Menhaj Sebut Belum Ada Tanda Konflik Timteng Reda, Bagaimana Nasib Haji 2026?

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana rapat kerja Komisi VIII DPR RI dengan Kementerian Haji dan Umrah yang disiarkan secara langsung lewat TVR PARLEMEN di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/2/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen
zoom-in-whitePerbesar
Suasana rapat kerja Komisi VIII DPR RI dengan Kementerian Haji dan Umrah yang disiarkan secara langsung lewat TVR PARLEMEN di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/2/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

Menteri Haji dan Umrah Irfan Yusuf menyebut, konflik di kawasan Timur Tengah hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi tersebut berpotensi memengaruhi penyelenggaraan ibadah haji 2026.

Pria yang akrab disapa Gus Irfan itu mengatakan, pemerintah terus memantau perkembangan konflik yang memanas sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu.

"Berdasarkan hasil koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia hingga saat ini juga menunjukkan bahwa belum terdapat indikasi meredanya konflik dalam waktu dekat sehingga situasi keamanan kawasan masih dinilai dinamis dan memerlukan pemantauan secara berkelanjutan," kata Gus Irfan dalam rapat bersama Komisi VIII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (11/3).

"Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 Hijriah yang dijadwalkan mulai memasuki tahap keberangkatan jemaah pada tanggal 22 April," tambah dia.

video from internal kumparan

Ganggu Stabilitas Kawasan dan Penerbangan

Menurut Gus Irfan, eskalasi konflik di Timur Tengah juga berdampak pada stabilitas keamanan regional serta aktivitas transportasi udara internasional.

Sejumlah negara di kawasan tersebut bahkan telah menutup ruang udara, terutama pada jalur penerbangan yang selama ini menjadi lintasan utama menuju kawasan Teluk.

"Penutupan ruang udara tersebut menyebabkan terganggunya penerbangan internasional, terutama penerbangan yang menggunakan skema transit melalui beberapa negara di Timur Tengah," kata dia.

"Dampak langsung yang telah terjadi adalah gangguan pada proses keberangkatan dan kepulangan jemaah umrah, khususnya bagi jemaah yang menggunakan penerbangan transit," lanjutnya.

Kementerian Haji dan Umrah terus melakukan pemantauan dan koordinasi terkait kepulangan sejumlah jemaah umrah Indonesia yang mengalami penjadwalan ulang penerbangan di Arab Saudi. Foto: Bakom RI

Kondisi di Arab Saudi Tetap Aman

Meski demikian, Gus Irfan memastikan kondisi keamanan di Arab Saudi, khususnya di Jeddah, Makkah, dan Madinah, masih aman dan kondusif.

Jemaah umrah yang saat ini berada di wilayah tersebut tetap dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa gangguan berarti.

"Adapun data yang kami terima, yang seperti diketahui tadi, jemaah haji di Saudi yang masih ada di Saudi, jemaah umrah yang ada di Saudi per 11 Maret masih ada 50.374 yang kemungkinan stranded atau tertahan kemungkinan ada sebesar 14.115 dengan jumlah PPIU sebesar 1.239. Kami sudah memanggil semua PPIU yang terkait dengan ini," kata Gus Irfan.