Mengulas Pidato Prabowo soal RI Bubar 2030: Warning atau Pesimisme?

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)

Republik Indonesia yang terdiri dari 17.504 pulau seluas 1,9 juta kilometer persegi diprediksi akan bubar pada tahun 2030 mendatang. Prediksi itu dilontarkan oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam pidato yang diunggah di akun Facebook partainya.

Dalam pidato tersebut, awalnya Prabowo menyinggung meski nasionalisme masih berkibar di hati rakyat Indonesia, namun rupanya di negara lain justru kajian tentang bubarnya Republik Indonesia pada tahun 2030 sudah dibuat.

"Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030," ucap Prabowo.

Dalam kajian tersebut, Prabowo menyebutkan bubarnya Indonesia disebabkan oleh elite-elite bangsa yang merasa menguasai 80 persen tanah di seluruh negeri. Sementara, hanya 1 persen saja rakyat yang memperoleh hak penuh atas tanah dan air.

"Bahwa sebagian besar kekayaan kita diambil ke luar negeri, tidak tinggal di Indonesia. Tidak apa-apa. Ini yang merusak bangsa kita," tambahnya.

Prabowo mengatakan, semakin pintar dan semakin tinggi kedudukan seseorang, maka ia akan semakin mudah berbuat kecurangan. Bahkan, menurutnya, dengan kedudukan yang tinggi tersebut, orang justru akan semakin culas dan tidak segan-segan untuk mengambil yang bukan haknya di Indonesia.

"Tidak enak kita bicara, tapi sudah tidak ada waktu untuk kita pura-pura lagi," ucapnya.

facebook embed

Pidato berdurasi 1 menit 14 detik itu langsung menuai banyak reaksi. Prabowo dituding menyebarkan pesimisme dengan menyebutkan Indonesia akan bubar. Meski, dalam caption video tersebut disebutkan Prabowo hanya mengingatkan bahwa meski Indonesia begitu kaya, namun masyarakatnya terus miskin karena membiarkan para komprador menguasai sumber daya alam Indonesia.

Masih dalam caption yang sama, disebutkan para elite hanya menutup mata dan telinga ketika banyak rakyat Indonesia berteriak kelaparan, kesulitan dalam memperoleh akses kesehatan yang layat, serta mahalnya pendidikan yang bermutu.

"Mari kita pertahankan momentum peperangan melawan koruptor dan komprador. Koruptor adalah mereka yang mengambil apa yang sudah menjadi uang rakyat untuk perut sendiri. Komprador adalah mereka yang membantu menjarah, atau membiarkan penjarahan serta pengiriman kekayaan alam nusantara ke luar negeri," kata Prabowo dalam caption video tersebut.

Prabowo Subianto (Foto: AFP PHOTO / Adek Berry)
zoom-in-whitePerbesar
Prabowo Subianto (Foto: AFP PHOTO / Adek Berry)

Wasekjen DPP Gerindra Andre Rosiade bahkan menegaskan bahwa pidato Prabowo tersebut semata-mata merupakan bentuk keprihatiannnya terhadap kondisi bangsa. Ia juga menilai, pidato tersebut bertujuan untuk menggugah semangat dan kesadaran rakyat akan tetap bersatu dan selalu waspada sebagai bangsa.

"Dan juga ke depan, para pejabat yang diberikan amanah harus berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara. Sehingga Indonesia yang sejahtera bisa diwujudkan. Bukan hanya sekadar wacana," ujar Andre itu kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (21/3).

Andre juga menyebutkan, pidato tersebut berdasarkan dari fakta yang ada. Sehingga, ia menilai ini bukan saatnya lagi bagi para elite politik membuai masyarakat dengan kata-kata indah padahal realitanya negara sedang dalam kondisi mencemaskan.

"Bangsa ini baik penguasa maupun masyarakat harus berubah agar menjadi lebih baik, ini yang diingatkan Pak Prabowo untuk kebaikan bangsa, bukan hanya yang manis dan indah saja sekadar untuk jadi capres," kata Andre.

Fadli Zon (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Fadli Zon (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

Hal yang sama juga ditanyakan kepada Wakil Ketua Partai Gerindra, Fadli Zon. Fadli justru berpendapat pidato ketua umumnya tersebut sebagai bentuk peringatan agar jangan sampai Indonesia menjadi salah jalan seperti halnya Uni Soviet yang sempat menjadi salah satu negara kuat sebelum akhirnya bubar.

"Kalau kita salah jalan, kita bisa bubar. Justru kita tidak ingin kita itu bubar. Jangan sampai kita salah jalan. Menurut saya ini kita sudah banyak salah jalan ya masuk ke jerat utang dan lain-lainya," ucap Fadli.

Tidak hanya Fadli saja yang menilai pidato tersebut sebagai sebuah peringatan, Wakil Ketum PAN Hanafi Rais juga berpendapat yang sama. Ia juga meminta agar publik menjadikan pidato tersebut sebagai early warning untuk mencegah bubarnya negara di tahun 2030 benar-benar terjadi.

Putra dari Amien Rais itu juga berpendapat elite politik dan seluruh komponen bangsa bisa belajar dari kasus negara-negara lain yang sudah bubar. Seperti misalnya Uni Soviet dan Yugoslavia yang terpecah dan menjadi negara-negara kecil karena tidak dikelola dengan baik.

"Itu warning kalau negara ini tidak dikelola dengan baik, jangan-jangan nanti yang terjadi di Soviet, Yugoslavia, terjadi juga sama kita," kata Hanafi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/3).

Rachland Nashidik, juru bicara Partai Demokrat (Foto: Iqra Ardini/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rachland Nashidik, juru bicara Partai Demokrat (Foto: Iqra Ardini/kumparan)

Namun, tentu saja tidak semua setuju dengan pendapat Prabowo tersebut. Misalnya, Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik yang justru menilai meski Prabowo sebenarnya peduli dengan keadaan Indonesia, namun cara yang digunakan kurang tepat.

"Saya kira, niat Pak Prabowo sebenarnya baik. Ia mau mengajak kita lebih mempedulikan Indonesia. Mungkin adalah gaya khas beliau saja bila ia melakukan itu dengan cara meniupkan ketakutan," kata Rachland melalui keterangan tertulis, Rabu (21/3).

Sebab, menurut Rachland, Prabowo hanya mengutip satu hasil studi soal perkembangan geopolitik intenasional yang menyatakan pesimisme saja. Rachland menyebut, masih banyak studi lain yang justru menyajikan prediksi sebaliknya, Indonesia akan semakin kuat di tahun 2030.

"Indonesia di situ dilukiskan sebagai negara demokrasi yang bertambah kuat dan berpengaruh, dengan kesejahteraan rakyatnya yang meningkat pesat," ujarnya.

Demokrat Kukuhkan AHY Sebagai Ketua Kogasma (Foto: Paulina Herasmanindar/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Demokrat Kukuhkan AHY Sebagai Ketua Kogasma (Foto: Paulina Herasmanindar/kumparan)

Ia kemudian membandingkan pesimisme Prabowo dengan visi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Menurutnya, meski sama-sama mengajak untuk peduli dengan Indonesia, AHY justru menawarkan optimisme dengan visinya mencapai Indonesia Emas 2045.

"Seperti Pak Prabowo, AHY pun mengajak kita lebih mempedulikan Indonesia. Bedanya, AHY menawarkan optimisme, bukan menakut-nakuti. Itu beda pemimpin zaman now dari pemimpin zaman old," tuturnya.

Rachland juga menyebutkan, ini bukan pertama kalinya Indonesia diramalkan mengalami nasib buruk. Menurutnya, saat Indonesia memperkenalkan proyek desentralisasi dan otonomi daerah yang sangat massif serta radikal, sempat diprediksi republik ini akan mengalami nasib seperti negara-negara Balkan.

"Buktinya Indonesia tidak bubar, bahkan berhasil mengatasi masalah separatisme dan konflik etnis dengan perdamaian dan penegakan hukum," pungkasnya.