Mengayuh Becak Sambil Menggendong Balita, Perjuangan Widya Astutik Mengais Rezeki di Tuban

Pagi belum sepenuhnya beranjak ketika Widya Astutik mulai mengayuh becaknya. Di antara lalu lalang peziarah Sunan Bonang, perempuan berusia 25 tahun itu berusaha mencari penumpang demi menyambung hidup keluarganya.
Namun, ada pemandangan yang membuat perjuangannya berbeda dari pengayuh becak lainnya. Di tengah aktivitas mencari nafkah, Widya terkadang harus menggendong putra bungsunya.
Pemandangan ibu muda yang mengayuh becak sambil membawa balita itu belakangan viral di media sosial. Video itu menyita perhatian netizen. Memunculkan beragam respons. Ada yang bersimpati, tapi tak sedikit pula yang mempertanyakan teganya membawa anak bekerja.
Bagi ibu dua anak tersebut, keputusan itu tidak sederhana. Ia bukan tak memahami risikonya, atau bahkan pandangan buruk orang lain. Di tengah keterbatasan, pilihan yang ada baginya tidak selalu mudah.
“Memang tidak ada orang di rumah. Ada yang ngomong kok tega, daripada saya telantarkan tidak ada yang jaga,” ungkapnya ditemui di kediamannya, Rabu (4/11).
Perempuan asal Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, itu mengaku baru mengetahui dirinya dan putra bungsunya menjadi perbincangan di media sosial sehari sebelumnya.
Pada Selasa (3/11/2026), seorang teman menghubunginya melalui WhatsApp. Dari percakapan itu, Widya baru mengetahui bahwa aktivitasnya mengayuh becak bersama anaknya telah tersebar luas.
“(Tahunya) setelah di WA teman. Anakmu viral itu loh. Tapi beneran gak tau siapa yang video,” ujarnya.
Widya mengaku tak mengetahui siapa yang merekam aktivitasnya. Ia juga bukan orang yang terbiasa mengutak-atik smartphone. Sehari-hari, perhatiannya lebih banyak tersita untuk mencari penumpang dan mengurus anak-anaknya.
Mengayuh becak bukan pekerjaan baru bagi perempuan berambut lurus itu. Sejak 2022, ia sudah berusaha mengais rezeki dari para peziarah yang datang ke kawasan Sunan Bonang.
Sebelum menjadi pengayuh becak, Widya pernah mengamen. Ia juga pernah meminta belas kasihan kepada orang-orang yang melintas di sekitar Alun-Alun Tuban.
Pekerjaan itu dijalaninya demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagai ibu dari dua anak, Widya harus membagi waktu antara mencari nafkah dan mengasuh dua buah hatinya.
Persoalan pengasuhan menjadi salah satu alasan utama ia membawa putra bungsunya ketika bekerja. Sedangkan yang sulung sudah menginjakkan sekolah TK, sehingga ia tidak begitu khawatir.
Suaminya bekerja sebagai nelayan. Pekerjaan itu membuat sang suami tidak selalu bisa berada di rumah. Sekali miyang atau melaut mencari ikan, ia bisa meninggalkan keluarga selama 14 hingga 20 hari.
Penghasilan dari melaut pun tidak menentu. Semuanya bergantung pada musim dan hasil tangkapan.
“Tergantung musim, kadang sekali pulang bisa dapat Rp 2 juta, paling banyak kalau musim cumi-cumi itu Rp 5 juta,” bebernya.
Pendapatan tersebut tidak bisa menjadi pegangan tetap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara, perempuan kelahiran bulan Januari itu tetap harus memastikan dapur keluarga mengepul.
Orang tua maupun mertuanya juga tidak bisa diandalkan untuk menjaga anak-anak. Jarak tempat tinggal mereka cukup jauh dari rumah kontrakan yang kini ditempatinya.
Dalam situasi itu, membawa anak ketika mengayuh becak menjadi pilihan yang dianggap paling memungkinkan.
Setiap pagi, Widya mulai mengayuh becak hingga sekitar pukul 09.00. Ia juga biasanya kembali bekerja pada sore hari.
Pendapatannya bergantung pada jumlah peziarah yang datang. Saat kawasan Sunan Bonang ramai, penghasilannya bisa meningkat. Namun, ketika sepi, kadang malah tidak mendapat penghasilan.
“Kalau sehari-hari itu sampai jam 09.00. Kalau hari-hari seperti ini yang datang (peziarah) sampai Rp 100.000. Kalau rame bisa sampai Rp 150-200.000, kalau kuat punggungnya,” tuturnya.
Penghasilan tersebut masih harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak ada kepastian berapa banyak uang yang bisa diperoleh setiap hari.
Ia kini tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban. Bangunan berukuran sekitar 25 meter persegi itu disewa dengan biaya Rp 1,5 juta per tahun.
Ruang tamu sekaligus menjadi tempat keluarga beristirahat. Kasur diletakkan di ruangan yang sama, menjadi bagian dari ruang hidup sederhana yang mereka tempati.
Di rumah kecil itulah Widya menjalani kehidupan bersama kedua anaknya, sembari menunggu suaminya pulang dari laut.
Di tengah penghasilan yang tidak menentu, bantuan sosial pernah menjadi salah satu penopang kehidupan Widya.
Ia mengaku sebelumnya pernah menerima bantuan pemerintah berupa uang tunai dan sembako. Namun, belakangan bantuan tersebut tidak lagi diterimanya.
Widya menyebut, ketika mengecek status kesejahteraannya, ia masuk dalam kelompok Desil 6–10.
Desil dalam sistem pendataan kesejahteraan digunakan untuk mengelompokkan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan. Pengelompokan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam penentuan sasaran program bantuan sosial.
Bagi Widya, bantuan bukan sesuatu yang harus selalu diterima. Ia memahami bahwa ada keluarga lain yang mungkin lebih membutuhkan.
“Makanya ya dapat bantuan gak apa-apa, kalau gak dapat yaudah,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsos P3A PMD) Kabupaten Tuban, Sugeng Purnomo mengatakan, yang bersangkutan dulu memang pernah mendapatkan bantuan. Bahkan pihaknya sudah pernah melakukan kunjungan ke kediamannya di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan/Kabupaten Tuban.
"Dari hasil asesmen kita saat kunjungan Juli 2026 lalu, yang bersangkutan ini pantang menyerah dan semangat kerjanya tinggi. Baik suami dan istri sama-sama bekerja, maka dari itu kami malah mengapresiasi," ungkapnya.
Mantan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Tuban itu menuturkan, apabila yang bersangkutan merasa keberatan terkait tidak mendapat bantuan dan desilnya, ia bisa mengajukan penyanggahan di Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
"Kalau memang realitanya masih merasa miskin, sekarang kan bisa diajukan penyanggahan (secara online atau datang ke kelurahan) dan ditunggu saja," tandasnya.
