Mengurai Beban Medis Warga Akibat Timbunan Sampah Overload di TPA

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Berbagai aktivitas pemulung dan warga di sekitar TPA Sumur Batu, Kota Bekasi. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Berbagai aktivitas pemulung dan warga di sekitar TPA Sumur Batu, Kota Bekasi. Foto: Dok. Istimewa

Bagi masyarakat perkotaan, sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) sering kali dianggap selesai setelah truk pengangkut berlalu. Namun, bagi warga yang tinggal di sekitar TPA, persoalan itu justru menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Terlebih ketika kapasitas TPA sudah terlampaui. Timbunan sampah yang terus bertambah bukan hanya menimbulkan bau dan pemandangan tak sedap, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan yang harus dihadapi warga setiap hari.

Kondisi tersebut terlihat di TPA Sumur Batu, Kota Bekasi. Dengan populasi perkotaan yang melampaui 2,5 juta jiwa dan status darurat sampah yang telah ditetapkan, volume sampah harian Kota Bekasi yang masuk ke TPA ini mencapai 1.500 hingga 1.800 ton.

Aktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Sementara itu, lahan eksisting seluas 15,8-22 hektare kini berada di ambang batas jenuh akibat sistem pembuangan terbuka (open dumping) yang berlangsung dalam waktu lama.

Di tengah gunungan sampah yang terus menjulang, warga di sekitar TPA tidak hanya menghadapi risiko longsor atau persoalan lingkungan lainnya.

Mereka juga berhadapan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari masalah pencernaan dan kulit hingga risiko penyakit yang ditularkan melalui lingkungan yang tidak sehat.

Suasana kawasan TPA Sumur Batu, Kota Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Hidup berdekatan dengan tumpukan sampah terbuka yang sudah melampaui kapasitas membuat bau menyengat, lalat, dan tikus menjadi bagian dari keseharian warga.

Bagi Ntin (58), kondisi lingkungan tersebut membuat warga kerap mengalami gangguan pencernaan. Ia menuturkan, sakit perut hingga diare menjadi keluhan yang cukup sering dirasakan warga, terutama ketika jumlah lalat meningkat.

"Warga di sini sering ngeluh sakit perut, kadang sampai diare kalau lagi parah kondisinya. Apalagi kalau lalat lagi banyak banget hinggap di makanan, anak-anak gampang banget kena perutnya," ungkap Ntin kepada kumparan.

Berbagai aktivitas pemulung dan warga di sekitar TPA Sumur Batu, Kota Bekasi. Foto: Dok. Istimewa

Masalah kulit juga menjadi salah satu keluhan warga, terutama mereka yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan sampah. "Gatal-gatal paling utama, dominan itu gatal. Karena emang kita setiap hari berkecimpung di sampah gitu ya," tutur Madi (61) yang kerap memulung di TPA Sumur Batu.

Selain gangguan pencernaan dan kulit, keberadaan satwa liar di sekitar tumpukan sampah juga dapat membahayakan warga. Kondisi lingkungan yang menjadi habitat berbagai hewan membuat satwa liar terkadang masuk ke permukiman.

Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh Odeh (54). Ia pernah digigit ular kobra ketika sedang berada di dalam rumah pada malam hari.

“Pernah digigit ular kobra di dalam rumah... Pas lagi selonjoran gitu, lagi selonjoran malam-malam, aduh, digigit kobra. Pas di dalam rumah, bukan di luar. Langsung dibawa ke rumah sakit,” tutur Odeh.

Mengapa Warga Sekitar TPA Rentan Gangguan Kesehatan?

Aktivitas warga di sekitar TPA Sumur Batu, Kota Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Berbagai keluhan tersebut kemudian dijelaskan Nurul Fadhiya Hidayatunnisa, Environment and Social Consultant, dari perspektif kesehatan lingkungan.

Menurut Nurul, kondisi TPA yang sudah sangat penuh menempatkan warga sekitar sebagai kelompok yang berisiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan karena mereka terpapar berbagai sumber pencemaran secara terus-menerus.

Nurul menjelaskan, gas metana murni sebenarnya tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini tetap berbahaya jika terakumulasi di ruang tertutup karena dapat memicu ledakan dan mengurangi kadar oksigen.

Sementara itu, bau menyengat yang dapat membuat seseorang merasa mual atau muntah berasal dari senyawa lain yang dihasilkan selama proses penguraian sampah.

"Bau pekat dari TPA terutama berasal dari hidrogen sulfida, amonia, merkaptan atau senyawa sulfur, serta berbagai senyawa organik volatil yang terbentuk selama proses penguraian sampah... Mual dan muntah dapat dipicu langsung oleh bau yang sangat menyengat. Sebaliknya, diare biasanya terjadi melalui jalur fekal–oral, misalnya karena air sumur atau makanan tercemar lindi," papar Nurul.

Berbagai aktivitas pemulung di sekitar TPA Sumur Batu, Kota Bekasi. Foto: Dok. Istimewa

Artinya, gangguan pencernaan yang dialami warga dapat memiliki jalur penyebab yang berbeda. Bau menyengat dapat memicu mual dan muntah, sementara diare dapat terjadi ketika air atau makanan terkontaminasi.

Tumpukan sampah yang terbuka juga menyediakan lingkungan yang mendukung berkembangnya lalat dan tikus. Keduanya dapat membawa dan menyebarkan mikroorganisme penyebab penyakit ke lingkungan sekitar.

Urin tikus yang membawa bakteri Leptospira, misalnya, dapat mencemari genangan air dan kemudian masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka. Sementara itu, lalat dapat membawa kuman dari sampah ke makanan atau peralatan makan.

"Lalat dapat mencemari makanan dan peralatan makan, sedangkan tikus meningkatkan risiko Leptospirosis, khususnya pada musim hujan dan banjir... Dengan adanya 'ledakan populasi' lalat dan tikus, kemungkinan penyebaran mikroorganisme penyebab penyakit dari sumber pencemaran ke lingkungan permukiman dan manusia akan semakin meningkat," jelasnya.

Warga berkendara motor melintasi jalanan di sekitar TPA Sumur Batu, Kota Bekasi. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Meski begitu, tidak semua warga yang tinggal di sekitar TPA langsung mengalami gangguan kesehatan. Sebagian bahkan merasa sudah terbiasa dengan kondisi lingkungan tersebut.

Menurut Nurul, tubuh manusia dapat beradaptasi terhadap paparan tertentu setelah terpapar dalam waktu lama. Namun, kondisi tersebut bukan berarti warga menjadi bebas dari risiko kesehatan, terutama bagi kelompok yang lebih rentan.

"Tubuh bisa mempunyai sifat toleransi karena kebiasaan. Karena mereka terpapar setiap hari akhirnya tingkat toleransi tubuh akan semakin tinggi dibandingkan tubuh manusia yang tidak pernah terpapar. Namun pada anak kecil ataupun ibu hamil yang mana kondisinya lebih rentan akan berisiko," terang Nurul.

Ia menambahkan, masalah kulit atau dermatitis lebih sering dipicu oleh kontak langsung dengan air lindi, benda tajam, serta keterbatasan air bersih untuk menjaga kebersihan diri.

instagram embed

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah yang menumpuk di TPA tidak hanya berkaitan dengan kapasitas lahan atau persoalan kebersihan kota. Bagi warga yang tinggal di sekitarnya, timbunan sampah juga dapat menjadi sumber berbagai risiko kesehatan.

Di balik ribuan ton sampah yang masuk setiap hari, terdapat warga yang menghadapi bau menyengat, lalat dan tikus, risiko gangguan pencernaan, masalah kulit, hingga bahaya lain dari lingkungan sekitar TPA.

Karena itu, persoalan kesehatan warga di sekitar TPA tidak cukup diselesaikan dengan imbauan menjaga kebersihan diri. Pengelolaan sampah, sanitasi, dan perlindungan warga yang tinggal di sekitar TPA juga menjadi bagian penting dalam menangani persoalan tersebut.