kumparan
11 Feb 2018 17:02 WIB

Mengenal Edmund Prier, Romo Asal Jerman yang Menambatkan Hati di Yogya

Romo Karl-Edmund Prier. (Foto: dok. PML Yogyakarta)
Romo Karl Edmund Prier sedang memimpin misa di Gereja Santa Lidwina Bedog, Yogyakarta, saat seorang pria berparang menerjang masuk pintu gereja bagian barat. Adegan selanjutnya hanyalah kengerian. Lelaki itu menyerang jemaat dan akhirnya maju mengayunkan parangnya pada Romo Prier--yang kini terbaring di Rumah Sakit Panti Rapih Yogya.
ADVERTISEMENT
Banyak orang mungkin tak tahu siapa Romo Prier. Tapi Camelia Pasandaran Wiguna pernah menjadi peserta kursus musik di bawah bimbingan Romo Prier, dan ia berbagi kisah tentang sang Romo.
“Saya menulis (unggahan Facebook) cukup panjang tentang beliau,” kata Camelia kepada kumparan, Minggu (11/2). Ia kemudian mempersilakan kami mengisahkan kembali cerita yang ia tulis.
Camel--sapaan Camelia--masih ingat satu malam di bulan Juni tahun 2000-an. Ketika itu, para murid yang hendak belajar musik (menjadi konduktor ataupun bermain organ) berkumpul di Aula Pusat Musik Liturgi (PML), Yogyakarta.
Pusat Musik Liturgi Yogyakarta. (Foto: PML Yogyakarta.)
“Saya beruntung menjadi salah satu peserta kursus musik di bawah bimbingan Romo Prier. Selama seminggu penuh, setelah setahun mengikuti kursus, kami tinggal di PML dan belajar banyak hal terkait mengiringi lagu gereja dan teori musik. PML ini didirikan oleh Romo Prier,” tulis Camel dalam unggahannya di Facebook, Minggu (11/2).
ADVERTISEMENT
Ia terkesan dengan kepintaran Romo Prier bermusik. Terlebih, sang Romo baik hati, rendah hati, serta fasih berbahasa Indonesia. Kekaguman Camel kian menjadi setelah membaca sebuah biografi yang menuliskan tentang puluhan tahun pelayanan Romo Prier sebagai misionaris.
“Setelah membaca biografinya, saya makin kagum. Dia meninggalkan negaranya, menempuh semua risiko, dan menjadi misionaris Jesuit sejak puluhan tahun lalu di Indonesia,” tulis Camel.
Musik dan Umat
Nama Karl-Edmund Prier menggema kencang di dunia musik liturgi Katolik Indonesia. Selain liturgis, Romo Prier melayani umat melalui musik dengan menjadi guru dan dosen musik, pengarang lagu gereja, hingga mengaransemen lagu.
Namanya tercantum dalam berbagai buku lagu gereja. Sebut saja rangkaian lagu Misa Raya II, juga Hendaklah Langit Bersuka Cita yang ia ciptakan pada 1967 dan kemudian menjadi deretan lagu yang kerap dikumandangkan di gereja-gereja.
ADVERTISEMENT
Mengutip majalah Hidup, Romo Prier telah mengenal musik sejak usia belia. Melewati masa kecilnya di Jerman, Prier telah mendengarkan dan mempelajari aliran musik klasik sejak usia delapan tahun.
Perkenalan di masa kecil itu menumbuhkan cinta mendalam pada musik, mendorongnya untuk belajar organ dan piano. Pendidikan musik Prier lalu berlanjut saat ia terpanggil menjadi imam dan bergabung dengan Societas Jesu atau Serikat Yesuit--salah satu ordo dalam Gereja Katolik Roma.
Romo Karl-Edmund Prier. (Foto: dok. PML Yogyakarta)
Minat Prier untuk belajar musik semakin berkembang saat ia diutus menjadi misionaris di Indonesia pada 1964. Ia jatuh cinta pada lagu-lagu tradisional yang ia dengar di tanah pelayanannya--Indonesia.
Cinta Prier pada musik tradisional Indonesia lantas diwujudkan dengan menciptakan lagu-lagu inkulturasi--memadukan budaya lokal dalam musik--dan berharap gereja akan semakin semarak dengan kehadiran lagu-lagu bernuansa kedaerahan.
ADVERTISEMENT
Ia pun mengusulkan untuk membentuk sebuah pusat musik liturgi. Ide itu diterima baik oleh pimpinan Serikat Yesuit.
Hingga akhirnya Prier menambatkan hati pada Yogyakarta, sebab kota itu sangat menjunjung budaya Jawa dibanding kota-kota lain yang ia tahu. Di Yogya, Pusat Musik Liturgi lantas didirikan pada 11 Juli 1971.
“Kota ini akan menjadi tempat untuk mengolah lagu-lagu inkulturasi dari daerah lain,” harap Prier, seperti tertulis dalam majalah Hidup.
Romo Karl-Edmund Prier. (Foto: dok. PML Yogyakarta)
Pusat Musik Liturgi Yogyakarta menjadi rumah bagi para umat Katolik yang ingin mengembangkan pendidikan musiknya. Prier membina khusus para jemaat yang ingin menjadi organis andal. Untuk itu, ia membuka program pendidikan organis selama tiga tahun.
Tak berhenti sampai situ, bara semangat Prier dalam bermusik disambut baik oleh Paul Widyawan, seorang kerabat yang turut andil dalam perkembangan dunia musik Indonesia. Maka, Prier dan Paul berkolaborasi membentuk Paduan Suara Vocalista Sonora di Yogyakarta.
ADVERTISEMENT
Begitu besar kasih dan pelayanan yang Prier berikan bagi musik liturgi dan gereja di Indonesia. Setiap nada yang ia dentingkan melalui organ pipa dan pianonya akan terus mengalun lembut, menambah syahdu tiap doa yang terdaras di sudut-sudut gereja.
Romo Karl-Edmund Prier. (Foto: dok. Steve Adinegoro)
Aksi penyerangan di gereja yang melukai jemaat Katolik dan Romo Prier itu dikecam berbagai pihak, antara lain Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika dan SETARA Institute.
“SETARA ingin mengingatkan ulang kepada pemerintah, pemuka agama, dan elite ormas-ormas keagamaan bahwa potret riil kerukunan itu terletak di tingkat akar rumput. Kerukunan antarumat beragama tidak cukup hanya dibangun secara simbolik-elitis dalam acara-acara pertemuan antaragama,” demikian ujar SETARA dalam keterangan tertulisnya.
Majelis Ulama Indonesia juga mengecam aksi penyerangan tersebut. Tindakan itu, ujar Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi, “Tidak mencerminkan ajaran dan nilai agama, patut dikutuk apapun motifnya, dan tak bisa ditoleransi.”
Romo Karl-Edmund Prier. (Foto: dok. PML Yogyakarta)
Semoga semua umat di Indonesia dijauhkan dari segala marabahaya. Dan lekas sembuh, Romo Prier. Lekas kembali menjadi gembala bagi umatmu.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan