Menkes Lobi India, China dan AS untuk Tambah Suplai Obat COVID-19

16 Juli 2021 15:46 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/2). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/2). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan suplai kebutuhan obat untuk pasien COVID-19 masih terkontrol, khususnya yang diproduksi langsung di Indonesia. Namun, ada merek obat tertentu masih harus diimpor dari luar negeri.
ADVERTISEMENT
Pengadaan obat-obatan yang masih harus impor ini diakui Budi tidaklah mudah. Ia menjelaskan, suplai obat-obatan tersebut secara global juga sedang ketat.
"Mengenai obat kita juga sudah identifikasi bahwa untuk obat-obat yang ada pabriknya di dalam negeri relatif masih terkontrol suplainya. Kami sadari ada obat-obatan impor yang memang secara global suplainya juga sangat ketat," ujar Budi melalui pernyataannya di YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (16/7).
Untuk memenuhi stok obat-obatan corona yang dibutuhkan, Budi menyebut pemerintah berusaha berkomunikasi dengan sejumlah negara.
Obat corona pertama yang berhasil diamankan stoknya yakni Remdesivir. Obat yang tergolong antivirus ini berhasil diamankan Indonesia berkat kerja sama dengan pemerintah India.
Budi menjelaskan, hingga kini tercatat sudah ada 50 ribu vial Remdesivir yang masuk ke Indonesia. Sebelum nantinya secara bertahap 50 ribu vial akan masuk ke Indonesia setiap minggunya.
ADVERTISEMENT
"Pertama adalah obat Remdesivir yang kami impor dari India, Pakistan, dan China. Dan sekarang solusinya kita sudah negosiasi dengan Ibu Menlu dibantu tentu agar India bisa membuka kembali keran ekspornya. Dan sudah mulai masuk 50 ribu vial minggu ini dan nanti bertahap 50 ribu vial setiap minggu," ucap Budi.
"Kami juga sudah buka akses ke China supaya obat yang mirip Remdesivir bisa kita bawa masuk," sambungnya.
Remdesivir. Foto: Shutter Stock
Obat selanjutnya yang juga dibutuhkan saat ini adalah Actemra, yakni obat yang mengandung Tocilizumab, yang memiliki khasiat mengurangi gejala yang dirasakan pasien COVID-19.
Selain itu, pemerintah juga telah berupaya memperoleh obat ini langsung dari produsennya yakni Roche di Swiss.
Meski berhasil mengamankan stok beberapa merek obat corona, Budi menegaskan jumlah yang didapat masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan. Karenanya, pemerintah Indonesia turut membuka komunikasi dengan pemerintah Amerika Serikat untuk memperoleh obat sejenis Actemra.
ADVERTISEMENT
"Kita cari beberapa alternatif obat yang mirip dengan produk Actemra ini dari Amerika Serikat, karena kebetulan AS pada saat gelombang pertama dan kedua punya stok obat yang cukup banyak. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa membawa ke Indonesia obat alternatif yang mirip dengan Actemra," ungkap Budi.
Obat Gammaraas. Foto: Shanghai RAAS
Obat terakhir yang masih terus diupayakan stoknya oleh pemerintah yakni Gammaraas. Obat yang dipercaya dapat meningkatkan kekebalan atau imunitas tubuh bagi yang mengkonsumsinya itu kini tengah diupayakan melalui kerja sama dengan pemerintah China.
Meski telah mengamankan sebanyak 30 ribu vial, Budi menuturkan pemerintah masih ingin mengamankan lebih banyak lagi Gammaraas untuk kebutuhan dalam negeri.
"Kita juga mencari obat yang namanya Gammaraas, itu merk dagang dari kategori obat yang dikenal dengan grup IVIG ini produksinya ada di China. Kita juga butuh cukup banyak, dan sekarang kita sudah bisa mendatangkan sekitar 30 ribu vial. Tapi kita membutuhkan lebih banyak lagi, dan sekarang dengan dibantu Kemenlu kita terus lakukan lobi-lobi dengan pemerintah China," kata Budi.
ADVERTISEMENT
"Jadi 3 obat impor itu yang sekarang sedang kita terus kejar agar bisa memenuhi kebutuhan di dalam negeri," tutupnya.