Menhan RI dan AS Teken Kerja Sama Pertahanan Utama di Pentagon
·waktu baca 3 menit

Menteri Perhanan atau Menteri Perang AS Pete Hegseth dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menggelar pertemuan di Pentagon pada Senin (13/4) waktu setempat.
Dalam pertemuan tersebut, keduanya menandatangani perjanjian pembentukan Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama atau Major Defense Cooperation Partnership.
Kemitraan ini akan menjadi kerangka untuk meningkatkan kerja sama pertahanan bilateral antara Amerika Serikat dan Indonesia guna menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
“Kunjungan Anda menunjukkan pentingnya yang diberikan Departemen Perang terhadap hubungan keamanan kita yang terus berkembang — dan memang aktif serta semakin kuat — dengan Indonesia,” kata Hegseth kepada Sjafrie dilansir dari situs resmi Kemenhan AS, Selasa (14/4).
Ia juga mencatat bahwa kedua negara melaksanakan lebih dari 170 latihan militer bersama setiap tahun.
“Kemitraan ini menandakan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita … memperkuat daya tangkal kawasan, serta memajukan komitmen bersama kita terhadap perdamaian melalui kekuatan,” tambah Hegseth.
Dalam pernyataan singkatnya, Sjafrie menegaskan pandangan Hegseth mengenai kuatnya hubungan AS-Indonesia.
“Hari ini, kami hadir sebagai delegasi Indonesia … dengan antusiasme yang sangat besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan kita, yang seharusnya berkelanjutan bagi generasi mendatang di Indonesia dan Amerika Serikat,” kata Sjafrie.
“Kami bekerja atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan untuk meningkatkan nilai kepentingan nasional kita," lanjutnya.
Tiga Pilar Utama
Perjanjian kerja sama baru ini memiliki tiga “pilar utama” yang didasarkan pada kedaulatan nasional masing-masing negara dan saling menghormati, yaitu: organisasi militer dan pembangunan kapasitas; pelatihan dan pendidikan militer profesional; serta latihan dan kerja sama operasional.
Dalam kerangka perjanjian tersebut, kedua negara akan menjajaki inisiatif mutakhir, termasuk pengembangan bersama kemampuan asimetris canggih, perintisan teknologi pertahanan generasi berikutnya di bidang maritim, bawah laut, dan sistem otonom, serta kerja sama dalam pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul untuk meningkatkan kesiapan operasional.
Pernyataan itu juga menjelaskan bahwa AS dan Indonesia sepakat meningkatkan pelatihan gabungan pasukan khusus, yang diharapkan dapat mempererat hubungan kedua militer.
Prajurit AS pada Perang Dunia II
Selain itu, Hegseth mencatat bahwa Indonesia telah membantu AS dalam pemulihan jenazah prajurit yang gugur pada Perang Dunia II.
“Saya menghargai dukungan berkelanjutan Anda dalam membantu Amerika Serikat menemukan, memulangkan, dan melindungi jenazah prajurit kami yang bertempur bersama orang Indonesia selama Perang Dunia II,” kata Hegseth.
Ia menambahkan bahwa penandatanganan nota kesepahaman ini akan memungkinkan lembaga Defense POW/MIA Accounting Agency untuk memulihkan jenazah para prajurit tersebut di Indonesia.
Misi Baru
Baik Hegseth maupun Sjafrie menggambarkan kerja sama pertahanan ini sebagai “line of departure” — istilah militer untuk memulai misi baru — bagi kedua negara.
“Jadi, ini untuk bab berikutnya dan misi baru kita bersama bagi negara-negara besar kita,” ujar Hegseth.
AS dan Indonesia telah menjalin hubungan diplomatik formal selama lebih dari 75 tahun, sejak 1949, tak lama setelah Indonesia memenangkan perang kemerdekaan dari Belanda.
