Mengapa Kelompok Seperti Saracen Bisa Hidup di Indonesia?

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sri Rahayu, Faisal Tanong, Jasriadi (Saracen) (Foto: dok Humas Mabes Polri)
zoom-in-whitePerbesar
Sri Rahayu, Faisal Tanong, Jasriadi (Saracen) (Foto: dok Humas Mabes Polri)

Bisnis fitnah model a la Saracen ternyata laku. Buktinya kelompok Saracen yang menyebarkan berita hoax, SARA, dan fitnah, sejak 2015 bisa terus hidup sampai sekarang. Memang akhirnya, pada Agustus 2017 ini, kelompok Saracen ditangkap polisi.

Tapi dari pengungkapan kasus Saracen itu, ada fakta yang mengejutkan. Di negara seperti Indonesia, bisnis fitnah laris manis. Mengapa bisa?

Hendardi, yang juga Ketua SETARA Institute memberikan jawaban. Menurut dia, pengungkapan sindikat penyedia jasa konten kebencian oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Polri ini, mengafirmasi bahwa meningkatnya turbulensi kebencian atas sesama dalam dinamika sosial politik setahun terakhir ini adalah by design.

"Situasi sosial yang rentan, kelompok intoleran yang eksis dan berpengaruh, hasrat berkuasa dengan menggunakan segala cara, membuat kelompok Saracen mendapatkan ceruk pasar yang luas," beber Hendardi dalam keterangannya kepada kumparan (kumparan.com), Senin (28/8).

Menurut Hendardi, 'pekerjaan' kelompok Saracen merupakan kejahatan serius karena implikasi yang ditimbulkan dari konten kebencian adalah ketegangan sosial, konflik, diskriminasi, xenophobia dan kekerasan.

Situs Saracen. (Foto: saracennews.com)
zoom-in-whitePerbesar
Situs Saracen. (Foto: saracennews.com)

"Bahkan pertemuan kelompok ini dengan para avonturir politik yang berkeliaran di republik ini, jika dibiarkan, bisa mengarah pada genosida," imbuh dia.

Dia mengungkapkan, keberhasilan Direktorat Siber, sebuah direktorat baru yang dibentuk pada Maret 2017, diharapkan dapat berkontribusi mengurangi dan terus mencegah konten-konten kebencian di masa depan. Saracen menerima proyek Rp 72 juta per proposal. 'Pemakai' kelompok ini dari berbagai kalangan.

"Pencegahan konten kebencian bukan hanya untuk mendukung pelaksanaan agenda-agenda politik elektoral pada musim Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, tetapi yang utama ditujukan untuk pencegahan kebencian, diskriminasi dan kekerasan," beber dia.

Meskipun demikian, pengungkapan Saracen hanyalah salah satu cara yang diharapkan mampu memulihkan ruang publik kita yang lebih toleran. Hal utama lain yang harus dilakukan adalah menghadirkan teladan elite, membangun kebijakan yang kondusif bagi promosi toleransi dan keberagaman, serta penegakan hukum yang adil atas setiap praktik intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan yang berpusat pada kebencian atas dasar apapun

Grup Saracen berhasil diringkus (Foto: polri.go.id)
zoom-in-whitePerbesar
Grup Saracen berhasil diringkus (Foto: polri.go.id)