Mengapa Turun Hujan Deras di Jakarta padahal Musim Kemarau?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengendara melintasi banjir setinggi hingga 40 cm akibat luapan Kali Keungan, Pasanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu (6/7/2024). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengendara melintasi banjir setinggi hingga 40 cm akibat luapan Kali Keungan, Pasanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu (6/7/2024). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Pada hari Sabtu (6/7) Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan ekstrem, sejak pagi hingga sore. Puluhan RT terendam banjir, bahkan turap di tol JORR Bintaro jebol.

Publik pun bertanya. Bukankah di Jakarta seharusnya di bulan Juni-Juli masih di musim kemarau?

Terkait ini, BMKG punya penjelasan. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menyebut, hal ini memang cukup unik.

Pengendara melintasi banjir setinggi hingga 40 cm akibat luapan Kali Keuangan, Pasanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu (6/7/2024). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

"Di Juni-Juli-Agustus di Jawa biasanya kemarau, kok, tiba-tiba ada hujan? Jadi, kalau seandainya tidak ada gangguan atmosfer 30 - 60 hari, yakni Madden Julian Oscillation, maka tidak terjadi hujan," kata Guswanto dalam jumpa pers virtual, Senin (8/7).

Madden Julian Oscillation merupakan aktivitas intraseasonal yang terjadi di wilayah tropis. Ia dapat dikenali berupa pergerakan aktivitas konveksi yang bergerak ke arah timur dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik yang biasanya muncul setiap 30 sampai 40 hari.

"Kemudian karena terjadi hujan Madden Julian Oscillation di fase III, IV, V, VI, kita masuk fase IV, V, VI. Fase III itu di posisi Samudra Hindia lalu masuk ke barat Indonesia lalu ke timur," kata Guswanto.

Kondisi tanggul tol JORR yang longsor di kawasan Bintaro, Jakarta, Sabtu (6/7/2024) bersamaan hujan deras. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

"Arak-arakan fenomena awan hujan dari Samudra Hindia masuk indonesia bagian barat ke timur. Dampaknya akan membawa curah hujan yang dilaluinya," tutur dia.

Namun, menurut Guswanto, hal ini akan kembali normal seiring berkurangnya gangguan di atmosfer tersebut.

Saat ini kita lihat Jakarta, Banten, sudah mulai cerah. Dan ini akan menurun terus kembali ke sifat aslinya bahwa wilayah Jawa Barat Banten, Bali, NTT, NTB itu musim kemarau," tutup Guswanto.