Mengenal Tumor Otak-Gangguan Kognitif di Siloam Neuroscience Summit 2026

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dokter Spesialis Neurologi Konsultan Neuro-Onkologi Dr. dr. Henry Riyanto Sofyan saat ditemui dalam acara The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (19/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dokter Spesialis Neurologi Konsultan Neuro-Onkologi Dr. dr. Henry Riyanto Sofyan saat ditemui dalam acara The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (19/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Gangguan otak tak selalu ditandai dengan gejala yang mudah dikenali. Tumor otak tak otomatis berarti kanker, Parkinson tak hanya ditandai dengan tangan gemetar, sementara sering lupa belum tentu merupakan demensia.

Beragam kondisi tersebut dibahas dalam The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 yang digelar di Jakarta pada 18-19 September 2026. Sejumlah ahli dalam acara tersebut membahas berbagai gangguan neurologis hingga perkembangan teknologi penanganannya.

Dokter spesialis saraf yang fokus pada nyeri kepala dan neuro-onkologi, Henry Riyanto Sofyan, mengatakan tumor otak memiliki karakteristik yang berbeda dengan kanker pada organ lain.

“Kalau kita bicara tumor itu berarti sesuatu yang tumbuh tidak bisa dikendalikan seperti dengan jaringan yang sehat pada umumnya. Semua bagian tubuh kita bisa menjadi tumor atau kanker. Umumnya memang kita menggunakan kata tumor untuk sesuatu yang jinak,” terang Henry saat ditemui kumparan, Sabtu (19/9).

Menurut Henry, tumor otak juga tidak diklasifikasikan menggunakan stadium 1 hingga 4 seperti yang umum dikenal pada kanker organ lain. Baik tumor jinak maupun ganas, tetap membutuhkan perhatian dan penanganan sesuai kondisi pasien.

“Sehingga walaupun dia jinak, walaupun dia ganas, kita perlakukan dengan perhatian yang cukup, sesuai dengan tata laksananya supaya tidak menjadi suatu kecacatan dan bisa kita lakukan tindakan yang tepat,” papar Henry.

Dia pun menekankan bahwa ukuran tumor bukan satu-satunya faktor yang menentukan dampaknya. Lokasi tumor di otak menjadi hal penting karena setiap bagian otak memiliki fungsi yang berbeda-beda.

“Ketika ukurannya kecil tapi dia letaknya ada di pusat listrik, misalnya kesadaran atau pusat komunikasi, itu sangat mengganggu sekali pastinya, atau pusat gerak. Jadi ukuran bukan menjadi satu hal yang dipertimbangkan, tapi lokasinya yang paling juga menjadi perhatian,” jelasnya.

Associate Professor of Neurology Prof. Onanong Phokaewvarangkul, MD, PhD saat ditemui dalam acara The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (19/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Dari tumor otak, pembahasan berlanjut pada Parkinson yang juga kerap disalahpahami masyarakat. Ahli neurologi dari Thailand, Onanong Phokaewvarangkul, menegaskan Parkinson bukan sekadar penyakit tangan gemetar atau penyakit orang lanjut usia.

“Parkinson sebenarnya merupakan penyakit neurodegeneratif. Banyak pasien mengalami gerakan yang melambat atau bradikinesia, sebagian mengalami kekakuan atau rigiditas, ada yang mengalami tremor saat istirahat, dan ada juga yang mengalami masalah keseimbangan atau gangguan berjalan,” ungkap Onanong.

Menurut Onanong, ada sejumlah gejala yang dapat muncul sebelum gangguan gerak terlihat. Gejala tersebut antara lain sembelit, gangguan penciuman, depresi, dan gangguan tidur tertentu.

“Kita sebut sebagai gejala prodromal. Misalnya pasien mengalami sembelit selama bertahun-tahun, masalah dengan kemampuan mencium bau selama bertahun-tahun, sebagian pasien memiliki riwayat depresi yang panjang, dan sebagian mengalami gangguan tidur,” tuturnya.

Gejala tersebut, kata Onanong, dapat muncul lima hingga 10 tahun atau lebih sebelum gejala motorik. Ia juga mengingatkan, Parkinson dapat dialami oleh orang yang lebih muda.

“Walaupun Parkinson merupakan penyakit degeneratif dan biasanya kita berpikir penyakit ini terjadi pada orang lanjut usia, pada usia muda orang juga bisa mengalami Parkinson. Kita menemukan pasien yang mengalami Parkinson pada usia lebih muda, bahkan kurang dari 40 tahun,” beber Onanong.

Dokter Spesialis Neurologi Konsultan Dr. dr. Rocksy Fransisca V. Situmeang saat ditemui dalam acara The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (19/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Selain Parkinson, gangguan daya ingat menjadi persoalan lain yang perlu dipahami masyarakat. Dokter spesialis neurologi konsultan, Rocksy Fransisca Situmeang, menjelaskan fenomena lupa akibat kelelahan tidak selalu sama dengan gangguan kognitif.

“Kalau lupa yang sering kita alami, misalnya kita lagi capek, kurang tidur, atau bahkan mungkin kurang minum, itu umumnya lupa disebabkan karena gangguan pada atensi kita. Jadi sekali kita diam dulu, mikir-mikir, ingat lagi. Tapi lupa pada demensia umumnya sulit untuk di-recall, sulit untuk diingat-ingat lagi,” kata Rocksy.

Masyarakat, kata dia, perlu mulai waspada apabila seseorang berulang kali melupakan kejadian yang baru terjadi atau mengalami perubahan kemampuan dalam menjalankan aktivitas yang sebelumnya dikuasai.

“Gangguan daya ingat atau gangguan kognitif secara umum yang harus diwaspadai mungkin yang paling kelihatan itu lupa, khususnya hal-hal yang baru terjadi. Misalnya orang yang kita kasihi itu jadi ngomongnya diulang-ulang, atau nanyanya diulang-ulang,” jelasnya.

Rocksy juga menekankan kesehatan otak perlu dijaga sejak usia muda, termasuk dengan menjaga pola hidup dan mengendalikan faktor risiko.

“Bagaimana kita bisa menjaga kesehatan otak untuk jangka panjang dan mencegah penyakit-penyakit yang menyerang otak, ini merupakan suatu upaya yang dilakukan dari kecil, bahkan mungkin dari dalam kandungan,” terang dia.

“Di usia remaja, bagaimana dia menjaga kesehatan otaknya dengan tidur cukup, olahraga teratur. Kemudian di usia dewasa, dengan menjaga pola makan, tidak merokok, tidak minum alkohol. Lalu di usia tua, penting sekali seseorang menjaga hubungan sosial dengan sekitar, jadi jangan sampai kesepian, jangan sampai depresi,” lanjut Rocksy.

Dr. Wei-Chieh Chang, MD, Chairman of the Department of Neurosurgery Show Chwan Memorial Hospital, Taiwan, sekaligus ahli functional dan stereotactic neurosurgery dalam acara The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (19/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Dalam kesempatan itu, perkembangan teknologi penanganan gangguan otak juga menjadi salah satu pembahasan dalam The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026. Ketua Departemen Bedah Saraf Show Chwan Memorial Hospital Taiwan, Wei-Chieh Chang, memaparkan terkait teknologi magnetic resonance-guided focused ultrasound (MRgFUS).

Teknologi tersebut, menurut Wei, memungkinkan dokter menangani target tertentu di otak tanpa perlu membuka tengkorak.

“Energi dari focused ultrasound menggunakan ultrasound dan selama seluruh prosedur kita menggunakan panduan magnetic resonance imaging (MRI). Karena itu, kita bisa melihat di mana targetnya dan pasien tetap dalam kondisi sadar. Kita juga bisa memberikan dosis percobaan untuk melihat respons dari pasien,” jelas dia.

Saat ini, teknologi itu telah digunakan untuk kondisi tertentu seperti essential tremor dan Parkinson dengan tremor dominan. Namun, Wei menegaskan MRgFUS bukan teknologi yang dapat digunakan untuk seluruh pasien.

“Sebagai ahli bedah saraf, kami menyediakan banyak pilihan untuk pasien. Tetapi kami tidak berpikir bahwa MR-guided focused ultrasound dapat menangani setiap pasien atau penyakit. Kita harus menangani setiap pasien dengan sangat serius untuk membantu mereka menemukan teknologi mana yang paling sesuai untuk mereka,” pungkasnya.