalu sejak dideklarasikan maju Pilpres NasDem," kata Adi kepada kumparan, Rabu (24/5).

Elektabilitas 3 bakal capres pada survei Mei 2023. Foto: Litbang Kompas

NasDem, yang masuk dalam koalisi pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin, resmi mengumumkan mengusung Anies Baswedan di Pilpres 2024 dalam deklarasi Oktober 2022 lalu.

Kemudian pada Januari 2023, PKS dan Partai Demokrat bergabung dan ketiganya membentuk Koalisi Perubahan untuk Persatuan.

Selain itu, kata Adi, segmentasi pemilih Anies masih sangat terbatas. Pemilihnya didominasi oleh kalangan yang marah dan benci pemerintah, sementara di sisi lain, tingkat kepercayaan kepada pemerintahan Jokowi masih sangat tinggi.

Survei capres versi Charta Politika. Foto: Charta Politika
Survei capres versi SMRC. Foto: SMRC

"Itu artinya, semakin publik puas terhadap kinerja Jokowi maka semakin sempit ceruk pemilih Anies. Sebaliknya, jika kepuasan terhadap pemerintah turun drastis, ceruk pemilih Anies akan bertambah signifikan," tutupnya.

Prabowo Naik, Ganjar Turun, Anies Stagnan

Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto. Foto: AFP dan Pemprov Jawa Tengah dan DKI Jakarta

Dalam survei Litbang Kompas yang dirilis Rabu (24/5), Prabowo Subianto menempati urutan pertama dengan perolehan 24,5%, disusul Ganjar Pranowo dengan 22,8%, dan Anies Baswedan dengan 13,6%. Elektabilitas Prabowo ini melonjak 6,4% jika dibandingkan survei Litbang Kompas pada Januari 2023.

Di sisi lain, elektabilitas Ganjar turun 2,5% karena imbas pernyataannya yang menolak timnas Israel main di Piala Dunia U-20 yang berakhir dengan kegagalan Indonesia jadi tuan rumah. Sedangkan elektabilitas Anies relatif stagnan karena hanya meningkat 0,5% saja.

Survei Litbang Kompas yang digelar pada 29 April-10 Mei 2023 ini diikuti 1.200 responden yang dipilih secara acak. Tingkat kepercayaan survei ini adalah 95% dengan margin of error 2,83%.

Sebelumnya, Anies tak ambil pusing dengan survei yang menempatkannya berada di urutan 3. Sebab, pada Pilgub DKI Anies juga tidak pernah dijagokan survei, tapi menang.

“Saya sering dapat pertanyaan survei itu dan saya ingat Pilkada Jakarta Kami tidak pernah nomor satu, hasilnya..,” kata Anies dalam acara relawan Amanat Nasional (ANIES), di Jakarta pada Minggu (7/5).

“Bahkan seminggu sebelum Pilkada kami ditempatkan nomor 3, Kami sudah terbiasa di tempatkan nomor 3,” sambung Anies.