Mengenang Mendiang Mbah Rudipah, Perajin Caping Kalo Asal Kudus

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Caping kalo asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.  Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Caping kalo asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Wafatnya Mbah Rudipah, perajin caping kalo asal Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memunculkan tantangan baru. Pasalnya, semakin sedikit warga di Kabupaten Kudus yang mau dan mampu menjadi perajin caping kalo.

Mbah Rudipah wafat pada Selasa (26/5) di usia 74 tahun. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai perajin caping kalo. Kepergiannya pun memunculkan kekhawatiran mengenai regenerasi perajin caping kalo di masa mendatang.

Caping kalo merupakan penutup kepala tradisional khas Kabupaten Kudus. Produk ini memiliki pola anyaman yang rumit dan biasanya digunakan dalam acara seremonial, kegiatan wisata dan kebudayaan, serta pertunjukan tari.

Sementara itu, Kamto, rekan sekaligus sesama perajin caping kalo, mengenang Mbah Rudipah sebagai sosok yang sangat terampil membuat caping kalo. Menurutnya, hasil anyaman Mbah Rudipah dikenal sangat rapi.

"Saya rekan kerja beliau, kami bersama-sama bikin caping kalo. Beliau itu pandai kalau bikin atasan caping kalo, hasilnya rapi," katanya kepada kumparan, Kamis (2/7).

Perajin caping kalo, Kamto menyelesaikan pembuatan caping kalo di teras rumahnya yang berada di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Kamis (2/7/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Kamto mengatakan tidak ada anggota keluarga Mbah Rudipah yang melanjutkan keahliannya membuat caping kalo. Menurutnya, proses pembuatan caping kalo memang tidak mudah. Dalam sepekan, seorang perajin biasanya hanya mampu menghasilkan dua caping kalo.

"Sepeninggal beliau memang tidak ada generasi yang melanjutkan. Termasuk anak beliau tidak ada yang melanjutkan," terangnya.

Kamto menjelaskan pembuatan caping kalo memerlukan keterampilan khusus. Bahkan, pemilihan bahan baku harus menggunakan bambu apus. Selain itu, proses membelah dan menghaluskan bambu juga membutuhkan ketelitian.

Sejak 2014, Kamto berkolaborasi dengan almarhumah. Keduanya mengerjakan caping kalo di rumah masing-masing sesuai pembagian tugas. Menurut Kamto, pembuatan caping kalo tidak dapat dikerjakan seorang diri, melainkan harus dilakukan dengan berbagi peran.

Perajin caping kalo, Kamto menyelesaikan pembuatan caping kalo di teras rumahnya yang berada di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Kamis (2/7/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Karya mereka pernah dipesan oleh Iriana Jokowi saat masih menjabat sebagai Ibu Negara pada 2022. Saat itu, utusan dari Istana datang langsung untuk memesan beberapa caping kalo.

"Bu Iriana Jokowi pernah pesan caping kalo ke kami untuk acara kirab bendera pusaka di tahun 2022 silam," ungkapnya.

Kini, Kamto menjadi satu-satunya perajin caping kalo di Desa Gulang. Ia terus berupaya mempertahankan eksistensi caping kalo sebagai warisan budaya Kudus.

Pria berusia 57 tahun itu merupakan generasi keempat di keluarganya yang menekuni kerajinan caping kalo. Keputusannya meneruskan profesi tersebut merupakan amanat sang ayah yang juga seorang perajin caping kalo.

Perajin caping kalo, Kamto menyelesaikan pembuatan caping kalo di teras rumahnya yang berada di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Kamis (2/7/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Setiap pagi sebelum berangkat bekerja sebagai tukang parkir di sebuah warung sate, Kamto menyempatkan diri membuat caping kalo. Proses pembuatannya dilakukan secara bertahap karena tidak dapat diselesaikan dalam satu waktu.

Banyaknya komponen dalam caping kalo membuat proses pembuatannya memakan waktu lama. Dalam sepekan, Kamto paling banyak hanya mampu menyelesaikan dua caping kalo.

Kamto menjelaskan bagian-bagian caping kalo, yakni rangkepan, jalon, rancangan haluan, gapit, dan iker-iker.

"Rangkepan ini diratakan dulu. Kemudian diberi pola dan dikasih jalon dengan cara dirangkap. Setelah itu dirangkai menggunakan daun rembuyung. Prosesnya panjang, makanya sepekan hanya bisa dua produk," jelasnya.

Perajin caping kalo, Kamto menyelesaikan pembuatan caping kalo di teras rumahnya yang berada di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Kamis (2/7/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Pembuatan caping kalo juga disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Setiap pelanggan memiliki ukuran berbeda, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.

"Ukuran diameter caping kalo untuk anak-anak yakni 27 sentimeter. Sedangkan remaja diameternya 29 sentimeter dan dewasa 32 sentimeter," ucapnya.

Tantangan menjadi perajin caping kalo tidak berhenti pada proses produksi. Kamto mengatakan minimnya generasi penerus juga dipengaruhi tingginya biaya produksi. Satu caping kalo membutuhkan biaya sekitar Rp 325 ribu.

Pembeli pun cenderung memilih produk yang lebih murah. Tak sedikit yang membeli caping kalo KW atau tiruan.

"Harga jualnya sekitar Rp 475 ribu. Terkadang masih ada yang menawar. Tantangan lainnya, hari ini saya buat, belum tentu besok ada yang membeli," jelas Kamto.

Perajin caping kalo, Kamto menyelesaikan pembuatan caping kalo di teras rumahnya yang berada di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Kamis (2/7/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Sebagai salah satu perajin caping kalo yang tersisa, Kamto berupaya mewariskan ilmunya melalui pelatihan. Namun, menurutnya, upaya tersebut belum berjalan maksimal.

"Peserta pelatihan setelah selesai masa pelatihan tidak melanjutkan secara mandiri untuk membuat caping kalo. Seharusnya kan dilakukan kontinyu," lanjutnya.

Kamto berkomitmen melanjutkan tradisi membuat caping kalo agar kerajinan tersebut tetap lestari di Kota Kretek.

"Saya akan tetap menjalankan nasihat ayah saya untuk melanjutkan membuat caping kalo. Upaya ini sekaligus melanjutkan tradisi dari bu Rudipah," imbuhnya.

Sementara itu, Sejarawan Kudus, Edy Supratno, mengatakan jumlah pembuat caping kalo terus berkurang. Menurutnya, diperlukan keterlibatan serius dari pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk menjaga keberlangsungan kerajinan tersebut.

"Sehubungan semakin minimnya orang yang membuat caping kalo, membutuhkan keterlibatan serius pemangku kepentingan untuk mulai beralih dari peran manusia ke mesin," ucapnya.