Menjajal Wisata Malam di Kebun Binatang Ragunan
·waktu baca 4 menit

Suasana di Taman Margasatwa Ragunan, Sabtu (11/10) malam, terasa berbeda dari biasanya. Udara malam berpadu dengan riuh langkah pengunjung yang penasaran menjajal pengalaman baru, yakni wisata malam di kebun binatang.
Pengunjung dapat menikmati suasana Ragunan yang temaram, diterangi lampu-lampu di jalur pedestrian.
Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI Jakarta Fajar Sauri mengatakan wisata malam ini dibuka perdana dan akan berlangsung hingga pukul 22.00 WIB.
“Jadi kita buka mulai perdana hari ini, Sabtu, 11 Oktober 2025, mulai pukul 6 sore sampai pukul 10 malam. Jadi para pengunjung bisa menikmati ya, bisa berolahraga, berekreasi, kemudian kita juga menyediakan fasilitas, sarana untuk melihat satwa-satwa nokturnal, nokturnal ya, jadi aktif pada malam hari,” ujar Fajar saat ditemui di lokasi, Sabtu (11/10).
Ia menjelaskan, satwa yang ditampilkan merupakan jenis-jenis mamalia kecil dan hewan nokturnal yang aktif di malam hari.
“Adapun satwa-satwanya itu, seperti mamalia kecil ya, ada kuda nil, ada harimau Sumatra, terus ada musang, ada kalong, ada landak gitu ya. Jadi ada beberapa, kurang lebih 15 jenis ya. Satwa yang bisa dilihat, yang memang hidupnya aktif pada malam hari,” katanya.
Rute wisata malam ini dibatasi sejauh 1,8 kilometer, hanya melewati area satwa yang aktif pada malam hari.
“Jadi kita membatasi ya. Untuk rute kita sudah mapping, kurang lebih ada beberapa lintasan sepanjang 1,8 km. Jadi tidak secara keseluruhan kita datangi tempat-tempat yang memang satwanya tidak aktif di malam hari,” jelas Fajar.
Di antara deretan kandang yang dilewati, pengunjung dapat melihat binturong, bajing tiga warna, capybara, linsang, musang marteen, landak, hingga kelelawar.
Beberapa pengunjung yang ikut tur dengan buggy car sempat berhenti di kandang binturong, tempat pemandu menjelaskan perilaku satwa ini.
“Ini mereka tidak akan terganggu dengan cahaya lampu. Karena nokturnal. Ini termasuk kelompok musang,” ujar sang pemandu.
Binturong yang ditemui malam itu bernama Fitri dan Ranti, dua betina berusia enam bulan yang lahir di Ragunan.
“Yang Fitri yang lebih aktif. Yang atas yang namanya Fitri, yang satunya Rantj. Dia kelahiran dari Taman Margasatwa Ragunan. Saat ini umurnya 6 bulan, dua-duanya betina,” jelas pemandu.
Sambil menunjukkan zoo keeper yang memberi makan, pemandu juga menjelaskan keunikan binturong.
“Untuk ciri khas binturong dia memiliki lima kaki. Kenapa lima kaki? Karena ekor belakangnya dia bisa digunakan untuk berpegangan. Jadi dia bisa bergelantungan dengan ekornya,” ujarnya saat sesi feeding berlangsung.
Tingginya Antusiasme Masyarakat
Fajar mengaku terkejut dengan antusias masyarakat yang datang di hari perdana.
“Saya melihatnya agak kaget juga, ya. Sangat antusias masyarakat, sepertinya penasaran melihat kondisi Taman Margasatwa Ragunan dibuka malam hari,” katanya.
Namun, di tengah euforia itu, sejumlah pengunjung juga mengeluhkan kondisi penerangan yang minim di beberapa titik, terutama di area sekitar kandang satwa.
Menanggapi hal itu, Kepala Humas Taman Margasatwa Ragunan, Wahyudi Bambang, menjelaskan keterbatasan penerangan memang disengaja untuk menjaga kenyamanan satwa nokturnal.
“Sudah pasti (akan dievaluasi). Dari beberapa kali kita lakukan simulasi memang penerangan itu menjadi satu hal yang prioritas ya. Tapi kembali lagi kepada pengunjung, harus dipahami bahwa tidak boleh ini terlalu terang karena bisa mengganggu satwa juga, ya,” ujar Bambang.
Ia menambahkan, pencahayaan di area Ragunan malam hari telah diukur agar tidak melebihi ambang batas kenyamanan hewan.
“Jadi memang kita sudah ukur penerangan ini sebatas tidak mengganggu ambang batas satwa. Karena di sini pun ada beberapa satwa yang tidak boleh kena cahaya berlebihan atau terpapar cahaya ya,” katanya.
Menurutnya, lampu-lampu di Ragunan malam ini hanya difokuskan di jalur pedestrian dan area piknik, bukan untuk menerangi seluruh area seperti siang hari.
“Ini cukup, menurut kami cukup ya. Ini sudah kita ukur bahwa pencahayaan ini hanya untuk jalur pedestrian aja, bukan untuk menerangi seperti siang hari, tidak seperti itu,” ujarnya.
Meski demikian, Bambang membuka kemungkinan adanya tambahan lampu di area-area terbuka seperti lapangan piknik.
“Mungkin di area piknik ya. Ya seperti lapangan-lapangan ini ya mungkin, kalau memang itu dirasa kurang, enggak masalah kalau di taman-taman. Tapi kalau untuk, ini kan ada jalur kandang juga, jadi kita enggak bisa lebih terang lagi,” tuturnya.
Wisata malam di Ragunan tidak hanya menawarkan pengalaman baru bagi pengunjung, tapi juga menjadi sarana edukasi untuk memahami perilaku satwa nokturnal.
Dengan tiket yang tetap terjangkau, Rp 4.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak, wisata malam Ragunan diharapkan menjadi alternatif rekreasi keluarga yang tetap ramah bagi satwa.
