News
·
5 Agustus 2020 9:03

Menilai Kritikan Jokowi ke Para Menteri: Ultimatum hingga Didorong Reshuffle

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Menilai Kritikan Jokowi ke Para Menteri: Ultimatum hingga Didorong Reshuffle  (364526)
searchPerbesar
Rapat terbatas perdana Presiden Joko Widodo bersama menteri kabinet Indonesia Maju menggunakan pembatas dari kaca akrilik di Istana Negara, Jakarta, Senin (3/8). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/Kris
Presiden Jokowi kembali menyoroti kinerja menterinya selama pandemi COVID-19. Jokowi mengatakan, masih banyak kementerian yang rendah dalam menyerap anggaran penanganan virus corona.
ADVERTISEMENT
Jokowi kembali menyebut, banyak menteri yang belum memiliki aura krisis di tengah pandemi. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga menyebut ada kementerian yang tak mempunyai prioritas.
"Di kementerian-kementerian, di lembaga ini, aura krisisnya belum betul-betul belum. Masih sekali lagi kejebak pada pekerjaan harian, enggak tahu prioritas yang harus dikerjakan," kata Jokowi dalam ratas Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi nasional di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/7).
Banyak pihak yang menilai kritik Jokowi kepada menterinya merupakan bentuk ultimatum agar mereka lebih bekerja keras di tengah pandemi COVID-19.
Menilai Kritikan Jokowi ke Para Menteri: Ultimatum hingga Didorong Reshuffle  (364527)
searchPerbesar
Direktur Eksekutif Parameter Politik, Adi Prayitno saat diskusi dengan tema "Wajah Islam Politik Pasca Pilpres 2019" di Kantor Parameter Politik, Jakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Pengamat politik, Adi Prayitno, menyebut ada dua hal yang ditampilkan Jokowi dari sikapnya tersebut.
Pertama, Jokowi ingin publik tahu bahwa selama ini dirinya sudah bekerja dengan benar. Hanya saja, ada beberapa menterinya yang tak sesuai dengan apa yang menjadi keinginannya.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, Adi menilai Jokowi tengah memberikan ultimatum agar menterinya bisa bekerja lebih keras lagi. Namun jika hal itu tidak bisa dipenuhi, maka kemungkinan besar Jokowi akan merombak kabinetnya.
"Kalau ada sinyal reshuffle atau dilakukan reshuffle genap dalam setahun orang tak akan kaget. Publik tidak kaget karena Jokowi ini sebenarnya sudah kasih warning pada menterinya bekerja maksimal. Kemarahannya ini ultimatum," kata Adi.
Adi mengatakan, perilaku Jokowi yang berani dan tegas kepada para menterinya menunjukkan dirinya sudah tak lagi memiliki beban. Hal itu jelas jauh berbeda pada periode pertama Jokowi memimpin.
"Kalau dulu enggak to the point, kalau sekarang to the point. Artinya sekarang sudah vulgar, marah ya marah saja. Ini terkait menunjukkan ke publik dia bisa marah dan dia juga enggak punya beban lagi menutupi kemarahan menterinya enggak maksimal," ucap Adi.
Menilai Kritikan Jokowi ke Para Menteri: Ultimatum hingga Didorong Reshuffle  (364528)
searchPerbesar
Mardani Ali Sera. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Mardani Nilai, Jokowi Tak Perlu Mengumbar Emosi

Sementara politisi PKS, Mardani Ali Sera, menilai sebaiknya Jokowi sudah mengidentifikasi akar masalah yang menyebabkan kinerja para menteri tak berubah. Meski sempat diancam reshuffle kabinet beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
"Pak Jokowi mestinya berpikir apa penyebab para menteri sudah berkali-kali dimarahi tapi belum juga berubah. Pertama, mulailah melihat akar masalahnya. Kalau disuruh lari tapi kakinya diikat, yang enggak akan bisa lari," kata Mardani.
Menurut Mardani, kemarahan Jokowi berulang kali terkait kinerja menteri yang disampaikan ke publik tak elok dilakukan. Sebagai kepala negara, seharusnya Jokowi langsung bertindak, tanpa selalu mengumbar emosinya.
Anggota komisi II DPR Fraksi PKS itu pun menuturkan apabila tak puas dengan kinerja menteri, Jokowi memiliki hak untuk melakukan reshuffle kabinet. Sebaiknya langkah itu diambil daripada hanya mengeluh.
"Reshuffle hak prerogatif kok. Kecuali Pak Presiden takut. Jadi bukannya ambil aksi malah reaktif," ucap dia.
Menilai Kritikan Jokowi ke Para Menteri: Ultimatum hingga Didorong Reshuffle  (364529)
searchPerbesar
Jazilul Fawaid, Anggota DPR RI di Gedung KPK, Rabu (13/2). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

PKB Berpendapat Jokowi Kritik Menterinya karena Situasi Semakin Mencekam

Mengenai Jokowi yang menyoroti masih rendahnya serapan anggaran penanganan COVID-19, Waketum PKB, Jazilul Fawaid, mengatakan hal itu disebabkan masih terdapat pembatasan dan kasus positif corona yang masih meningkat.
ADVERTISEMENT
Pemerintah saat ini berada dalam situasi dilematis untuk menjaga kesehatan dan pertumbuhan ekonomi.
"Situasinya memang dilematis, antara menjaga kesehatan dan pertumbuhan ekonomi. Penyerapan anggaran memang sulit dilakukan bila pembatasan masih berlangsung dan COVID-19 masih menanjak," kata Jazilul.
Jazilul mengatakan, pemerintah telah melakukan sejumlah upaya menggerakkan ekonomi masyarakat seperti menertibkan perppu hingga ancaman Jokowi untuk melakukan reshuffle kabinet. Namun, kenyataannya upaya belum sanggup menghadapi resesi yang mulai tampak di depan mata.
Wakil Ketua MPR itu mengatakan, vaksin corona harus segera ditemukan dan disebar agar para menteri dan masyarakat dapat bergerak menghadapi ancaman krisis yang ada.
"Saat ini yang mendesak agar vaksin COVID-19 segera ditemukan dan diedarkan, tanpa itu sulit rasanya menteri ataupun masyarakat bisa bergerak. Hantu COVID-19 makin mencekam," tutur dia.
Menilai Kritikan Jokowi ke Para Menteri: Ultimatum hingga Didorong Reshuffle  (364530)
searchPerbesar
Wakil Ketua Umum PP/Wakil Ketua Komisi II DPR, Arwani Thomafi. Foto: Dok. Pribadi/Arwani Thomafi

PPP: Kemarahan Jokowi Merupakan Ultimatum Bagi Para Menteri

Waketum PPP Arwani Thomafi mengatakan, keluhan Jokowi ini ibarat surat peringatan kedua bagi para menteri.
ADVERTISEMENT
"Keluhan Presiden hingga dua kali sejak COVID-19 terhadap kinerja menterinya ini ibarat Surat Peringatan (SP) ke-2," kata Arwani.
"Padahal, peringatan pertama Presiden pada 18 Juni lalu sudah sangat keras. Peringatan kedua ini menunjukkan, dalam kurun 1,5 bulan sejak peringatan pertama, tidak ada perubahan signifikan dalam kerja kabinet," tambahnya.
Meski begitu, Wakil Ketua Komisi II DPR itu menganggap wajar jika Jokowi mengeluhkan kinerja jajarannya sebagai bentuk kontrol terhadap kinerja pemerintahan. Terlebih, pandemi virus corona dapat menciptakan ancaman krisis kesehatan yang berdampak terhadap kondisi ekonomi.
"Kemarahan Presiden memang harus dilakukan sebagai bentuk kontrol terhadap kerja para pembantunya. Apalagi, di situasi pandemi ini yang melahirkan krisis kesehatan yang juga berpeluang melahirkan krisis ekonomi. Presiden memiliki hak penuh atas kabinetnya," ucap Arwani.
Menilai Kritikan Jokowi ke Para Menteri: Ultimatum hingga Didorong Reshuffle  (364531)
searchPerbesar
Fadli Zon saat menghadiri peluncuran buku di pressroom DPR, Jakarta, Jumat (27/9/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Fadli Zon: Seharusnya Masalah Menteri Diselesaikan Secara Internal

Senada dengan Mardani, Fadli Zon menilai seharusnya Jokowi tidak perlu mengumbar kepada publik terkait kritiknya kepada para menterinya.
ADVERTISEMENT
"Ini kan Pak Jokowi sendiri yang mengatakan tidak ada visi misi menteri, yang ada visi misi Presiden. Semua menteri yang memilih Presiden. Kemudian harusnya itu bukan persoalan yang harus dinyatakan pada publik," kata Fadli.
Waketum Gerindra itu menyebut, para menteri Jokowi yang kinerjanya dianggap kurang sebaiknya dipanggil satu per satu, kemudian diselesaikan masalahnya dan bukan diungkap ke publik. Fadli menilai sikap Jokowi ini seperti seorang pengamat, bukan Presiden.
Sikap Jokowi itu menurut Fadli malah menjadi bumerang. Sebab dengan pernyataan itu, masyarakat menilai bahwa kepala negara terlihat putus asa dalam menghadapi berbagai masalah dalam pandemi virus corona.
"Ya itu seperti menepuk air didulang muncrat ke muka sendiri. Pak Jokowi sudah desperate, sudah mulai putus asa," tutur Fadli.
ADVERTISEMENT
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020