Menkes Beri Warning soal Campak: Penularan Lebih Cepat dari Covid

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkes Budi Gunadi Sadikin meninjau gedung baru RSUD Kota Bima, NTB, Jumat (27/2/2026). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin meninjau gedung baru RSUD Kota Bima, NTB, Jumat (27/2/2026). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menuturkan bahwa kementeriannya akan menggelontorkan vaksin campak di 100 kabupaten/kota se-Indonesia.

Penyakit ini diketahui memiliki tingkat penularan tertinggi dibanding penyakit lainnya, seperti halnya Covid-19.

“Campak itu adalah penyakit yang menularnya paling cepat. Campak itu sudah ada vaksinnya, sudah ada imunisasinya. Saya sudah ngambil keputusan 100 kabupaten/kota, kita akan drop vaksin banyak. Cuma saya untuk bisa nyuntiknya, butuh bantuan teman-teman dari Puskesmas, RSUD, Bupati, Wali Kota untuk mendorong,” kata dia usai meninjau gedung baru RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2).

“Kalau Covid itu (penularannya dari) satu jadi dua, satu jadi tiga. Campak itu bisa satu menularkan ke sepuluh, satu ke 12. Ini adalah penyakit menular yang reproduction rate-nya, rate penularannya paling tinggi,” tambah Budi.

Menkes Budi Gunadi Sadikin meninjau gedung baru RSUD Kota Bima, NTB, Jumat (27/2/2026). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Kasus Meninggal Campak pada Anak Lebih Tinggi dari Covid

Tak hanya penularan, menurut Budi, kasus campak pada anak memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dari Covid-19.

“Campak itu kalau kena yang dewasa enggak terlalu masalah. Tapi kalau kena anak-anak meninggalnya tinggi. Lebih tinggi dari Covid,” tuturnya.

Di Bima sendiri, sambung Budi, campak telah merenggut 2 nyawa anak.

“Saya terkejut karena seluruh dunia lagi naik. Indonesia naik, Bima juga naik. Sudah ada 2 yang meninggal anak-anak. Tahun lalu, setahun 40-an (kasus campak) gitu. Sekarang sebulan aja sudah 40-an, Februari juga 50-an,” ucapnya.

Budi ikut berduka dengan kondisi anak-anak yang terjangkit campak, bahkan hingga meninggal dunia.

“Jangan lagi ada anak-anak kita yang harus meninggal gara-gara campak, karena sudah ada vaksinnya. Penyebab kematiannya tinggi, padahal seharusnya tidak usah ada yang tertular dan sampai wafat karena campak,” tuturnya.