Mengunjungi Khaibar, Oasis Bersejarah di Tengah Gurun Saudi

29 Agustus 2019 16:48 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Benteng Kamous di Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Benteng Kamous di Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
ADVERTISEMENT
Jujur saja, kami awalnya kebingungan mencari benteng Khaibar yang terkenal ketika tiba di kota itu. Yang kami dapati justru perumahan kuno dengan tembok batu kokoh yang ditempel dengan lumpur. Namun berkat kebaikan seorang warga lokal, kami berhasil menemukan benteng tersebut, saksi bisu peperangan dahsyat di masa Nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam.
ADVERTISEMENT
Perjalanan kumparan dan tim Media Center Haji dimulai pagi hari dari Madinah menuju Khaibar yang terletak sekitar 150 kilometer jauhnya. Perjalanan berjarak seperti Jakarta-Bandung itu ditempuh kurang dari 2 jam. Wajar saja, jalan tolnya lengang hanya satu-dua mobil dengan jarak sekitar 3 kilometer.
Jalanan lengang di tengah kebun kurma di Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Berbekal petunjuk dari Google Map, kami sampai di Khaibar sekitar pukul 10 pagi. Matahari seperti biasanya, terik menerjang kulit. Suhu tertera mencapai 40 derajat Celcius. Tujuan kami satu, mengabadikan benteng Yahudi pada Perang Khaibar, lebih dari 1.400 tahun lalu.
Oasis di Saudi
Sepanjang jalan di Khaibar, kebun kurma di mana-mana, selain tentu saja gurun yang membentang luas. Kota ini memang dikenal sebagai oasisnya Arab Saudi. Terletak di tengah-tengah pegunungan berapi hitam terbesar di Saudi, Khaybar di zaman dulu dilalui aliran lahar panas.
ADVERTISEMENT
Keterangan di situs Volcano Discovery menyebut, setidaknya menurut penelitian ada delapan kali aliran lahar melintasi Khaibar dalam sejarah. Namun sejak masa Nabi, hanya tercatat satu kali letusan gunung berapi di Khaibar, yaitu pada abad ke-7 Masehi.
Rumah kuno di Kampung bersejarah di kota Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Dilalui lahar, tanah Khaibar menjadi subur dan gembur. Selain itu, di tempat ini ada 30 mata air. Lahannya menjadi mudah ditumbuhi berbagai tanaman, salah satunya yang terbanyak adalah kurma. Konon, nama Khaibar berarti tanah yang subur bagi pertanian.
Sepanjang perjalanan, kami menyaksikan kurma-kurma muda bergelantungan di pohonnya. Tidak hanya diambil buahnya, pohon kurma banyak faedah lainnya. Batangnya bisa dijadikan pondasi rumah, dan pelepahnya bisa dijadikan pelapis dinding. Itulah yang kami lihat di desa budaya Khaibar.
Kampung bersejarah di kota Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Di desa ini, ratusan rumah-rumah kuno seperti zaman Nabi masih berdiri tegak. Tembok-temboknya terbuat dari batu-batu besar yang direkatkan dengan tanah lumpur. Sebagai kusen pintu, digunakan batang kokoh pohon kurma. Beberapa terlihat melengkung akibat beban berat yang disangga.
ADVERTISEMENT
Beberapa rumah dibuat bertingkat dengan banyak kamar berventilasi udara di dalamnya. Lantainya tanah berpasir. Menyaksikan ini, kami takjub dengan teknologi arsitektur zaman dulu. Dengan bahan seadanya, rumah tersebut masih kokoh berdiri hingga saat ini.
Rumah kuno di Kampung bersejarah di kota Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Ketika memasuki kamar di dalam rumah tersebut, aneh, udaranya justru sejuk. Padahal di luar sedang panas terik. Barangkali karena materialnya dari tanah sehingga menyerap panas, atau saking tebalnya tembok sehingga panas tak tembus, entahlah.
Dengan teknik tembok ini, warga Arab masa lampau bisa bertahan hidup di tengah cuaca ekstrem tanpa pendingin udara.
Rumah kuno di Kampung bersejarah di kota Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Perang Khaibar
Tapi Khaibar bukan cuma soal kebun kurma dan rumah kuno. Di kota ini, pernah terjadi perang dahsyat antara pasukan Nabi dengan tentara Yahudi. Sumber lain menyebut nama Khaibar diambil dari bahasa Ibrani yang berarti benteng. Ketika itu, Khaibar merupakan tempat perlindungan Yahudi dengan benteng-benteng kokoh, menjadikannya kota paling terlindungi di dunia pada masanya.
ADVERTISEMENT
Setidaknya ada delapan benteng yang tercatat di Khaibar berdasarkan sumber media Saudi. Ini adalah tujuan kami: menyaksikan kemegahan benteng.
Rumah kuno di Kampung bersejarah di kota Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Awalnya kami kebingungan mencari di mana lokasi benteng tersebut. Tidak ada yang bisa ditanyai. Seperti kota kecil lainnya di Saudi, hampir tidak ada orang di jalanan pada siang hari yang panas. Aktivitas lebih hidup di sore dan malam hari.
Akhirnya, kami menuju sebuah toko dan bertanya kepada penjaga toko tersebut. Di luar dugaan, pria dari Pakistan itu malah menawari diri mengantarkan kami. "Ayo saya antar," kata dia.
Kebun kurma di Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Tanpa banyak bicara dia naik ke mobilnya, menuntun kami ke Benteng Kamous, sebuah benteng pertahanan di atas gunung batu.
Pada bulan Muharram tahun ke-7 Hijriah, Nabi Muhammad dan pasukannya menyerbu Khaibar yang dihuni umat Yahudi yang melanggar perjanjian damai. Benteng-benteng Khaibar dikepung, dan salah satu pertempuran paling bersejarah terjadi di Benteng Kamous.
Benteng Kamous di kota Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Di hadapan benteng ini, Ali bin Abi Thalib, yang ditunjuk Nabi sebagai pembawa panji, bertarung satu lawan satu melawan jagoan Yahudi Khaibar bernama Marhab. Ali berhasil membunuh Marhab. Dua orang jagoan Yahudi lainnya juga tewas dalam perang tanding melawan Ali, yaitu Rabih bin Abu Aqiq dan Yasir.
ADVERTISEMENT
Kekalahan tiga jagoan Yahudi membuat mental mereka ciut. Pasukan Nabi langsung menyerbu benteng Kamous setelah Ali membuka gerbangnya. Padahal, saat itu Kamous dijuluki sebagai benteng yang mustahil tertembus.
Benteng Kamous di kota Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Julukan itu bukan sembarangan. Terletak di atas gunung batu, dari benteng Kamous para pemanah Yahudi bebas mengincar targetnya. Bebatuan terjal dan besar juga menyulitkan pasukan untuk menaikinya. Ketika kami menaikinya, beberapa kali tergelincir oleh pasir yang mudah luruh.
Akustik dari atas benteng juga baik sekali untuk menyampaikan instruksi serangan. Buktinya, kawan kami yang berada di atas benteng masih terdengar suaranya dari jauh di bawah kendati dia tidak berteriak.
Benteng Kamous di kota Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Saat perjalanan menuju benteng itu kami juga mendapati banyak genangan air membentuk rawa-rawa kecil. Saat ini benteng tersebut dikelilingi pagar besi untuk menjaga kelestariannya. Kami juga menemui beberapa anjing liar di tempat ini. Sepertinya juga banyak keledai liar, tapi kami tidak menemukannya hanya mendapati banyak sekali kotorannya.
ADVERTISEMENT
Perang Khaibar dimenangi oleh pasukan Nabi, dan kota itu dikuasai umat Islam. Terjadi kesepakatan antara umat Yahudi, yaitu pembagian hasil pertanian. Namun dalam peristiwa itu, Nabi diracuni makanannya oleh seorang Yahudi.
Kebun kurma di Khaibar. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Kota Khaibar kini masih menjadi lokasi pertanian kurma. Bahkan, Khaibar adalah pemasok besar kurma ke Madinah. Khaibar kini juga menjadi kota industri dengan berbagai tempat usaha yang tersebar di sepanjang jalan. Kota ini menjadi persinggahan para musafir dalam perjalanan menuju Yordania, Suriah, atau Lebanon.