kumparan
News4 Agustus 2017 16:04

Mengapa Siti yang Dinyatakan Hilang Bisa Bertahan 4 Hari di Rinjani?

Konten Redaksi kumparan
Siti mendapatkan perawatan
Siti mendapatkan perawatan (Foto: Dokumentasi Backpacker Jakarta)
Pendaki asal Jakarta, Siti Maryam (29), sempat hilang selama 4 hari 3 malam di Gunung Rinjani, Lombok. Dia ditemukan selamat, meski hanya berbekal permen dan madu selama masa survival.
ADVERTISEMENT
Hilangnya Siti bermula saat ia meminta izin kepada teman-temannya untuk buang hajat pada Minggu (30/7) sekitar pukul 10.00 Wita, dalam perjalanan turun dari puncak. Kala itu mereka tiba di sekitar letter S, yang areanya berpasir dan dikelilingi tebing.
Siti menyadari dirinya tersesat, dan saat akan kembali, dia melihat lapangan luas. Siti lalu menuju lapangan itu, dan mengurungkan niat untuk naik ke atas.
Sementara dalam kondisi sebenarnya, tidak ada lapangan luas di area berpasir menuju puncak Rinjani, melalui jalur mana pun. Kondisi medan berpasir, miring, dan dikelilingi tebing yang kokoh dan terjal.
Menurut pakar survival dari Wanadri, Soni Takari alias Kang Oz, apa yang dialami Siti sangat mungkin terjadi. Menurutnya, manusia sangat mungkin tersesat ketika masuk ke semak-semak atau hamparan pasir yang luas, kecuali meninggalkan tanda. Apalagi dia bergerak seorang diri.
ADVERTISEMENT
"Dia disorientasi, itu wajar. Apalagi pasir kan mudah bergerak, jejak dia tersapu," ujar Kang Oz saat berbincang dengan kumparan (kumparan.com), Jumat (4/8).
Namun Kang Oz mengapresiasi semangat Siti untuk tetap bertahan hidup. Hanya berbekal permen dan dua sachet madu yang ada di kantongnya, bergerak seorang diri di lembahan, tanpa sepatu, tanpa jaket, Siti tetap bisa hidup hingga bertemu penggembala sapi.
"Secara logika, seharusnya dia sudah kena hypothermia. Tapi semangat hidupnya yang tinggi, bisa mengendalikan dirinya untuk tetap bergerak mencari jalan keluar," kata pria yang sudah puluhan tahun malang melintang dalam dunia kepecintaalaman ini.
Siti sudah sehat
Siti sudah pulih. (Foto: Dokumentasi Backpacker Jakarta)
Dalam teori survival, seseorang mampu bertahan hidup tanpa minum maksimal 3 hari, sementara tanpa makan, maksimal 3 minggu. Namun sangat tidak disarankan bertahan di lembahan, karena lembah cenderung curam, berkabut, licin, banyak binatang buas, sulit ditemukan, suara kita cenderung tidak terdengar oleh teman lain, dan sebagainya. Disarankan jika tersesat, hanya menuju lembah untuk mencari air, lalu kembali ke atas.
ADVERTISEMENT
Namun dalam kasus Siti, dia justru tersesat saat kembali ke atas. Namun menurut Kang Oz, mungkin dia mendapatkan sumber air untuk menambah energinya dan mampu terus bergerak mencari jalan keluar.
"Kunci utama survival adalah keinginan untuk bertahan hidup. Itu 80 persen faktor yang membuat seorang survivor tetap selamat," tuturnya.
Keputusan Siti untuk meninggalkan sepatu dan jaket sebagai jejak, menurut Kang Oz, adalah salah satu hal yang menunjukkan bahwa keinginannya untuk bertahan hidup tinggi. Namun dia menyarankan, sebaiknya jika mengalami hal seperti Siti, jangan menggunakan sepatu dan jaket sebagai penanda. Gunakan penanda lain, misalnya menyobek bagian tertentu dari jaket, atau memotong sebagian tali sepatu. Sebab di gunung, sepatu dan jaket termasuk salah satu alat vital untuk menghindari hypothermia.
ADVERTISEMENT
Dalam masa hilang selama 4 hari, Siti mengaku melihat makhluk berwarna hitam yang membuatnya takut. Kang Oz pun menilai hal ini wajar.
"Pada saat sendiri, apa yang kita takutkan, bisa jadi tergambarkan. Cobalah diam di dekat air, kita bisa mendengar seolah-olah ada orang mengobrol. Jadi itu (makhluk berwarna hitam) sangat mungkin terlihat oleh dia. Bisa juga halusinasi, karena dehidrasi dan kelelahan sangat tinggi, serta ketakutan," ujarnya.
Kang Oz mengucapkan selamat karena Siti ditemukan dalam kondisi cukup baik, meskipun fisiknya saat itu lemah. Siti merupakan satu di antara kisah-kisah survivor yang selamat karena keinginannya untuk bertahan hidup begitu tinggi.
Kang Oz menyarankan kepada seluruh penggiat alam bebas, untuk lebih berhati-hati. Memahami materi dasar seperti manajemen perjalanan, navigasi darat dan survival, merupakan salah satu modal penting dalam mendaki gunung. Sebab berkegiatan di alam bebas bukan untuk gagah-gagahan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan