Menkes Kirim Tim ke Papua untuk Cek Kasus Ibu dan Bayi Meninggal Ditolak 4 RS

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkes Budi Gunadi Sadikin menjawab pertanyaan wartawan usai rapat bersama Komisi IX di Gedung Parlemen, Jakarta Pusat, Kamis (13/11/2025). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin menjawab pertanyaan wartawan usai rapat bersama Komisi IX di Gedung Parlemen, Jakarta Pusat, Kamis (13/11/2025). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan telah mengirim tim ke Papua untuk memeriksa latar belakang kasus ibu dan bayi dalam kandungan yang meninggal setelah ditolak empat rumah sakit.

“Sekarang kami sudah kirim tim, sudah sampai di sana, untuk menganalisa masalahnya di mana,” ujar Budi usai acara The 1st National Forum of The Indonesian Health Council di The Grand Platinum Hotel, Jakarta, Selasa (25/11).

Ia menjelaskan bahwa tim tersebut berasal dari rumah sakit rujukan ibu dan anak, yakni RSAB Harapan Kita.

Budi juga mengatakan telah berkomunikasi dengan Gubernur Papua Mathius Fakhiri terkait langkah perbaikan. Menurutnya, kewenangan rumah sakit daerah berada di bawah pemerintah daerah sehingga koordinasi harus dilakukan.

“Saya juga sudah ngomong sama Pak Gubernur, niatnya baik. Beliau ingin agar ini diperbaiki,” ucapnya.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kesehatan mengirim tim tambahan dari RSUP Dr. Sardjito untuk membantu memperbaiki tata kelola RSUD di Papua.

“Nah, kami kirim tim dari Rumah Sakit Sardjito untuk bisa memperbaiki tata kelola RSUD-RSUD di Papua,” pungkasnya.

Sekilas Kasus

Ibu hamil asal Kampung Hobong, Irene Sokoy dan bayi dalam kandungannya meninggal dunia pada Senin, 17 November 2025.

Ipar Irene, Ivon Kabey, menjelaskan Irene dibawa dari Kampung Kensio menuju RS Yowari Minggu (16/11) siang untuk proses persalinan.

"Awalnya kami tiba di RSUD Yowari pukul 15.00 WIT dengan status pasien pembukaan enam dan ketuban pecah, tetapi proses persalinan tidak kunjung ditangani karena dugaan bayi berukuran besar, yakni empat kilogram," kata Ivon dikutip dari Antara, Minggu (23/11).

Dia mengatakan keluarga meminta percepatan rujukan karena kondisi Irene semakin gelisah, tetapi surat rujukan baru selesai mendekati tengah malam, diikuti keterlambatan ambulans yang tiba pukul 01.22 WIT, Senin (17/11).

"Rujukan ke RS Dian Harapan dan RS Abe menolak karena ruangan penuh serta renovasi fasilitas," katanya.

Setelah ditolak 3 RS, Irene kembali dirujuk ke RS Bhayangkara. Lagi-lagi Irene ditolak karena harus membayar uang muka terlebih dahulu sebesar Rp 4 juta. Saat itu keluarga tidak punya uang sebanyak itu.

"Lanjut kami ke RS Bhayangkara pasien tidak diterima tanpa uang muka Rp 4 juta," ujarnya.

Karena tidak ada uang, Irene lalu kembali dirujuk ke RSUD Dok II Kota Jayapura. Namun Irene dan bayinya meninggal di perjalanan pukul 05.00 WIT.

"Sejak awal adik ipar saya tidak ditangani dengan baik, kami ke beberapa rumah sakit dan terus ditolak, sampai akhirnya adik saya meninggal dalam perjalanan bersama bayi yang dikandung," katanya.