kumparan
25 Maret 2019 10:40

Mengunjungi Rumah Singgah Bagi Pasien Kurang Mampu di Aceh

Suasana di Rumah Singgah “Penginapan” Pasien Kurang Mampu di Jalan Cumi-cumi, Lampriet, Banda Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Rumah sederhana berkonstruksi beton itu berdiri di Jalan Cumi-cumi, Lampriet, Banda Aceh. Di terasnya tampak beberapa orang wanita dan pria berusia muda duduk di atas kursi kayu panjang. Mereka terlihat larut dalam sebuah perbincangan.
ADVERTISEMENT
Dinding-dinding depan rumah itu dipenuhi ragam foto aksi kegiatan sosial. Sebuah spanduk berwarna merah bertuliskan Rumah Singgah Blood for Life Foundation. Di bawahnya ada tulisan rumah sementara untuk pasien kanker, hemofili, dan thallasemia.
Rahamia (47) mondar-mandir di halaman rumah. Wajahnya setengah gundah, pasien asal Simeulue itu akan menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.
Selama proses pengobatan berlangsung, Rahamia tinggal di Rumah Singgah BFLF. Dia tidak lagi memiliki rambut, benjolan kecil akibat tumor masih membekas di kepala, tepatnya di sisi belakang telinga kanan.
“Tumornya sudah diangkat tapi masih bengkak kadang-kadang keluar air,” katanya saat kumparan berkunjung ke rumah singgah tersebut pada Senin (25/3). Rahamia sudah dua bulan tinggal di sana.
Suasana di Rumah Singgah “Penginapan” Pasien Kurang Mampu di Jalan Cumi-cumi, Lampriet, Banda Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Faktor jarak dan tak adanya keluarga di Banda Aceh menjadi salah satu alasan mengapa dia memilih tinggal di rumah singgah.
ADVERTISEMENT
“Sudah dua bulan di rumah singgah. Kenapa di sini? karena di Banda Aceh tidak ada saudara. Kemoterapi yang saya jalani juga menyisakan 4 kali lagi. Setelah kemo itu kan sakit, tidak bisa pulang, terus sementara jarak dari Banda Aceh ke Simeulue jauh enggak mungkin bolak-balik saya tidak punya biaya,” keluhnya.
Selama berada di rumah singgah, Rahamia mendapat keluarga baru. Meski saling berjuang melawan penyakit, silaturahmi antar-pasien berjalan begitu harmonis. Mereka saling membantu satu sama lain, membersihkan rumah, masak bersama, hingga saling berbagi cerita dengan latar belakang daerah berbeda.
Bagi Rahamia kehadiran rumah singgah cukup membantu mereka. Mengingat faktor ekonomi serta tidak memiliki keluarga di Ibu Kota Provinsi Aceh itu.
ADVERTISEMENT
“Bersyukur sekali bisa tinggal di sini (Rumah Singgah) cukup membantu kami pasien kurang mampu dan jauh ini,” ungkapnya.
Michael Octaviano, pemilik Rumah Singgah “Penginapan” Pasien Kurang Mampu di Jalan Cumi-cumi, Lampriet, Banda Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Hal serupa juga dirasakan keluarga Irah (48) warga asal Blangkejeran, Gayo Lues. Perempuan itu terkulai lemas di atas tempat tidur, posisinya miring ke kanan. Tatapannya kosong, tubuhnya kurus. Sesekali berbisik kepada Sumarno (20) sang anak yang berada di sebelahnya.
Irah bersama putra dan suaminya menempati kamar paling belakang rumah singgah. Mereka baru lima hari berada di sana.
Irah mengindap penyakit tumor yang semakin membesar di bagian perut. Sejak 2018, penyakit itu bersarang di tubuhnya. Lagi-lagi faktor ekonomi menjadi alasan keluarga ini enggan dirujuk ke Banda Aceh.
Kondisi kesehatan Irah sempat membaik selama 4 bulan usai menjalani operasi pada Maret 2018 di RSUDZA. Namun setelah itu, penyakit kembali menggerogoti tubuhnya. Kala itu, harapannya untuk sembuh pupus. Selama 6 bulan dia memilih berdiam diri dan menjalani pengobatan secara tradisional di rumah.
ADVERTISEMENT
“Biaya keluarga untuk ke Banda Aceh tidak ada, itulah yang menjadi kendala kenapa keluarga tidak merujuk Ibu ke RSUDZA. Ibu memang berobat gratis, tetapi biaya kami selama di Banda Aceh untuk makan dan juga tempat tinggal bagaimana. Makanya kenapa tidak kami bawa dulu,” kata Sumarno pada kumparan.
Suasana di Rumah Singgah “Penginapan” Pasien Kurang Mampu di Jalan Cumi-cumi, Lampriet, Banda Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Rumah Singgah BFLF memiliki 7 kamar berukuran standar, ada juga ruang tamu dilengkapi fasilitas televisi, ruang dapur, dan satu ruang kerja kecil ditempati oleh relawan BFLF yang mendampingi pasien selama berada di sana.
Pada bagian atas pintu masing-masing kamar dibubuhi nama seperti Maryam, Khadijah, Humairah, Aisyah, Fatimah, dan Halimatussa’diah. Sementara di dalamnya terdapat satu ranjang tempat tidur yang ditempati oleh satu orang pasien bersama dua anggota keluarganya.
ADVERTISEMENT
Pasien yang berada di Rumah Singgah relawan BFLF telah difasilitasi bahan makanan pokok, seperti beras, telur dan lainnya. Semua bahan itu tersedia di dapur dan dimasak bersama. Sementara untuk bahan lauk-pauk, disediakan sendiri oleh keluarga pasien.
Rumah Singgah BFLF adalah sebuah penginapan yang menjadi tumpuan harapan pasien kurang mampu di Aceh. Inisiatif awal mula berdirinya rumah ini didorong rasa simpati saat melihatnya bayaknya pasien yang kerap mengeluh soal biaya dan tempat tinggal sehingga enggan berobat rutin (bolak-balik) ke Banda Aceh.
“Mereka mengeluhkan karena tidak memiliki tempat tinggal dan tidak mempunyai biaya (akomodasi) selama di Banda Aceh,” kata Ketua BFLF, Michael Octaviano.
Beranjak dari hal itu, pada April 2014 Michael dan teman-teman relawan BFLF berinisiatif menyewa sebuah rumah yang hanya memiliki dua kamar di Kompleks Vila Citra, Banda Aceh. Dalam perjalanannya, melihat dukungan masyarakat dan respons dari pasien, tahun 2015 Michael berusaha mencari rumah yang lebih luas agar muat menampung pasien dalam jumlah banyak.
ADVERTISEMENT
“Alhamdulilah dapat di Jalan Cumi-cumi, Lampriet. Dengan fasilitas memiliki 7 kamar, dan jika kebutuhan mendesak mampu menampung sekitar 12 pasien. Sejak 3 tahun terakhir, rumah singgah ini telah menampung lebih kurang 384 pasien. Satu pasien dengan 2 orang pendamping keluarga pasien,” ujarnya.
Irah, warga asal Blangkejeran, terbaring lemas di Rumah Singgah “Penginapan” Pasien Kurang Mampu di Jalan Cumi-cumi, Lampriet, Banda Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Dikatakan Michael, kehadiran rumah singgah selama ini sangat membantu masyarakat saat mereka (pasien) yang harus menjalani kemo sampai 20 kali. Bahkan ada yang harus berulang kali hingga selama satu tahun.
“Bersyukur manfaat rumah singgah sangat luar biasa dan Alhamdulillah dimulai dari Aceh, saat ini kita sudah memiliki enam Rumah Singgah. Dua di Banda Aceh, satu di Aceh Selatan, satu di Jakarta, Rumah Yatim dan Duafa, anak-anak korban perkosaan di Cakung Jakarta Timur, dan satu di Purwokerto, Jawa Tengah,” ucapnya.
ADVERTISEMENT
“Untuk pembiayaan mengandalkan donator-donatur dari personal pribadi dan juga beberapa lembaga yang turut membantu. Kita murni bergerak sendiri, serta dari kekuatan penggalangan dana di media sosial yang ada saat ini,” tambahnya.
Michael berprofesi sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu instansi pemerintahan Aceh. Saban hari dia menyisihkan waktunya untuk pasien-pasien yang ada di rumah singgah dan juga membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan.
Masyarakat Aceh memang telah mendapatkan pelayanan kesehatan melalui jaminan kesehatan bernama Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS). Namun bagi Michael, ada satu hal yang belum tersentuh yaitu kehadiran rumah singgah bagi pasien masyarakat kurang mampu.
“Den gan tidak adanya rumah singgah, maka integrasi pelayanan kesehatan itu, masyarakat sangat khawatir untuk bisa berobat di Ibu Kota. Apalagi mereka tidak memiliki saudara dan lainnya. Kita tidak tega melihat perempuan ataupun ibu-ibu tidur di atas lantai di pinggir-pinggir rumah sakit. Jadi kalau di rumah singgah mereka bisa lebih nyaman dan terhormat,” ujar Michael.
ADVERTISEMENT
Berdirinya Rumah Singgah BFLF
Michael Octaviano, Pemilik Rumah Singgah BFLF sedang menengok Irah, warga asal Blangkejeran, yang terbaring lemas di Rumah Singgah “Penginapan” Pasien Kurang Mampu di Jalan Cumi-cumi, Lampriet, Banda Aceh. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Empat tahun bekerja di lembaga rehabilitasi dan rekontruksi Aceh pasca tsunami 2004, Menumbuhkan jiwa sosial Michael untuk menjalankan misi mulia. Awalnya ia bekerja secara individu membantu masyarakat yang bermasalah dengan kesehatan.
Kala itu Michael aktif mengirimkan pesan via sosial media pada teman-temannya tentang kondisi pasien di rumah sakit yang membutuhkan darah. Meskipun mendapat respons positif, namun aksi individunya tidak terlalu membawa perubahan signifikan.
Akhirnya pada 26 Desember 2010 Michael memutuskan untuk mendirikan BFLF. Lembaga yang begerak di bidang kemanusiaan dan donor darah. Lembaga ini dibentuk karena rasa kekhawatiran saat melihat banyaknya masyarakat yang membutuhkan darah tetapi tidak tersedia atau stok terbatas.
Bersama relawan BFLF, Michael melancarkan aksinya dengan mencari pendonor melalui sebuah format pesan yang disebar melalui sosial media. Dalam menjalankan misinya BFLF memiliki dua peran yaitu menggalan donor dari masyarakat dan menyediakan rumah singgah bagi pasien miskin.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan