kumparan
22 Maret 2019 21:33

Mengharu kala Berbagi Donasi bagi Anak Korban Becak Rasilu

Crowdfunding, Rasilu
Wa Oni (berkerudung, kedua dari kiri) bersama keluarga almarhum Maryam. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Bagi Wa Oni, berada selama dua jam di sebuah rumah di Gang Silalae, Kelurahan Silalae, Kecamatan Nusaniwe, Ambon, amat berharga. Di sanalah, pada Jumat (22/3), ia menyerahkan donasi yang ia terima kepada keluarga Maryam sekaligus penghuni rumah.
ADVERTISEMENT
Dua keluarga ini awalnya tak saling kenal. Mereka dipersatukan dalam tragedi pada 23 September 2018 ketika Rasilu, suami Wa Oni, mengantarkan Maryam dengan becaknya. Becak itu terguling dan--singkat cerita--Maryam meninggal pada 28 Oktober 2018.
Kisah Rasilu mendapat banyak simpati setelah ia dituntut penjara selama dua tahun pada 15 Februari 2019. Rasilu diadili kendati pihak keluarga Maryam sudah mencabut pelaporannya ke polisi. Publik berbondong-bondong berdonasi untuk pendidikan anak Rasilu, Aisa, hingga terkumpul Rp 771 juta.
Rasilu, Wa Oni, Ambon
Rasilu dipeluk kakaknya, Hamirin, di Rumah Tahanan kelas IIA, Ambon. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Sebagian uang itu digunakan untuk bersilaturahmi, mengantarkan Wa Oni ke Ambon dari rumahnya di Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Wa Oni berseloroh, sesungguhnya ia sejak lama ingin ke Ambon untuk menemui keluarga Maryam, tapi tak punya uang untuk membayar tiket pesawat atau kapal.
ADVERTISEMENT
kumparan menyaksikan penyerahan sebagian donasi itu. Wa Oni, yang datang bersama Hamirin, kakak Rasilu, mengaku sempat takut dan tak enak hati. Namun, ia lantas melihat anak Maryam satu-satunya yang bernama Yamin. Wa Oni langsung teringat kepada kelima anaknya sehingga ia merasa ikut bertanggung jawab kepada Yamin.
Rencananya, donasi tersebut diperuntukkan sebagai dana pendidikan untuk Yamin yang kini duduk di bangku akhir SMA Muhammadiyah.
Ketika penyerahan donasi itu berlangsung, Yamin sedang tidak berada di rumah. Paman Yamin, Jufri Muhrim, sebagai perwakilan keluarga lah yang menerima donasi.
"Insyaallah dia (Yamin) setelah lulus sekolah ini mau lanjut kuliah di sekolah pelayaran, Semarang," kata Jufri.
Menurut Jufri, Yamin memang kerap tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Kadang Yamin terlihat diam dan tertutup. "Bagaimanapun, dia sekarang masih merasa kehilangan sekali, sekarang saya sama istri dianggap sebagai orang tuanya dan berupaya agar dia tidak merasa kehilangan lagi," katanya. "Semoga dia bisa melupakan kejadian itu. Pada prinsipnya, keluarga sudah ikhlas."
(NOT COVER) Crowdfunding, Rasilu
Jufri Muhrim (paling kanan) saat bertemu keluarga Rasilu. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Jufri bercerita, ia sempat sedih lantaran banyak kabar miring yang menyudutkan keluarganya lantaran dianggap sebagai pihak yang menjebloskan Rasilu ke penjara.
ADVERTISEMENT
"Namun kini pihak keluarga sudah ketemu dan persoalan ini sudah selesai tidak perlu dibesar-besarkan," ujar Jufri.
Adapun jumlah bantuan yang diberikan kepada Yamin sebesar Rp 100 juta. Dana tersebut diambil dari hasil crowdfunding yang diinisiasi oleh kumparan untuk dana pendidikan Aisa beserta keempat adiknya.
Campaign melalui platform kitabisa.com berhasil mengumpulkan donasi dari 11.119 donatur yang totalnya mencapai Rp 771.011.681. Penyaluran dana nantinya akan dibantu secara teknis dan dimonitor oleh tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) serta relawan di daerah tersebut.
"Semoga bantuan ini tidak hanya meringankan tapi juga memberi semangat bahwa dia masih bisa sekolah, masih bisa belajar, masih bisa punya teman," kata Jufri.
Untuk mengikuti perkembangan campaign dana pendidikan untuk Aisa, bisa terus dibaca di kumparan.com dengan topik 'Crowdfunding Aisa'.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan