Menguak Kejayaan Nusantara Lewat Jalur Rempah: dari Tiongkok hingga Timur Tengah
·waktu baca 4 menit

Indonesia sejak berabad lalu dikenal sebagai pusat rempah dunia. Jalur rempah terbentang dari Tiongkok, Timur Tengah, India, hingga Eropa menuju nusantara. Bagaimana kisahnya?
Menurut Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbud, Restu Gunawan dalam keterangannya, Minggu (18/9), jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki teknologi perkapalan yang canggih.
Kapal-kapal ini digunakan untuk mengarungi samudra dengan tujuan berniaga. Rempah sebagai komoditas utama, juga menjadi alasan berbagai bangsa hadir ke Nusantara dan membentuk Jalur Rempah, sebuah jalur yang menjadi rute nenek moyang kita menjalin hubungan dengan bangsa lain.
"Jalur Rempah terbentuk bermula dari pencarian rempah-rempah yang tumbuh di Nusantara dan dibawa menuju dunia luar. Jalur inilah yang membentang dari Nusantara, Tiongkok, Timur Tengah, India, sampai ke Eropa," beber Restu.
Restu menjelaskan, Jalur Rempah mengingatkan kembali akan sebuah memori tentang kejayaan Nusantara sebagai negara penghasil rempah terbesar di dunia dan melihat kejayaan rempah dari geladak kapal sendiri.
Jalur Rempah pula yang membuat kebudayaan Indonesia hari ini menjadi kaya dan beragam.
"Aktivitas dagang nenek moyang kita dengan pedagang lintas bangsa menghasilkan keragaman budaya yang ada di penjuru Nusantara. Saudagar dari berbagai bangsa datang dan berinteraksi dengan masyarakat lokal dan menciptakan budaya baru. Kebudayaan masyarakat asli dengan pendatang berakulturasi dan berasimilasi satu sama lain hingga menghasilkan tradisi baru," urai dia.
Jejak kejayaan Jalur Rempah pada masa silam masih bisa ditemukan di seluruh Nusantara. Salah satunya di Jambi, yang jejaknya sampai hari ini masih bisa disaksikan.
Melalui Sungai Batanghari, Jambi diramaikan oleh pedagang dari berbagai bangsa dengan tujuan berniaga dan seiring berjalannya waktu juga menyebarkan ajaran agama dan budaya.
"Situs Kompleks Percandian Muarojambi dan Situs Solok Sipin merupakan beberapa bukti peninggalan yang masih ada hingga saat ini," tegas dia.
Keberadaan Cagar Budaya Muarojambi pada masa lalu erat kaitannya dengan sejarah daerah Jambi pada masa berdirinya Kerajaan Melayu dan Sriwijaya.
Jambi selain sebagai pusat pemerintahan, juga menjadi pusat perdagangan. Peran Jambi dalam perdagangan internasional disebutkan dalam kitab sejarah Dinasti Tang yang menceritakan tentang kedatangan misi dagang dari Chan-pi atau Pi-chan ke Tiongkok pada tahun 853 dan 871 M.
Pusat perdagangan di Jambi tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan jalur sungai yang banyak ditemukan di wilayah ini.
"Saat ini, Kemendikbudristek melalui Ditjen Kebudayaan sedang mengajukan Jalur Rempah sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Diperlukan dukungan dari berbagai pihak dan stakeholders agar mimpi kita bersama ini bisa terwujud," urai dia.
Karena itu, lanjut Restu, Seminar Internasional Melayu dalam Jaringan Perdagangan Dunia ini menjadi salah satu upaya dalam mewujudkan hal tersebut.
Direktorat Jenderal Kebudayaan melalui Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyelenggarakan Seminar Internasional Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia Senin, 19 September 2022 di Gedung Rektorat Universitas Jambi.
Seminar internasional ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Kenduri Swarnabhumi yang dilaksanakan sejak 12 Agustus 2022 hingga 22 September 2022 di Jambi.
"Melayu diangkat sebagai tema utama seminar sebab seperti yang kita ketahui, sejak masa silam, peradaban Melayu berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan, peradaban dunia, serta perdagangan global," urai Restu.
Sungai Batanghari Salah Satu Pusat Jalur Rempah
Melalui Sungai Batanghari dan anak-anak sungainya, komoditas lokal seperti gaharu, damar, gading, serta emas menjadi barang niaga andalan pada waktu itu.
Komoditas tersebut selanjutnya ditukar dengan barang-barang dari luar, seperti Tiongkok, Thailand, Kamboja, Myanmar, Arab atau Persia, India, dan lain-lain berupa keramik, barang-barang logam, peralatan dari kaca, pakaian, sutera, dan sebagainya.
"Sungai Batanghari yang menjadi jalur pusat perdagangan, membuat wilayah Jambi ramai disinggahi oleh pedagang lintas bangsa sebab sungai ini menjadi pintu masuk para saudagar. Berbagai jejak peradaban ditemukan di sepanjang Sungai Batanghari, salah satunya Kompleks Percandian Muaro Jambi yang masih bisa disaksikan hingga hari ini," beber Restu
Lewat seminar tersebut, tambah dia, dapat digali, dipetakan dan didefinisikan kembali Melayu dalam ruang lingkup yang sesungguhnya sebagai sebuah dunia Melayu dengan keberagaman etnis, budaya, dan geografis (lintas negara).
Kemudian, untuk kepentingan peradaban Melayu masa depan, perlunya strategi nyata untuk pemberdayaan potensi material dan kultural negara serumpun Melayu dalam menghadapi tantangan abad ke depan.
"Jalur Rempah merupakan warisan bersama, bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga milik dunia. Jalur Rempah dapat dijadikan kekuatan ekonomi berbasis pengetahuan lokal dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar dari masa lalu untuk menggali kembali potensi yang dimiliki Indonesia," tuturnya.
Berbagai tema materi dari pembicara di antaranya “The Archaeology of the Spice Trade” oleh Prof. Peter Vandervord Lape, “Malays’ Spice Commodities Trade in Nusantara’s Spice Routes” oleh Prof. Amarjiva Lochan, serta “Rempah untuk Kesehatan dalam Budaya Melayu” oleh Pinky Saptandari.
