Mengenang Deretan Lapak 'Vermak Jeans' Jalan Sardjito, Langganan Mahasiswa UGM

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana trotoar di Jalan Dr Sardjito, Kota Yogyakarta, Kamis (22/1/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana trotoar di Jalan Dr Sardjito, Kota Yogyakarta, Kamis (22/1/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Deretan lapak "vermak jeans" atau permak celana jin, tas, hingga sol sepatu di Jalan Dr. Sardjito, Kota Yogyakarta, kini tampak kosong, Kamis (22/1). Para penyedia jasa tersebut telah direlokasi ke Pasar Terban yang berjarak sekitar 1,5 kilometer di sisi selatan.

Puluhan bangunan semi permanen tampak menyisakan atap yang tak lagi utuh. Beberapa kain terlihat berserakan di lantai.

Dari sisi timur, seorang pemulung berjalan sembari menenteng karung. Ia mencoba mengais sisa-sisa barang yang masih bisa dijual dari dalam lapak.

“Sudah pada pindah,” kata pemulung tersebut.

Ada sejak puluhan tahun lalu, lapak-lapak ini menyisakan sejumlah kenangan, terutama bagi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kampus UGM terletak di sisi timur deretan lapak tersebut, hanya berjarak sekitar 500 meter dari Bundaran UGM. Lokasi lapak memang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sleman.

Suasana trotoar di Jalan Dr Sardjito, Kota Yogyakarta, Kamis (22/1/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Salah satu yang memiliki kenangan dengan lapak tersebut adalah Ian Adam (28), alumni Filsafat UGM. Dahulu, ia tinggal di indekos di kawasan Terban. Deretan lapak ini menjadi andalannya untuk membetulkan celana.

“Itu (lokasi) kan arah pulang kuliah dan di situ banyak pilihan (lapaknya),” kata Ian, yang kini tinggal di Surabaya, melalui sambungan telepon, Kamis (22/1).

Ian mengatakan lapak permak jin di kawasan tersebut merupakan yang terbaik di Yogyakarta. Selain jumlahnya banyak, jam buka fleksibel, dan pengerjaannya cepat.

“Cuma mungkin minusnya parkirnya yang susah soalnya dekat lampu merah,” katanya.

Ketika mendengar jasa tersebut direlokasi, Ian menilai hal itu mungkin memang sudah saatnya, mengingat lapak-lapak tersebut berdiri di atas trotoar.

“Biar lebih terkoordinir, lebih rapi juga sih misalnya dipindah ke Pasar Terban,” jelasnya.

Suasana trotoar di Jalan Dr Sardjito, Kota Yogyakarta, Kamis (22/1/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Kenangan serupa juga dimiliki Febrianto Adi Saputro (30), yang menimba ilmu di UGM sejak jenjang S1 hingga S2. Ia memiliki pengalaman berkesan dengan jasa sol sepatu di lapak tersebut.

“Kan dulu wisuda S1 tahun 2016. Momennya itu habis acara di universitas. Itu sepatu emang sudah mangap lah istilahnya, kayak solnya enggak kuat gitu,” kata Febri, yang kini bekerja di Jakarta.

Usai wisuda, Febri harus menghadiri acara fakultas. Karena sepatunya jebol, ia memutuskan menuju lapak sol sepatu di Jalan Dr. Sardjito. Di sanalah ia menemukan penyelamatnya.

“Akhirnya minjem motor teman buat ke situ. Buat benerin sepatu. Sepatu pantofel satu-satunya, ya sudah sempatin dulu buat benerin ke situ,” katanya.

Suasana trotoar di Jalan Dr Sardjito, Kota Yogyakarta, Kamis (22/1/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Febri mengakui lapak-lapak tersebut merupakan langganan mahasiswa UGM. Saat mendengar kabar relokasi, ingatannya langsung kembali ke masa lalu. Ia juga kerap mengantar teman-temannya untuk permak jin, servis payung, hingga membuat cap stempel.

“Emang itu sebenarnya kan trotoar ya. Dulu enggak tahu kalau itu memang sebenarnya trotoar yang dipakai buat itu. Pas tahu infonya, ‘Oh ternyata untuk itu’, ya dikembalikan lagi ke fungsi awalnya,” katanya.

“Iya, emang itu kalau bayangan anak-anak mahasiswa dulu, kalau mau jahit celana atau benerin sepatu ya di situ. Pasti ke situ,” ujarnya.

Kata Wali Kota Yogyakarta

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo ditemui di SDN Pujokusuman 1, Kota Yogyakarta, Selasa (7/10/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan trotoar bekas lapak tersebut akan dikembalikan ke fungsi semula.

“Saya bikin pedestrian dan taman. Nanti kita bongkar semua rumah (lapaknya) penjahit permak jin,” kata Hasto.

Relokasi lapak permak jin ini telah direncanakan Hasto sejak pertama kali dilantik sebagai Wali Kota Yogyakarta setahun lalu.