Menjelang Senja, Cerita Mereka Menyambung Hidup di Flyover Pasar Rebo Dimulai

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan pemotor dan pedagang yang memadati dua ruas jalan di Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (3/6/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan pemotor dan pedagang yang memadati dua ruas jalan di Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (3/6/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Menjelang magrib, saat langit mulai memudar menjadi jingga, flyover Pasar Rebo berubah wajah. Di atas jalan layang yang bukan hanya menjadi tempat motor dan mobil yang melintas, deret gerobak mengisi sisi kiri dua ruas jalan. Satu per satu menggelar dagangannya, mulai dari buah potong, kopi panas, hingga makanan ringan.

Di tengah lalu lalang kendaraan pada Selasa (3/6), mereka bertahan. Meski tahu tempat ini jauh dari aman.

“Beranilah, orang nyari makan. Terus saya mau makan apa?” kata Usi (35), pedagang buah potong yang menjual semangka, nanas, dan pepaya dengan gerobaknya.

Sudah bertahun-tahun Usi berdagang di flyover ini. Setiap hari, mulai dari pukul empat sore hingga sekitar pukul sepuluh malam.

“Kadang sampe jam 12 juga ada yang beli. Banyak yang pacaran nongkrong di sini,” tambahnya.

Pemandangan pemotor dan pedagang yang memadati dua ruas jalan di Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (3/6/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Dalam sehari, Usi bisa mengantongi uang hingga Rp 100 ribu, bersih setelah dipotong modal. Meski jumlahnya tak melulu sama, tapi cukup untuk bertahan di tengah kerasnya ibu kota.

Tak jauh dari lapak buah Usi, ada gerobak kopi dan camilan milik Abdul Haris (50). Ia bukan pendatang baru. Bisa dibilang 'dedengkot' , karena sejak awal-awal flyover itu berdiri dia sudah berjualan.

“Sudah 18 tahun saya dagang di sini,” katanya sedikit berteriak di tengah bisingnya suara kendaraan yang lalu-lalang.

Setiap sore Abdul dagang di flyover yang belasan tahun menjadi penyambung rejeki baginya. Jika temannya yang biasa berdagang pagi di belakang kampus sedang pulang kampung, Abdul menggantikan. Tapi sorenya, ia tetap kembali ke flyover, menanti dan melayani pembeli hingga pukul satu dini hari.

“Saya tinggal sendiri di Jakarta, anak di kampung, Brebes,” ceritanya.

Pemandangan pemotor dan pedagang yang memadati dua ruas jalan di Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (3/6/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Dari hasil berdagang di atas flyover yang menyempit dan bising itu, Abdul berhasil menyekolahkan tiga anaknya sampai SMK.

“Sisa satu lagi yang belum lulus, kelas dua,” katanya.

Modal itu datang dari hasil bersih sekitar Rp 150 ribu per hari. Dengan uang itu, Abdul juga bisa mencicil dua motor dan membangun rumah di kampung. Semua dari menjual kopi, air mineral, dan camilan kecil di tempat yang bahkan tak punya trotoar itu.

Jualan di flyover sebenarnya bukan tanpa risiko. Abdul pernah melihat gerobak-gerobak ditabrak mobil.

“Empat bulan lalu, mobil dari tengah, ngantuk kayaknya, nabrak tiga gerobak. Waktu itu ada yang nongkrong juga kena,” ucapnya.

Kecelakaan memang bukan hal aneh di sana. Namanya juga jalan raya, yang lazimnya bukan tempat orang jualan.

“Kadang-kadang sehari bisa dua kali. Pernah juga tiga kali. Kadang sampai ada yang meninggal,” ujarnya.

Pemandangan pemotor dan pedagang yang memadati dua ruas jalan di Flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (3/6/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Meski menyadari bahayanya, Abdul tetap bertahan demi menghidupi keluarga di kampung halaman.

“Karena kebutuhan lah,” jawabnya singkat saat ditanya kenapa tak pindah ke tempat yang lebih aman.

Sewa Lapak Mahal

Sewa lapak resmi—di bawah flyover terlalu mahal bagi Abdul. Ia harus merogoh kocek sekitar Rp 12 juta per tahun. Sementara di flyover, ia tak perlu membayar sewa, bahkan bebas dari pemalakan.

Kendati demikian dia mengingat pengalaman kucing-kucingan sampai "sogok-menyogok" petugas yang mencoba menertibkan.

“Dulu waktu zaman Fauzi Bowo, Satpol PP minta Rp 100 ribu per gerobak per bulan. Sekarang mah enggak ada,” kata Abdul.

Pedagang tak kapok. Pemerintah pun akhirnya memaklumi usai sadar tak bisa hanya sekadar merazia.

“Sempat dulu dipanggil ke kelurahan, dibilangin enggak boleh. Tapi ya namanya urusan perut, enggak kapok-kapok. Gerobak diangkut, bikin lagi. Balik lagi ke sini,” ujar Abdul.

Flyover Pasar Rebo memang bukan sekadar jalan layang. Ia telah menjelma jadi titik temu banyak kisah—tempat orang istirahat, tempat muda-mudi bertemu, tempat pedagang menggantungkan hidup.

Awalnya, kata Abdul, yang ramai adalah anak-anak nongkrong. Pedagang datang belakangan, melihat peluang, pedagang mengikuti. Dulu, sebelum ramai seperti sekarang, flyover ini sempat dikenal rawan begal.

“Sering itu [begal], sebelum 2018. Tapi sekarang udah enggak,” katanya.

Meski saat itu kerap ada begal, Abdul tak gentar. Hari ini ada peristiwa macam itu, besoknya ia tetap kembali berdagang. Tak ada rasa takut. Flyover Pasar Rebo sudah menjadi tempatnya menggantungkan nasib.