Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
29 Ramadhan 1446 HSabtu, 29 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Mengenal dr. H. R. Soeharto, Dokter Pribadi Sukarno yang Jadi Pahlawan Nasional
3 November 2022 19:08 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
ADVERTISEMENT
Nama DR. dr. H. R. Soeharto jadi salah satu nama dari lima tokoh yang akan dianugerahkan gelar pahlawan nasional yang dipilih berdasarkan usulan masyarakat dan telah melalui sejumlah proses seleksi.
ADVERTISEMENT
Namanya disebut pertama kali oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md selaku Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan dalam keterangannya usai pertemuan di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis, (3/11).
Pemerintah akan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada almarhum DR. dr. H. R. Soeharto dari Jawa Tengah yang dinilai telah berjuang bersama Presiden Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
"Hari ini Bapak Presiden sesudah berdiskusi dengan kami, dengan Dewan Gelar dan Tanda-Tanda Kehormatan, itu memutuskan tahun ini memberikan lima (gelar pahlawan nasional) kepada tokoh-tokoh bangsa yang telah ikut berjuang mendirikan negara Republik Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan dan mengisinya dengan pembangunan-pembangunan sehingga kita eksis sampai sekarang sebagai negara yang berdaulat," ujar Mahfud dalam rilis Setpres, Kamis (3/11).
Lantas, seperti apa sosok DR. dr. H. R. Soeharto?
ADVERTISEMENT
DR. dr. H. R. Soeharto adalah dokter pribadi Sukarno dari Jawa Tengah. Dokter Soeharto lahir pada 24 Desember 1908 dan wafat pada 30 November 2000 di usia 91 tahun. Selain dokter pribadi ia adalah mantan menteri yang menjabat selama Demokrasi Terpimpin sejak 1959-1966.
Sebelumnya, dokter Soeharto menjalankan praktik kedokteran keluarga (huisarts), serta mendirikan dan mengelola klinik bersalin kecil di Kramat 128 Pavilyun sejak tahun 1937 sampai 1942. Di samping menjalankan praktiknya, ia kemudian menjadi dokter pribadi Bung Karno dan Bung Hatta sejak tahun 1942 hingga 1945.
Oleh Bung Karno ia kemudian ditugasi untuk memimpin bagian Kesehatan Poesat Tenaga Rakyat (POETERA), di bawah pimpinan Empat Serangkai, yaitu Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mansyur.
ADVERTISEMENT
Setelah itu, Bung Hatta, selaku Kepala Kantor Penasehat Gunseikanbu, kembali menugaskan dokter Soeharto untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada para calon pegawai dan pegawai Pangreh Praja se-Jawa yang sedang dilatih di Jakarta, serta memberikan pelayanan kesehatan kepada para abang beca, yang pada waktu itu di Jakarta berjumlah 6.000-7.000 orang.
Selain sebagai dokter pribadi, ia juga membantu Dwi Tunggal mengikuti berbagai perjalanan, di antaranya ke Bali untuk mengadakan pembicaraan dengan Laksamana Shibata di Singaraja, ke Dalat (Indo China) tatkala Bung Karno dan Bung Hatta dilantik oleh Marsekal Terauchi menjadi Ketua dan Wakil Ketua Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Serta menyaksikan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Tahun 1946 hingga 1948 dokter Soeharto pindah ke Yogyakarta. Di sana ia diangkat menjadi Kepala Administrasi Pusat (AMP) Kementerian Pertahanan RI di Yogyakarta, dengan pangkat Mayor Jenderal merangkap dokter pribadi Presiden (Bung Karno dan Bung Hatta).
ADVERTISEMENT
Kemudian, dokter Soeharto sempat non aktif karena mengalami lumpuh pada tahun 1948 sampai akhir 1949. Setelah sembuh, ia kembali mendapatkan kepercayaan tugas lainnya. Kesetiaannya ditunjukkan dengan selalu mengikuti perjalanan Presiden ke seluruh pelosok tanah air dan berbagai negara di dunia, bahkan diikutsertakan sebagai anggota delegasi yang langsung dipimpin oleh Presiden.
Tanggal 23 Agustus 1967 ia kemudian diberhentikan dengan hormat sebagai anggota tim dokter-dokter pribadi Presiden. Setelah pensiun, Soeharto kembali menjalankan praktik dokter hingga 1978. Kemudian aktif pada perkumpulan profesi dan organisasi sosial. Serta menjadi anggota Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 1980-1982.
Reporter: Cut Salma