Lipsus Sintong- Mayjen Luhut Binsar Pandjaitan

Mengenang Pembajakan Woyla, Drama Taktis di Ujung Landas Pacu

8 Maret 2021 12:42
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
31 Maret 1981, pukul 02.35, dalam sebuah ruangan di Bandara Dong Muang, Thailand, sepasukan tentara Indonesia berkemas. Sejumlah anggota mengetes kelancaran handy-talky. Rompi antipeluru dan peralatan komunikasi telah dikenakan. Mereka harus siap bertempur, sebab waktunya telah tiba.
“Begitu pintu darurat terbuka, siapa pun yang ada di situ langsung kamu tembak,” kata Sintong Panjaitan.
“Tapi, Pak, kalau dia penumpang?” tanya seorang prajurit.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparanplus
Sintong Panjaitan, eks Pangdam Udayana dan eks Danjen Kopassus, mengajak kita kembali ke Orde Baru. Dari kacamata Sintong, sederet kisah Orba diungkap: pembebasan Woyla, Tragedi 98, Timor Timur, hingga cerita Habibie dan Prabowo di Istana.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten