Mengunjungi Gang Nangka, Kampung 'Pelangi' Langganan Juara Kebersihan

Kesan asri begitu terasa saat memasuki kawasan Gang Nangka di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Beragam tanaman gantung dan lukisan berjajar di dinding rumah-rumah warga, serasi dengan keindahan jalanan aspal yang sengaja dicat warna-warni.
Lokasi kampung ini tak sulit dicari. Hanya sekitar 3,4 kilometer dari stasiun dan terminal Tanjung Priok. kumparan menggunakan transportasi ojek online dari stasiun menuju kampung di Gang Nangka ini, yang tepatnya beralamat di RT 04 RW 02, Kelurahan Papanggo.
Tak hanya indah dipandang, saat kumparan berjalan menyusuri kawasan padat penduduk itu, tidak terlihat sampah berserakan sejauh mata memandang. Tak heran, perkampungan itu jadi langganan juara lomba lingkungan bersih se-DKI.
Meski rumah-rumah di sana berhimpitan, suasana kumuh sama sekali tak terasa. Setiap gang kecil di sana dipenuhi tumbuh-tumbuhan hijau, banyak hiasan cantik dari daur ulang botol plastik bekas yang digantung di sepanjang gang, kicau indah suara burung peliharan warga juga terdengar saling bersahutan.

Di beberapa titik jalan gang terpasang poster bertuliskan imbauan menjaga kebersihan. Westafel (tempat cuci tangan) juga terpasang di setiap sudut rumah warga, lengkap dengan sabun pencuci tangan.
Ibu RT 14, Wiharsih, mengaku keindahan dan kebersihan wilayahnya adalah hasil gotong-royong warga yang rutin kerja bakti. "Minimal 2 minggu sekali kita kerja bakti," ujar Wiharsih kepada kumparan, Sabtu (14/4).
Sebelum disulap menjadi kampung yang indah dan asri seperti sekarang ini, menurut Winarsih kampungnya itu punya got yang sangat besar, sehingga jalan gang yang kecil tampak semakin sempit.
"Dulu gangnya punya got besar itu, jalannya kecil, terus kesepakatan warga kita uruk separuh. Kita masing-masing patungan per KK dimintai dana berapa gitu," ucapnya.

Wiharsih melanjutkan, semangat warga membersihkan dan mempercantik kampung ini bermula saat menjadi peserta lomba kebersihan kampung tingkat Provinsi DKI di tahun 2008. Setelah mengikuti lomba tersebut, warga rupanya ketagihan mengikuti lomba-lomba serupa lainnya.
"Dulu itu dari tahun 2008 dulu tingkat provinsi. Kemudian sering ikut lomba lagi, seperti (Kampung) Binaan Astra menang 3 kali, sampai sudah enggak boleh ikut biar kampung lain dapat kesempatan jadi lebih baik juga. Yang (sekarang) ini ikut lomba dari pemerintah," terang Wiharsih.
"Kita warga semua karena kita sering ikut lomba, kita mikir bagaimana ini biar gang ini kelihatan yang warna-warni supaya beda, ya dibuat seperti ini. Itu ide semua ini dari warga semua. Ingin gang ini sejuk, bersih, menang atau kalah yang penting nyaman buat warga," imbuhnya.

Keunggulan yang dimiliki kampung ini selain cat jalanan dan temboknya yang berwarna-warni, adalah deretan tanaman hidroponik di sana hingga tersedianya tempat pengolahan pupuk kompos.
"Pertama hidroponik, kedua ada tanaman toganya, (pengolahan) pupuk kompos, bank sampah," kata Winarsih.
Sementara itu salah seorang warga, Herlina, mengaku warga di kampungnya jarang mengeluh letih meski sering melakukan kerja bakti, dan justru berbahagia berbahagia dengan hasil keringat gotong royong mereka.
"Seneng bangga ya gitu, pokoknya capeknya hilang lah. Kerjanya lembur-lembur (kerja bakti) tiap hari, sudah lega lah. Turun tangan langsung warganya," ucap Herlina.
