Mengapa Siklon Tropis yang Picu Banjir Bandang di NTT Dinamai Seroja?

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Banjir bandang melanda wilayah Waiwerang dan sekitarnya di Kecamatan Adonara Timur, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT. Foto: Alfons Rianghepat/HO/ANTARA
zoom-in-whitePerbesar
Banjir bandang melanda wilayah Waiwerang dan sekitarnya di Kecamatan Adonara Timur, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT. Foto: Alfons Rianghepat/HO/ANTARA

Siklon tropis atau badai berkekuatan besar memicu cuaca buruk yang berakibat banjir bandang di NTT. Sedikitnya 54 orang tewas. Siklon tropis itu diberi nama Seroja.

Nama Seroja, tumbuhan air yang biasa disebut lotus (Sacred lotus), diberikan oleh BMKG yang juga berperan sebagai Jakarta Tropical Cyclone Warning Center (TCWC).

Dikutip dari situs BMKG, Jakarta TCWC bertugas memantau bibit siklon tropis di area kerjanya, yaitu di koordinat 90° - 125° BT, 0° - 10° LS dan menginformasikan peringatan dini.

Jakarta TCWC adalah satu dari 10 zona yang berwenang memberikan nama badai sebagaimana yang diatur oleh Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meterorological Organization (WMO). Jakarta TCWC berwenang memberikan nama pada badai yang bibitnya terlihat di perairan Indonesia.

Siklon Tropis Seroja yang memicu musibah banjir dan longsor di NTT. Foto: BMKG

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati pada Minggu (4/4) sekitar pukul 23.00 WIB mengadakan jumpa pers virtual mendadak terkait potensi cuaca ekstrem di NTT dan sekitarnya. Cuaca ekstrem ini berpotensi datang akibat berubahnya bibit siklon tropis 99S menjadi siklon tropis Seroja pada pukul 01.00 WIB (Senin, 5/4/2021).

Mengingat bahwa sistem sikon tropis tersebut masih berada di wilayah tanggung jawab Jakarta TCWC, maka nama siklon tropis yang akan diberikan adalah Seroja sesuai dengan urutan nama siklon tropis dari BMKG secara internasional.

-Kepala BMKG Dwikorita

Sebagai anggota WMO yang berwenang memberi nama siklon tropis sejak 2008, Jakarta TCWC telah mendaftarkan nama-nama siklon tropis yang terjadi di wilayah kerjanya.

Indonesia pernah mendaftarkan nama Durga, tokoh pewayangan, tapi kemudian menggantinya dengan nama-nama buah dan bunga. Penggunaan buah dan bunga, selain lebih familier, juga karena tidak berefek menyeramkan.

Nama Bunga: Anggrek hingga Teratai

Nah, daftar nama siklon tropis yang telah disetorkan Jakarta TCWC dari unsur bunga adalah Anggrek, Bakung, Cempaka, Dahlia, Flamboyan, Kenanga, Lili, Mangga, Seroja, dan Teratai. Penamaan secara alfabetikal itu tentu dengan melewati prosedur yang ditentukan WMO.

Sesuai pernyataan Dwikorita, nama-nama tersebut dipakai berurutan. Terakhir kali, siklon tropis yang terjadi di Indonesia adalah Mangga pada 21 Mei 2020.

Pantauan BMKG terhadap Siklon Tropis Mangga. Foto: Dok. BMKG

Setelah Mangga setahun berlalu, tumbuhlah bibit siklon tropis 99S di Laut Sawu, NTT, pada 2 April 2021. Pada 5 April 2021, bibit siklon itu berubah menjadi siklon sehingga resmi dinamakan dengan nama urutan selanjutnya, yaitu Seroja.

Jikalau nanti ada siklon tropis lagi di Indonesia, nama yang akan dipakai adalah urutan berikutnya, yaitu Teratai.

Siklon Tropis Lili. Foto: BMKG

Nama Buah Menanti: Anggur hingga Sawo

Jika sebuah badai berdampak mematikan, maka nama badai itu akan dipensiunkan. Jakarta TCWC BMKG telah memiliki nama cadangan sebagai pengganti dan juga digunakan untuk nama-nama siklon selanjutnya.

Nama-nama tersebut dari unsur buah, yaitu Anggur, Belimbing, Duku, Jambu, Lengkeng, Melati, Nangka, Pisang, Rambutan, dan Sawo.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memberikan keterangan pers di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Kamis (31/10). Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan

Sedikitnya 54 Orang Tewas

Dalam jumpa pers semalam, Dwikorita mengingatkan tentang bahaya berubahnya bibit siklon tropis 99S menjadi siklon Seroja.

“Bibit siklon saja sudah menimbulkan bencana, maka jika benar-benar menjadi siklon dikhawatirkan akan meningkatkan risikonya,” tegas Dwikorita.

kumparan post embed

Data terbaru, hujan sangat deras di Flores Timur, NTT, menyebabkan banjir bandang dan menyebabkan 54 orang tewas. Presiden Jokowi menyampaikan belasungkawa dan memerintahkan jajarannya bertindak cepat.

"Saya telah memerintahkan kepada Kepala BNPB, Kepala Basarnas, Menteri Sosial, Menteri Kesehatan, dan Menteri PUPR, serta Panglima TNI dan Kapolri untuk melakukan secara cepat evakuasi dan penanganan korban bencana serta penanganan dampak bencana," ucap Jokowi dalam siaran pers, Senin (5/4).

kumparan post embed