Menkes dan Kisah Tak Terungkap soal Ngebutnya Vaksinasi COVID-19

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkes Budi Gunadi Sadikin saat ditemui kumparan di kantornya, Jakarta, Senin (6/2/2023). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin saat ditemui kumparan di kantornya, Jakarta, Senin (6/2/2023). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Pandemi COVID-19 sedikit lagi berakhir. Betul-betul sedikit lagi, sebab secara de facto sudah tak ada aturan mengikat atau pembatasan di kalangan masyarakat.

PPKM dicabut Desember 2022. Masker pun hanya diwajibkan di tempat-tempat tertentu seperti transportasi publik.

Namun, perjuangan Indonesia untuk mencapai titik ini tidak mudah. Banyak 'harga' yang harus dibayar. Mereka yang meninggal karena virus ini ratusan ribu orang, jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan tenaga kesehatan berguguran.

Perjuangan mengentaskan pandemi dikawal oleh sang Game Changer Menkes Budi Gunadi Sadikin. Meski tak dari awal, sarjana Fisika Nuklir dari ITB ini dinilai banyak pihak sebagai tokoh sentral dalam perjuangan penuh emosi 3 tahun ke belakang.

"Pertama, memang saya lihat pendekatan masalah kesehatan harus dilakukan dengan konsep pendekatan, bukan program. Artinya semua masyarakat Indonesia harus merasa ini adalah masalah mereka dan melakukan inisiatif sendiri untuk menyelesaikan masalah kesehatan ini," kata Menkes Budi dalam wawancara program khusus kumparan Game Changer di gedung Kemenkes, Jaksel, belum lama ini.

video youtube embed

Budi menyadari, latar belakangnya bukan dari kesehatan. Namun, menurutnya itu bukan halangan. Masuk di kabinet saat COVID-19 sedang berkecamuk, tak membuatnya ragu.

Kuncinya kolaborasi. Menghadapi musuh yang tak terlihat bukan pekerjaan mudah. Budi harus menggerakkan orang-orang pintar level profesor di lingkungan Kemenkes, tenaga kesehatan di seluruh penjuru negeri, dan bahu-membahu dengan instansi lain.

Tantangan pertama Budi di awal pandemi adalah persoalan alat tes polymerase chain reaction (PCR) — alat untuk mendeteksi virus COVID-19 — yang minim. Penyebabnya sistem kesehatan yang belum terbangun dengan baik.

"Yang diperlukan adalah alat tes, namanya PCR. Dan di Indonesia masih sangat sedikit PCR ini, hanya ada di Jakarta, Surabaya, kota-kota besarlah. Sehingga di kota-kota lainnya sulit melakukan tes PCR," ujar Budi.

Budi bergerak gesit mencari solusi. Dia meyakini bahwa semakin cepat orang terdeteksi, semakin cepat virus bisa ditanggulangi.

Namun, semua serba tak mudah. Dunia saling berlomba mendapatkan mesin-mesin tersebut.

Kita mainkan semua jalur lobi, mulai dari jalurnya Kementerian Luar Negeri, jalur WHO, jalur pengusaha-pengusaha Indonesia yang akses internasionalnya bagus, sehingga kita dapat cepat."

Budi Gunadi

"Hingga dalam 3 bulan kita dapat mesin-mesin PCR dan disebar ke seluruh Indonesia dan BUMN kita sebar ke rumah sakit-rumah sakit BUMN," sambung Budi.

Jumlah tes PCR perlahan meningkat. Kasus pun semakin banyak terdeteksi. Menurut Budi, tak ada yang salah dan tak perlu malu mengakui ke dunia soal itu.

Toh, yang terpenting adalah melindungi masyarakat. Menghindarkan kematian, mencari solusi terbaik memutus penularan.

Menkes Budi Gunadi Sadikin saat ditemui kumparan di kantornya, Jakarta, Senin (6/2/2023). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Vaksinasi sebagai Game Changer

"Saya tanya ke Bapak Presiden, "Apa yang perlu saya lakukan (berikutnya)?" Bapak Presiden bilang. Nomor 1 vaksinasi cepat," kata mantan Wakil Menteri BUMN itu saat menjelaskan tugas vaksinasi dari Jokowi.

Permintaan Jokowi sangatlah wajar. Setelah kita bisa banyak mendeteksi orang tertular COVID-19, pemerintah tak mungkin begitu saja bergerak.

Berikutnya adalah soal bagaimana melindungi masyarakat dari paparan virus. Satu-satunya game changer adalah vaksinasi.

Namun, lagi-lagi ini bukan perkara mudah. SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 adalah virus baru dengan karakter unik dan melelahkan manusia.

Sampai 6 bulan pandemi berjalan, belum ada vaksin yang betul-betul valid. Amerika Serikat, China, Inggris, dan negara maju lainnya berlomba-lomba menciptakan karya mereka.

Riset dikebut, sejarah tercipta. Tak pernah terjadi sebelumnya, ada penciptaan vaksin kurang lebih setahun.

Namun, 'keajaiban' itu muncul beriring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Akhirnya muncullah sejumlah vaksin: Sinovac dan Sinopharm dari China, Moderna dan Pfizer dari Amerika Serikat, hingga AstraZeneca dari Inggris.

"Memang pertama keluar itu vaksin-vaksin Barat. Vaksin Barat itu, ngerti negara-negara Barat dan teman-temannya dapet duluan. Sementara Indonesia nonblok, kita pasti kalah dengan blok sana. Itu yang mengakibatkan negara seperti Israel dan Singapura cepat sekali mulai vaksinasinya," kenang Budi.

Warga menunggu antrean vaksinasi COVID-19 di Kelurahan Lubang Buaya, Jakarta. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

China adalah jalan keluar. Meski tak sedikit yang meragukan, Menkes punya prinsip: vaksin terbaik adalah yang bisa segera disuntikkan ke publik.

Sinovac pun dibuat bukan tanpa ujian. Vaksin dengan metode inactivated virus itu terbukti aman disuntikkan dengan tingkat efikasi 65 persen.

Wajar dipertanyakan karena tingkat efikasi yang rendah, apalagi Pfizer hingga Moderna tingkat kemanjurannya diyakini di atas 90 persen. Namun, Budi lagi-lagi kembali ke prinsip awal kemanusiaan.

"Waktu itu yang membuka diri ke kita terus terang China, Sinovac ini. Mereka mau, ya kita ambil. Saya tanya, efektivitas beda-beda dikit tidak apa-apa, yang penting cepat divaksinasi sebelum kena, untuk meminimalisasi risiko masuk rumah sakit dan wafat," tegas Budi.

"Ada bagusnya. Begitu ternyata dari luar swasta lihat, "Loh bener, nih, Indonesia beli vaksin Sinovac?" Akhirnya mereka membuka pintu supaya kita bisa ambil vaksinnya, Pfizer, Moderna, yang (metode) mRNA itu," imbuh mantan Dirut Bank Mandiri itu.

embed from external kumparan

Kuncinya Kolaborasi: Three Musketeers Vaksinasi

Vaksinasi pertama dimulai Januari 2021. Sebelumnya ,uji klinik dilakukan di bawah komando Guru Besar FK Unpad Prof Kusnandi Rusmil.

Setelah diyakini dan hasilnya aman, barulah pemerintah memulai vaksinasi dengan vaksin buatan Sinovac pada Januari 2021. Kickoff vaksinasi ditandai dengan disuntiknya Presiden Jokowi.

Berjalannya waktu, kapasitas vaksinasi terus meningkat. Semakin hari semakin banyak orang yang disuntik dan menerima manfaat.

Sampai dalam tahap Indonesia adalah negara ke-4 di dunia dengan vaksinasi tercepat. Padahal jumlah orang yang disuntik jumlahnya ratusan juta.

Menkes Budi pun mengungkap resep dan rahasianya. Pangkalnya adalah kolaborasi.

Jadi sejak awal masalah vaksinasi kita di Kemenkes sadar, harus merangkul semua komponen masyarakat, kita harus bisa merajut agar modal sosial yang dimiliki masyarakat. Agar mereka memanfaatkan modal sosial tersebut untuk menyelesaikan program vaksinasi ini."

Menkes Budi Gunadi

Tenaga kesehatan memberikan vaksin saat vaksinasi dosis ketiga (booster) di Sentra Vaksinasi Gramedia Matraman, Jakarta Timur, Senin (17/1). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Budi bercerita soal Three Musketeers Vaksinasi, yaitu TNI, Polri, dan BIN. Ini adalah tiga institusi pemerintah yang menjadi tonggak cepatnya vaksinasi di Indonesia.

"Itu kalau dilihat, yang paling depan sebenarnya bukan Kementerian Kesehatan, TNI aktif, Polri aktif, BIN aktif, itu dari sisi pemerintah," jelas Budi.

Sentra vaksinasi di mana-mana. Masyarakat semakin mudah mendapatkan vaksin.

Inilah salah satu kunci imunitas di Indonesia saat ini sangat tinggi. Mereka yang divaksinasi dikombinasi dengan penyintas menghasilkan antibodi yang membuat kekebalan masyarakat Indonesia tinggi.

"Kalau dari sisi nonpemerintah, ada gubernur, wali kota, ada beberapa yang sangat aktif. Turun ke swasta perusahaan-perusahaan kayak Grab, Gojek, Blue Bird, perbankan, semuanya melakukan program vaksinasi," urai Budi.

"Bahkan sampai gereja, Muhammadiyah, NU, semuanya bergerak, Masjid Al-Azhar, melakukan vaksinasi juga di sana malah semua agama bisa vaksinasi di sana," sambungnya.

"Alhamdulillah, dalam 1 tahun 6 bulan, kita hampir 450 juta suntikan di 205 juta orang, di 6.000 pulau di Indonesia," tutup Budi.