Menkes: 75 Persen Penduduk Indonesia Punya Masalah Gigi

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan masalah gigi menjadi persoalan kesehatan yang paling banyak ditemukan dalam pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sebanyak 75 persen penduduk Indonesia disebut memiliki masalah gigi.
Hal itu disampaikan Budi saat menghadiri Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (15/9).
Budi mengatakan, pemeriksaan kesehatan melalui program tersebut telah menjangkau 60 juta orang tahun lalu dan 88 juta orang hingga Agustus 2026. Pemerintah menargetkan 130 juta orang menjalani pemeriksaan sepanjang tahun ini, sebelum diperluas menjadi 280 juta orang setiap tahun mulai 2029.
“Dan yang mengejutkan saya, masalah terbesar adalah masalah gigi. Sebanyak 75 persen penduduk Indonesia memiliki masalah gigi,” kata Budi dalam paparannya.
Menurut Budi, persoalan kesehatan gigi masyarakat dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah kebiasaan menyikat gigi yang belum benar.
“Kita tidak menyikat gigi dengan benar, kita tidak memiliki cukup dokter gigi, dan kita tidak memiliki cukup kursi perawatan gigi untuk memeriksa status atau kondisi kesehatan gigi,” ujarnya.
Juga Soroti Masalah Obesitas
Selain masalah gigi, Budi turut menyinggung obesitas sebagai persoalan kesehatan terbesar kedua yang ditemukan dalam pemeriksaan. Kata Budi, obesitas dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan yang berkontribusi terhadap penyakit serius.
“Masalah terbesar kedua, saya agak malu mengatakannya, adalah obesitas. Obesitas dapat menyebabkan hipertensi, kadar gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi, yang dapat berkontribusi terhadap empat penyebab kematian terbesar di Indonesia, yaitu stroke, serangan jantung, masalah ginjal, dan masalah hati,” tutur Budi.
Budi mengatakan, temuan tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan masyarakat sejak awal. Menurutnya, upaya menjaga masyarakat tetap sehat akan lebih efisien dibandingkan mengobati mereka ketika sudah jatuh sakit
“Jika kita dapat mengendalikan kesehatan penduduk, hal itu akan meningkatkan usia harapan hidup dengan biaya yang paling efisien. Sebab, tugas kita adalah menjaga masyarakat tetap sehat, bukan hanya mengobati orang yang sudah sakit,” kata dia.
