Mengenal Bripka Toni, Anggota Polda DIY yang Nyambi Jualan Cilok

Sejak kecil memasak merupakan hobi Bripka Toni Purwanto (37). Atas alasan itulah, sejak Maret 2017 anggota Polri yang berdinas di Divisi Humas Polda DIY itu memutuskan untuk berjualan cilok selepas kerja.
Senin (9/7) sore, Bripka Toni pulang ke rumahnya di Sambisari RT 3 RW 2, Purwomartani, Kalasan, Sleman, usai bertugas di Polda DIY. Kedua putra putrinya serta sang istri Ade Nasibah (35) langsung menyambutnya.
Tak bisa berlama-lama dengan keluarga, Toni pun bergegas menyiapkan dagangannya. Ratusan butir cilok, bakso, dan tahu bakso kemudian dimasukkan ke dalam wadah untuk dibawa menggunakan sepeda motor ke tempat ia berdagang di Jalan Tajem Raya KM 2, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.
"Ini (cilok) sudah ada yang kerja untuk membulat-bulatkannya, tapi bahan tetap dari saya. Dulu saya buat sendiri, tapi keterbatasan waktu akhirnya saya pekerjaan orang lain," ujar Bripka Toni.

Sebuah gerobak cilok berwarna-warni tampak di Jalan Raya Tajem. Cilok 86 namanya. Sejak pukul 16.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB, Toni melayani pembeli. Meski menggunakan nama 86 yang notabene sandi polisi, namun tak banyak yang mengetahui bahwa Bripka Toni juga seorang polisi.
"Nama cilok 86 itu dikepolisian selain sandi kepolisian 86, itu familiar sama masyarakat," sebut Bripka Toni.
Wajar bila banyak pembeli yang tak menyangka Bripka Toni merupakan anggota polisi. Karena saat melayani pembeli Bripka Toni tampak luwes dan cekatan, dalam berkomunikasi, ia juga senantiasa tersenyum dan jauh dari kesan kaku.
Hasrat Terpendam
Berjualan cilok bisa dibilang hasrat terpendam alumni Sekolah Calon Bintara (Secaba) tahun 2006 ini. Cilok sendiri merupakan makanan favoritnya.Selama bertugas di Jakarta pada rentang 2006 hingga 2017, Bripka Toni pasti setiap hari menyempatkan 'jajan' cilok.
"Ya beli Rp 3 ribu, biasanya saat pulang kerja," kata Toni.
Pada Januari 2017 ia pindah tugas di Humas Polda DIY. Di saat itulah mulai terlintas di pikirannya untuk berjualan cilok sembari menyalurkan hasratnya memasak. Butuh waktu dua bulan baginya untuk memantapkan langkah ini. Siapa sangka, sejumlah atasannya justru mendukung langkahnya.
"Sepanjang setahu saya tidak ada keluhan (rekan) malah mendukung. Baru pindah dari Polda Metro malah jualan cilok, saya kasi testimoni banyak yang mesan," ceritanya.
Namun tak semuanya berjalan mulus. Saat awal berjualan, dirinya benar-benar seorang diri, sehingga dia kerap kelelahan hingga telat apel. Atasannya pun menegurnya bahwa tugas utama tetap polisi, sementara berjualan hanya untuk menyalurkan hobi.

"Sempet dinasehati, boleh usaha tapi ingat kantor karena tugas utama polisi, itu pesan Kompol Sumarsih (Kasubbid Penmas Polda DIY, Kompol Sri Sumarsih-red). Sekarang nggak pernah telat dong," timpalnya.
Tak hanya dari rekan kerja, dukungan juga mengalir dari istri dan dua buah hatinya. Katanya, asalkan halal dan tidak mengganggu tugas utama, keluarga tidak mempersoalkan.
Tidak jarang pembeli yang telah tahu profesinya sebagai poliri justru kerap bertukar pendapat dengannya. Mulai dari bertanya tentang pendaftaran polisi hingga sejumlah tugas polisi.
"Reaksi warga ada yang kaget karena memandang polisi sudah enak ada gaji pokok, kok mau jualan gini, tapi ada yang salut juga," tuturnya.
Tak jarang saat berdagang ia menyelipkan pesan-pesan seperti taat berlalu-lintas. Dia berharap pesan tersebut jauh lebih didengar lantaran dikomunikasikan secara akrab.
"Banyak yang nanya juga lalu lintas. Kadang saya selipkan konten-konten nasihat seperti motor parkir yang benar, helm, plat harus pasang," bebernya.
Tambahan Penghasilan

Bripka Toni tidak menampik bahwa penghasilannya sebagai anggota polisi sudah lebih dari cukup. Namun ia mengakui dari hobinya ini ia mendapat pengahasilan tambahan. Dalam sehari sebanyak 2 ribu butir cilok, bakso, dan tahu bakso ludes terbeli. Sehari ia bisa mendapat penghasilan bersih Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu.
"Manfaat banyak terutama nafkah dan rezeki. Bisa nambah uang jajan dan biaya sekolah anak," cetusnya.
Ia pun menegaskan bahwa bahan-bahan yang digunakannya pun dijamin alami tanpa pengawet, mulai dari kanji, tepung, merica, serta telur. Istrinya pun membantunya belanja bahan dagangan.
"Murah saja, cilok tiga butir Rp 1.000. Tahu bakso satu Rp 500 dan bakso pentol satu Rp 500. Ini cilok isinya tetelan daging sapi," pungkasnya.
Sementara Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto mengatakan, pihaknya mendukung langka Bripka Toni asalkan tidak menganggu ketugasan pokoknya sebagai anggota polisi. Langkah Toni menyisipkan pesan dan sosialisasi aturan hukum kepada pembeli maupun masyarakat juga diapresiasi Polda DIY.
Terlebih saat ini Bripka Toni bertugas di Banum Penmas Bidang Humas Polda DIY. Salah satu fungsinya juga bersosialisasi program dan penyuluhan hukum ke masyarakat. Meski tengah berjualan di luar jam dinas, profesi polisi tetap harus melekat pada dirinya.
"Turut membantu menyampaikan pesan-pesan hukum, bisa penyuluhan, sosialisasi, dan ikut menjaga kondusifitas lingkungan karena berada langsung di lapangan dan bisa berinteraksi dengan masyarakat di luar jam kerja," imbau Yuliyanto.
Seorang pembeli, Apriliani, mengaku sering membeli Cilok 86 karena selain teksturnya yang enak, bumbu pedasnya juga sedap. Meski begitu ia selama ini tak menyangka bahwa penjual cilok langganannya itu merupakan anggota polisi.
"Enggak tahu kalau anggota polisi. Bagus sih mendekatkan dengan masyarakat. Menurut saya boleh-boleh saja (berjualan), kan yang penting halal," kata April.
