Mengenal Radioaktif Cs-137 yang Cemari Cikande: Dampak hingga Dekontaminasi
ยทwaktu baca 6 menit

Kawasan Industri Modern Cikande di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, tercemar paparan radioaktif Cs-137. Kasus ini mencuat setelah pada Agustus 2025 ada penolakan ekspor udang beku asal Indonesia oleh pihak Amerika Serikat karena terdeteksi terkontaminasi radioaktif.
Sejumlah pihak terkait bergerak cepat mengisolasi lokasi. Selain itu pemeriksaan kesehatan kepada warga yang beraktifitas di sekitar lokasi pun dilakukan.
Lantas, mengapa kita mesti khawatir dengan adanya paparan Cs-137, dan sebenarnya apa itu Cesium-137?
Peneliti Ahli Utama pada Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Prof Djarot S Wisnubroto, memberikan penjelasan mengenai apa itu Cs-137. Menurutnya, Cs-137 adalah radionuklida yang lazim dipakai di industri, misalnya alat ukur level/kepadatan, dan riset.
Sementara, dikutip dari United States Environmental Protection Agency (EPA), Cs-137 diproduksi melalui fisi nuklir. Ia merupakan salah satu produk sampingan dari proses fisi nuklir dalam reaktor nuklir.
Cesium ini mudah bergerak di udara, larut dalam air, dan mudah terikat kuat kepada tanah dan beton.
Cesium-137 digunakan dalam jumlah kecil untuk kalibrasi peralatan deteksi radiasi, seperti penghitung Geiger-Mueller. Dalam jumlah yang lebih besar, Cs-137 digunakan dalam perangkat terapi radiasi medis untuk mengobati kanker hingga pengukur industri.
Menurut Djarot, Cesium-137 ini memancarkan radiasi gamma dan punya paruh waktu hingga 30 tahun.
"Dalam sumber tertutup yang utuh penggunaannya aman; risiko muncul bila kemasan rusak atau ada cemaran pada tanah/permukaan," kata dia.
"Penting: Cs-137 bukan gas, ia cenderung menempel pada tanah/material padat dan bisa dilacak titiknya," sambung pria yang pernah enam tahun menjadi kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) ini.
Seberapa Luas Radiasi Cs-137?
Menurut Djarot, tidak ada radius tetap cemaran dari Cs-137. Paparannya akan menurun cepat saat menjauh dari sumbernya (hukum jarak).
"Titik panas (hotspot) biasanya sangat lokal (meter hingga puluhan meter). Karena itu petugas memasang pagar pada kontur laju dosis aman," kata dia.
Saat ini, di Cikande, petugas sudah membatasi wilayah aman. Satgas Penanganan Cs-137 telah melakukan langkah penanganan di wilayah Cikande dan sekitarnya, yakni dalam radius 5 Km.
Menurut Djarot, jika sudah diberi pembatasan macam ini, maka di luar wilayah itu aman bagi publik.
"Di luar pagar, nilainya kembali mendekati latar belakang dan aman bagi publik," kata dia.
Bagaimana Dampak terhadap Lingkungan?
Cemaran Cs-137 umumnya melekat di tanah atau permukaan sehingga bersifat lokal. Menurutnya, pihak terkait dapat memeriksa air tanah yang dekat sekali dengan titik panas atau lokasi inti Cs-137.
"Tetapi kejadian seperti ini bukan polusi yang menyebar luas," ucapnya.
"Dengan dekontaminasi terarah, yakni angkat sumber, kupas/lifting tanah terbatas, pembersihan basah atau vakum, dampak jangka panjang dapat dicegah," sambungnya.
Apakah Perlu untuk Mengevakuasi Warga?
Berdasarkan praktek keselamatan, kata Djarot, evakuasi massal tidak diperlukan selama publik tidak masuk area berpagar. Perlindungan dilakukan dengan pembatasan area, yang menurutnya hal itu jauh lebih efektif dan proporsional.
"Jika otoritas menetapkan pagar pada laju dosis aman, maka di luar pagar aman untuk beraktivitas. Durasi pembatasan hari sampai minggu, tergantung jumlah titik yang harus dibersihkan," ucapnya.
Lantas, Bagaimana dengan Warga yang Sempat Terkena Cemaran?
"Jangan panik," kata Djarot.
Ia menyarankan untuk melepas alas kaki di luar rumah, cuci tangan, dan mandi. Lalu ganti pakaian, cuci pakaian itu secara terpisah.
Namun, jika merasa sangat dekat dengan lokasi cemaran dalam waktu yang lama, ia menyarankan menghubungi posko atau informasi resmi pemerintah untuk dilakukan pemeriksaan.
"Jangan membawa pulang scrap atau benda yang ditemukan. Laporkan ke petugas," kata dia.
Sejauh ini, berdasarkan pemeriksaan oleh Kementerian Kesehatan, sembilan orang positif terpapar berdasarkan hasil whole-body counter (WBC) . Mereka kini dirawat di RSUP Fatmawati Jakarta.
Kesembilan orang itu tidak bergejala dan dalam kondisi baik. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan hasil itu ditemukan dari pemeriksaan sekitar 1.562 pekerja dan warga sekitar Kawasan Industri Cikande.
Lalu, Bagaimana Cara Dekontaminasinya?
Djarot membeberkan skema baku dan efektif dalam melakukan dekontaminasi cemaran. Berikut tahapannya:
Amankan dan batasi area berdasarkan hasil ukur.
Pemetaan mikro laju dosis untuk menemukan hotspot presisi.
Angkat sumber/fragmen dengan alat penjepit + pelindung (lead pot), simpan di wadah berlisensi.
Dekontaminasi terarah: tanah/material terkontaminasi dikemas ke drum berlabel; pembersihan basah/vakum (bukan semprot liar).
Verifikasi pasca-bersih (ukur ulang), lalu buka kembali saat nilainya mendekati latar belakang.
"Dengan langkah ini, risiko untuk publik sangat rendah dan kawasan dapat dipulihkan bertahap tanpa mengganggu aktivitas lebih luas," ucapnya.
"Ini isu terlokalisasi dan terkendali. Ikuti pagar pengaman, jangan menyentuh scrap, dan ikuti arahan petugas. Di luar area kerja, kondisi aman," sambungnya.
Bagaimana dengan Dampaknya Terhadap Kesehatan?
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengungkap dampak cemaran kepada kesehatan. Mulai dari mual hingga kerusakan organ.
Aji mengungkapkan sejumlah efek dan dampak dari paparan Cs-137 ke tubuh manusia, meliputi efek jangka pendek, seperti sindrom radiasi akut, yakni mual, muntah, diare, kelelahan, sakit kepala, hingga penurunan sel darah putih.
Selain itu, kerusakan kulit dan jaringan dengan tanda kemerahan, lepuh, luka bakar radiasi.
Pada paparan radiasi yang tinggi, ada risiko perdarahan, infeksi berat, kerusakan organ, dan kematian.
Sedangkan pada jangka panjang, kata Aji, paparan rendah berulang atau internal, ada peningkatan risiko kanker akibat kerusakan DNA, penurunan daya tahan tubuh karena gangguan sumsum tulang dan imunitas. Bila paparan pada ibu hamil, risiko kelainan janin meningkat.
Paparan kronis pada organ tubuh dapat memicu gangguan metabolisme dan degeneratif. Namun, dia menegaskan bahwa mayoritas paparan yang ditemukan masih pada level yang bisa ditangani dengan dekontaminasi, obat khusus, dan pemantauan kesehatan jangka panjang.
Sementara jika dikutip dari EPA, paparan eksternal terhadap Cs-137 dalam jumlah besar dapat menyebabkan luka bakar, penyakit radiasi akut, dan bahkan kematian.
Adapun paparan dalam jumlah besar, dapat berasal dari kesalahan penanganan sumber industri Cs-137 yang kuat, ledakan nuklir, atau kecelakaan nuklir besar. Cs-137 dalam jumlah besar tidak ditemukan di lingkungan dalam keadaan normal.
Paparan Cs-137 dapat meningkatkan risiko kanker karena adanya radiasi gamma berenergi tinggi. Paparan internal Cs-137 melalui konsumsi atau inhalasi memungkinkan bahan radioaktif tersebut terdistribusi di jaringan lunak, terutama jaringan otot, yang meningkatkan risiko kanker.
Awal Kasus Mencuat
Pada Agustus 2025 ada penolakan ekspor udang beku asal Indonesia oleh pihak Amerika Serikat karena terdeteksi terkontaminasi radioaktif. Hasil penyelidikan pemerintah Indonesia, ditemukannya sejumlah titik penimbunan material slag hasil peleburan yang mengandung zat radioaktif Cesium-137 di kawasan industri modern Cikande, Serang.
Adapun lokasi pabrik udang itu berdekatan dengan perusahaan yang diduga sebagai sumber pencemaran radioaktif.
Menyadari ancaman serius yang ditimbulkan, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bergerak cepat berkoordinasi dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Komando Brimob Polri (KBRN) untuk mengamankan lokasi dan mencegah kontak langsung dengan manusia.
KBRN segera memasang garis pengaman di delapan titik teridentifikasi, dilanjutkan proses dekontaminasi oleh Tim Khusus Pelaksana. KLH/BPLH bersama tim lintas sektor juga terus melakukan deteksi tambahan di titik-titik lain yang berpotensi terkontaminasi untuk memastikan tidak ada sumber radiasi yang terlewatkan.
Satgas mengidentifikasi sepuluh titik yang memancarkan radiasi Cesium-137 dengan intensitas berbeda-beda. Dua titik telah berhasil didekontaminasi, dan material radioaktifnya telah dipindahkan ke gudang PT Peter Metal Technology Indonesia yang terkonfirmasi sebagai sumber lokal pencemaran.
Aktivitas di gudang tersebut telah dihentikan sepenuhnya, sementara hasil dekontaminasi ditangani sesuai standar ketat BAPETEN dan BRIN. Delapan titik lainnya akan didekontaminasi secara bertahap setelah inventarisasi detail dilakukan untuk memastikan parameter penanganan yang presisi dan efektif.
