Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8

ADVERTISEMENT
Hari ini, 48 tahun yang lalu, Presiden pertama RI Sukarno meninggal dunia. Sang Proklamator itu meninggal di usianya yang ke-69 tahun.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, kematian Sukarno tak seindah jasanya dalam memerdekakan bangsa ini. Peralihan kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto, menjadi titik awal penderitaan Pahlawan Nasional tersebut.
Pasca-peristiwa G30S/PKI, Soeharto berusaha untuk mengambil alih kekuasaan setahap demi setahap. Hal itu tersirat saat tiga perwira tinggi Brigadir Jendral M. Jusuf, Brigadir Jendral Amirmachmud, dan Brigadir Jendral Basuki Rahmat meminta Sukarno untuk menandatangani Surat Perintah 11 Maret--kerap dikenal sebagai Super Semar.
Surat ini memberikan kekuasaan kepada Mayjen Soeharto untuk “mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminya keamanan”.
Usai Super Semar ditandangani, keesokan harinya Soeharto langsung membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mendapat dukungan dari MPRS. Sejak saat itu, PKI diangggap sebagai partai terlarang.
Tak berhenti sampai di situ, keluarnya Super Semar yang ditandangani Sukarno membuat ia mesti terisolasi. Atas titah Soeharto, Proklamator itu harus tinggal di Istana Batu Tulis, Bogor.
ADVERTISEMENT
Di sana Sukarno dilarang untuk berkomunikasi dengan menteri dan para tentara yang masih setia padanya.
Setelah diberhentikan sebagai presiden dalam Sidang Istimewa MPRS pada Mei 1967, Sukarno kian terisolasi dan tak punya kuasa. Terlebih, ia akhirnya dipindah dari Istana Batu Tulis, ke Wisma Yasoo, kediaman pribadinya di Jakarta Selatan.

Selama tinggal di Wisma Yasoo, Sang Proklamator itu diasingkan dari rakyat dan keluarganya. Karena pengasingan itu, kesehatannya menurun drastis: menjadi linglung dan suka bicara sendiri.
Kesehatan Sukarno menurun sejak Agustus 1965. Saat itu, ia divonis mengidap gangguan ginjal dan pernah menjalani perawatan di Wina, Australia. Karena kesehatannya kian parah, dokter menyarankan agar ginjal Sukarno diangkat.
Namun Sukarno menolak. Ia lebih memilih pengobatan tradisional sebagai alternatif untuk menyembuhkan penyakitnya. Di luar dugaan, Sukarno berhasil bertahan melawan penyakitnya hingga tahun 1970, sebelum akhirnya meninggal pada 21 Juni.

Ia meninggal saat dirawat di RSPAD Gatot Subroto. Kematian Sukarno dikabarkan langsung oleh tim dokter Kepresidenan yang dipimpin oleh Prof. Dr. Mahar Mardjono. Ia menyebut, pada Sabtu 20 Juni, pukul 20.30 WIB, kesehatan Sukarno semakin memburuk.
ADVERTISEMENT
Di hari berikutnya, sekitar pukul 03.50 WIB, Sukarno berada dalam kondisi tak sadarkan diri. Kemudian pada pukul 07.00 WIB, Putra Sang Fajar itu dinyatakan meninggal dunia.
Sebelumnya, Sukarno meminta agar ia dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat. Namun permintaan itu ditolak Soeharto, yang saat itu menggantikan Sukarno menjadi presiden. Saat itu, ia memerintahkan agar Sukarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Perintah itu dituangkan ke dalam Keppres RI No. 44 tahun 1970.
Donald Trump mengumumkan tarif impor baru ke banyak negara yang menjadi dimulainya genderangan perang dagang Trump, Rabu (2/4) malam waktu AS. Indonesia termasuk negara yang terdampak kebijakan baru ini. Tarif Impor Baru Trump, Indonesia Kena 32%