Mengenal Lupus, Penyakit yang Diderita Selena Gomez

Penyanyi Selena Gomez baru saja menjalani transplantasi ginjal karena penyakit lupus yang dideritanya. Melalui akun Instagram pribadinya, penyanyi berusia 25 tahun itu mengucapkan rasa terima kasih untuk sang pendonor ginjal, Francia Raisa, yang tak lain merupakan sahabatnya sendiri.
Selena diketahui mengidap penyakit lupus sejak dua tahun lalu. Seperti apakah sebenarnya penyakit lupus ?
Mengutip Wikipedia, Lupus merupakan penyakit yang terkait dengan kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini dikenal juga sebagai penyakit otoimun, sebuah kondisi saat sistem imunitas atau kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri.
Dalam kondisi normal sistem imun bertugas mempertahankan diri terhadap serangan dari luar seperti bakteri dan virus, tetapi pada penyakit otoimun yang terjadi adalah sebaliknya, sistem imunnya menyerang organ-organ tubuhnya sendiri.
Prof. Dr. dr. Heru Sundaru, SpPD, K-AI dalam tulisannya di situs medistra.com, menyebut sejauh ini dikenal dua jenis penyakit lupus :
1. Lupus Diskoid, memiliki bercak kemerahan seperti uang logam di kulit muka atau bagian badan lainnya termasuk kulit kepala. Lupus jenis ini terbilang jinak dan jarang berkembang menjadi lupus sistemik.
2. Lupus Eritemaousus Sistemik (LES), sering disebut Sistemic Lupus Erythematosus (SLE) dalam bahasa Inggris. Eritema berarti kemerahan sedangkan sistemik artinya tersebar ke berbagai organ tubuh. Eritema berarti kemerahan sedangkan sistemik artinya tersebar ke berbagai organ tubuh.
LES inilah jenis lupus yang lebih dikenal masyarakat umum sebagai penyakit lupus. LES dapat menyerang jaringan serta organ tubuh mana saja dengan tingkat gejala yang ringan sampai parah. LES dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk (penyakit kulit, sendi, darah, ginjal, paru dan sebagainya), sehingga sulit untuk menentukan berapa sering penyakit ini terdapat di masyarakat.
Gejala umum pengidap lupus antara lain kelelahan, pegal linu, sendi terasa sakit dan bengkak, sakit kepala, sering sariawan, terdapat bintik merah di wajah, dan badan seperti terserang demam. Meski begitu, gejala bisa berbeda dari satu penderita dengan penderita yang lain. Gejala juga bisa bersifat akut atau menahun yang hilang dan timbul diselingi masa sembuh sementara.
Apa yang menyebabkan seseorang menderita lupus belum memiliki penjelasan yang pasti. Beberapa ahli berpendapat lupus bisa disebabkan oleh 3 faktor antara lain hormon, genetik dan lingkungan.

Mengutip situs resource.lupus.org, beberapa peneliti melihat hormon estrogen memiliki keterkaitan dengan lupus oleh karena itu penderita lupus yang lebih banyak diderita oleh wanita ketimbang pria.
Kebanyakan wanita memiliki gejala lupus pada saat sebelum menstruasi atau saat hamil ketika produksi hormon estrogen meninggi. Namun begitu, tidak atau belum ada hubungan sebab akibat yang telah terbukti antara estrogen dan hormon lainnya dengan lupus.
Sementara untuk gen, meski berperan, faktor genetik pada keluarga belum terbukti secara langsung dapat menyebabkan lupus. Dari keseluruhan kasus hanya 5-6 persen yang diturunkan. Dalam beberapa kasus, seorang ibu yang menderita lupus memiliki kemungkinan anaknya akan terkena lupus meskipun kecil.
Faktor gen lebih terkait dengan epidemologi, seperti orang Asia yang memiliki kemungkinan 2 kali lebih rentan terkena lupus dibandingkan orang Eropa.
Sedangkan pada faktor lingkungan yang bisa memicu virus adalah sinar ultraviolet, infeksi dan paparan debu silika. Debu silika biasanya dijumpai pada pekerjaan tambang logam, batu dan granit.
Sebagian besar penderita lupus terserang penyakit ini di rentang usia 15-44 tahun walaupun tidak menutup kemungkinan bayi dan lanjut usia (lansia) juga bisa terserang lupus.
Lupus belum bisa disembuhkan. Pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengurangi tingkat gejala, mencegah kerusakan organ dalam, dan meminimalisir dampaknya pada penderita lupus.
Seperti menggunakan obat ant inflamsi nonsteroid yakni obat yang memberikan efek anlgesik atau pereda nyeri. Kemoterapi juga bisa dilakukan bagi penderita lupus. Kemoterapi yang dilakukan penderita lupus berbeda dengan kemoterapi bagi penderita kanker. Jumlah pemberian kemoterapi untuk pengidap lupus tidak sebanyak yang diberikan kepada pengidap kanker.
