Menikmati Island Hopping, Kegiatan Favorit Wisatawan di Labuan Bajo

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Island Hopping di 3 lokasi di Labuan Bajo, yaitu Pulau Padar, Pulau Komodo, dan Pink Beach. Foto: Nadia Riso/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Island Hopping di 3 lokasi di Labuan Bajo, yaitu Pulau Padar, Pulau Komodo, dan Pink Beach. Foto: Nadia Riso/kumparan

Suara deburan ombak, kapal yang berlalu-lalang, dan suara gelak tawa masyarakat dan wisatawan memenuhi atmosfer Labuan Bajo. Di setiap jalan sangat mudah menemui wisatawan, lokal dan asing, yang hendak menikmati keindahan pulau tersebut.

Labuan Bajo memang menjadi primadona di wilayah timur Indonesia. Apalagi setelah Indonesia menjadi tuan rumah KTT G20 dan KTT ASEAN pada 2022 lalu.

Di kepulauan ini, ada satu kegiatan yang menjadi daya tarik wisatawan, yaitu island hopping, di mana para wisatawan melakukan perjalanan wisata ke beberapa pulau dalam suatu wilayah kepulauan. Biasanya island hopping dilakukan menggunakan kapal atau alat transportasi lainnya.

Lalu, kenapa island hopping sangat populer di Labuan Bajo?

Di sekitar Labuan Bajo terdapat sejumlah pulau kecil yang menyimpan pesonanya masing-masing. Kapal-kapal hampir setiap jam berlalu-lalang untuk membawa wisatawan melakukan island hopping di pulau-pulau tersebut.

Yang menarik, kapal itu tak hanya berasal dari Labuan Bajo, tapi juga dari wilayah lain seperti Bali.

Treking di Pulau Padar

Pulau Padar, Jumat (23/5/2025). Foto: Nadia Riso/kumparan

Pulau Padar merupakan primadona wisatawan lokal dan asing di Labuan Bajo. Pulau Padar menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Apalagi, gambar Pulau Padar diabadikan lewat uang kertas Rp 50 ribu, yang tentunya menjadi daya tarik wisatawan lokal untuk berfoto dengan uang itu dan membandingkan pemandangan aslinya.

Untuk menuju Pulau Padar, wisatawan harus menaiki kapal dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Ada banyak pemandu wisatawan yang menawarkan jasa pemandu hingga penyewaan kapal.

Selama 45 menit menaiki kapal, wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan pulau-pulau kecil yang dipadukan dengan indahnya warna laut dan warna langit yang semakin membuat indah pemandangan, membuat orang-orang segera mengeluarkan ponsel atau kamera untuk mengabadikan keindahan pemandangan itu.

Setelah dimanjakan dengan pemandangan pulau-pulau kecil selama perjalanan, wisatawan pun sampai di Pulau Padar. Ketika kumparan mengunjungi Pulau Padar pada Jumat (23/5), tidak begitu banyak wisatawan yang tiba. Menurut pemandu wisata, waktu terbaik untuk berkegiatan di Pulau Padar adalah di pagi hari.

Kedatangan kumparan dan wisatawan lainnya disambut 3 ekor rusa lokal yang sedang bersantai di pinggir pantai. Kami diimbau tetap jaga jarak dengan rusa saat mengambil gambarnya.

Kegiatan yang selalu dilakukan wisatawan di Pulau Padar adalah treking. Sehingga, sesampainya wisatawan di Pulau Padar, penjaga pulau akan menjelaskan apa-apa saja yang harus diperhatikan wisatawan selama treking. Salah satunya adalah tidak memaksakan diri jika punya kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk treking naik bukit.

Setelah mendapat arahan, wisatawan dengan penuh semangat menaiki anak tangga satu per satu. Kata pemandu wisata setempat, ada 5 pos untuk mencapai puncak Pulau Padar.

Baru sampai di pos 1, wisatawan sudah dimanjakan dengan pemandangan yang indah dan hamparan bunga. Beristirahat sejenak sambil berfoto adalah pemandangan yang pasti terlihat di Pulau Padar.

Setelah fisik dirasa kuat lagi dan puas berfoto, wisatawan melanjutkan treking menuju pos 2 dan pos 3. Bagi yang tidak terbiasa treking atau baru pertama kali treking, memang kegiatan ini cukup melelahkan, sehingga sangat disarankan untuk memakai pakaian yang nyaman dan membawa air minum yang cukup.

Anak tangga demi anak tangga dinaiki, semakin indah pula pemandangan yang dilihat dari atas Pulau Padar. Pos 4 menjadi lokasi primadona untuk berfoto ria. Meski belum sampai puncak, wisatawan memanfaatkan waktu istirahat di pos 4 untuk mengagumi keindahan alam, kemudian mengeluarkan uang Rp 50 ribu dan berfoto di sana.

Pemandangan panorama udara dari titik pandang pantai Pulau Padar di Taman Nasional Komodo Indonesia. Foto: Aumphotography/Shutterstock

Puas berfoto di pos 4, wisatawan kembali mengumpulkan energi untuk mencapai puncak di pos 5. Semakin tinggi, semakin sulit pula medan yang harus dilalui, sehingga wisatawan harus ekstra berhati-hati.

Segala rasa capek itu pun puas terbayar begitu sampai di pos 5. Keindahan kepulauan Labuan Bajo dapat terlihat begitu jelas dari puncak di pos 5, membuat decak kagum terus keluar, membuat wisatawan mengeluarkan kamera dan berpose dari puncak Pulau Padar.

Puas berfoto di puncak Pulau Padar sambil beristirahat, pemandu wisata mengajak wisatawan untuk turun kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke pulau selanjutnya. Kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Komodo, tepatnya di Pulau Loh Liang.

Bertemu dengan Komodo di Pulau Loh Liang

Pulau Loh Liang, Jumat (23/5/2025). Foto: Nadia Riso/kumparan

Ka'e, pemandu wisata, mengatakan sebetulnya di Pulau Padar juga ada komodo. Namun, jumlahnya tidak sebanyak di Pulau Loh Liang yang merupakan pulau utama tempat tinggal komodo. Di Pulau Loh Liang, ada sekitar 1.600 komodo yang tinggal.

Selain di Pulau Loh Liang dan Pulau Padar, komodo juga ditemui di Pulau Rinca, Pulau Gilimotang, dan Pulau Nusa Kode. Totalnya ada sekitar 3.300 komodo yang tinggal di pulau-pulau tersebut.

Sesampainya di Pulau Loh Liang, kumparan beristirahat sejenak di kedai makanan dan minuman yang dimiliki warga lokal. Saat beristirahat, Ka'e memberi tahu bahwa di dekat tempat kami beristirahat sedang ada 2 komodo yang sedang berkamuflase.

Komodo di Pulau Loh Liang. Foto: Nadia Riso/kumparan

Kenapa kamuflase? Itu adalah cara komodo untuk menjaga suhu badannya sambil waspada berburu. Ka'e juga memperingatkan untuk menjaga jarak aman dengan komodo.

Setelah beristirahat, kumparan dan wisatawan lainnya dipandu oleh penduduk lokal untuk berkeliling pulau. Ada 3 jalur yang disediakan, yaitu short treking, middle treking, dan long treking. Kami mendapat jatah short treking yang waktu tempuhnya sekitar 45 menit berkeliling pulau.

Beberapa saat berkeliling, kami menemui komodo yang lagi-lagi sedang berkamuflase. Momen itu dimanfaatkan wisatawan untuk berfoto bersama komodo dari jarak aman.

Tak lama, muncul komodo lagi dari arah lain. Ka'e meminta kami untuk tidak panik dan berjalan menjauhi jalan lintas komodo yang rupanya sedang mencari minum itu. Saat dirasa aman, Ka'e menawarkan wisatawan untuk kembali berfoto bersama komodo dalam jarak yang aman.

Puas bertemu berkeliling dan bertemu komodo, perjalanan selanjutnya adalah Pink Beach yang menjadi tujuan terakhir island hopping.

Berenang hingga Diving di Pink Beach

Pink Beach di Labuan Bajo, NTT Foto: Dok. Kemenparekraf

Pink Beach menjadi tujuan populer bukan hanya karena pasirnya yang berwarna pink—yang warnanya berasal dari karang merah yang hancur dan bercampur dengan pasir putih, terkena air laut dan sinar matahari sehingga membuat warnanya menjadi pink. Pink Beach merupakan spot populer untuk snorkeling, diving, atau bahkan berenang biasa.

Wisatawan yang datang ke sini biasanya sudah mempersiapkan baju renang atau peralatan snorkeling dan diving. Begitu turun dari kapal, wisatawan langsung nyebur ke laut dan berenang, atau ada yang sekadar bersantai dengan bermain air dan pasir.

Pink Beach memang menjadi spot diving karena ada banyak koral hingga manta yang menarik perhatian mata. Sehingga wisatawan pasti tidak mau melewatkan kesempatan itu.

Wisatawan yang melakukan island hopping saat itu banyak yang berasal dari Eropa, China, dan Taiwan. Ka'e menyebut, akhir-akhir ini banyak wisatawan yang datang dari Eropa, China, dan Taiwan.

"Tapi sejak Bandara Labuan Bajo dibuka untuk penerbangan internasional pada September lalu, jumlah wisatawan asing yang datang semakin banyak," kata Ka'e.

Meski demikian, ada waktu-waktu khusus di mana wisatawan asing "menjamur" di Labuan Bajo. Pada periode Maret-April, misalnya, wisatawan asal China akan banyak ditemui karena bertepatan dengan libur nasional China dan libur Imlek.

"Juli-Agustus itu banyak wisatawan Eropa. Karena di Eropa di waktu-waktu itu sedang libur panjang, libur musim panas. Kalau September-Oktober biasanya banyak wisatawan dari Malaysia," katanya.

Penyelenggaraan KTT G20 dan KTT ASEAN, kemudian dibukanya Bandara Internasional Labuan Bajo, dan pengembangan kawasan Labuan Bajo memang menjadi kombinasi terbaik untuk menggaet wisatawan berkunjung. Akankah Labuan Bajo menjadi tujuan wisata populer wisatawan asing setelah Bali?