Menjawab Isu Vaksin Pfizer Bisa Ubah Susunan Genetik Manusia di Masa Depan

Vaksin corona Pfizer dari BioNTech menjadi vaksin pertama dengan pengembangan menggunakan metode mRNA yang disetujui untuk dipakai. Inggris sudah memulai vaksinasi pada Selasa (8/12).
Lalu AS juga telah memulai hal yang sama pada Senin (14/12). Menyusul negara-negara lain di Eropa.
Pada 27 Oktober lalu diumumkan vaksin ini efektif mencegah SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 lebih dari 90 persen. Hal ini berdasarkan uji coba tahap akhir dengan melibatkan lebih dari 43.000 orang.
10 hari kemudian, mereka menindaklanjuti uji coba mereka dengan hasil akhir berdasarkan 164 kasus. Pfizer dan BioNTech menyimpulkan bahwa vaksin mereka 95 persen efektif.
Untuk relawan berusia 65 tahun ke atas, yang sering kali memiliki respons lemah terhadap vaksin, ternyata punya persentase efektif sebesar 94 persen. Percobaan tersebut tidak mendeteksi adanya efek samping yang serius.
Adalah seorang perempuan berusia 90 tahun dari Irlandia Utara bernama Margaret Keenan menjadi orang pertama yang resmi disuntikkan vaksin Pfizer, di luar uji coba.
Menjawab Isu Vaksin mRNA Ubah Genetik Manusia
Sebuah narasi beredar di media sosial twitter sejak akhir November lalu dari akun @emeraldrobinson. Ia menyatakan bahwa vaksin corona berbasis mRNA dapat merusak DNA manusia dan 75 persen relawan telah mengalami efek samping dari vaksin tersebut.
Isu ini kemudian bergaung lagi di tengah proses vaksinasi yang sudah dimulai. Vaksin dengan metode pengembangan mRNA disebut bisa berdampak buruk ke kehidupan manusia di masa depan.
Dikutip dari AP pada Selasa (15/12), Profesor biologi dan kimia Colombia University Brent R. Stockwell menjelaskan vaksin mRNA bekerja dengan cara memasukkan molekul RNA kurir ke dalam tubuh manusia.
Kemudian, ia membuat sel dengan protein yang menyerupai salah satu protein virus yang menyusun SARS-CoV-2.
"Sel imun Anda kemudian mengenali protein virus ini dan menghasilkan respons imun terhadapnya, terutama dengan menghasilkan antibodi yang mengenali protein virus," kata Stockwell.
Dilansir DW, Institut Paul-Ehrlich, Institut Federal untuk Vaksin dan Biomedis menjelaskan bahwa dalam kasus manusia, genom terletak di inti sel dalam bentuk DNA.
"Integrasi RNA ke dalam DNA tidak dimungkinkan antara lain karena struktur kimianya yang berbeda," demikian keterangan Institut Paul-Ehrlich yang berbasis di Jerman itu
Selain itu, belum ada bukti bahwa mRNA yang diintegrasikan oleh sel tubuh setelah vaksinasi akan berubah menjadi DNA.
Mark Lynas, dari Alliance for Science Cornell University memberikan penjelasan bahwa, modifikasi genetik hanya bisa terjadi jika memasukkan DNA asing ke dalam inti sel manusia. Sementara vaksin sama sekali tidak melakukan itu.
Hal yang sama juga pernah diungkapkan oleh Dr. Dan Culver, ahli paru di Cleveland Clinic, Amerika Serikat. Tidak mungkin vaksin mengubah genetik.
"(Vaksin mRNA) tidak bisa mengubah susunan genetik Anda. Waktu bertahan RNA di dalam sel relatif singkat dalam rentang jam," ujar Culver.
"Apa yang sebenarnya Anda lakukan adalah memasukkan recipe card ke dalam sel pembuat protein selama beberapa jam," tutup dia.
