Menkes Resmikan Pencanangan Pekan Imunisasi Polio di Aceh

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Kesehatan Budi Gunadi meresmikan pencanangan Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio Aceh, sebagai respon Kejadian Luar biasa (KLB) atas temuan kasus polio pertama kali di Kabupaten Pidie. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi meresmikan pencanangan Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio Aceh, sebagai respon Kejadian Luar biasa (KLB) atas temuan kasus polio pertama kali di Kabupaten Pidie. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi meresmikan pencanangan Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio Aceh. Hal ini sebagai respons Kejadian Luar biasa (KLB) atas temuan kasus polio pertama kali di Kabupaten Pidie.

Peluncuran PIN Polio dihadiri Menkes tersebut berlangsung di gedung aula Anjong Mon Mata, kompleks Pendopo Gubernur Aceh, Senin (5/12). Kedatangan Menkes disambut seratusan siswa berasal dari berbagai sekolah di Banda Aceh.

Secara simbolis, dimulainya Sub PIN Polio Aceh ditandai dengan penetesan vaksin oleh Menkes Budi, bersama dengan Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki kepada para siswa yang telah ditunjuk.

Menkes Budi meminta, Pemerintah Aceh dapat menyelesaikan vaksinasi polio di 22 kabupaten/kota dalam jangka waktu satu bulan. Agar, mata rantai virus tersebut cepat terputus dan tidak menular ke anak-anak lainnya.

“Kalau Pak Gubernur berkenan, coba satu bulan disapu bersih seluruh kabupaten/kota. Anak usia di bawah 12 tahun itu ada 1,2 juta, saya harap bisa diselesaikan selama satu bulan,” kata Budi dalam sambutannya.

Kepada seluruh orang tua di Aceh, Menkes mengharapkan, agar memastikan anak-anaknya menerima imunisasi polio lengkap dan jangan biarkan mereka menderita cacat seumur hidup.

“Imunisasinya harus lengkap, karena tipe virusnya banyak. Jadi diingetin anak-anaknya, empat kali polio tetes dan dua kali polio suntik,” ujarnya.

Budi menjelaskan, dunia dicanangkan WHO bebas dari polio di tahun 2026 dan Indonesia sudah sejak 2014. Akan tetapi, virus itu kini kembali lagi dan untuk pertama kalinya ditemukan di Pidie, Aceh.

Namun demikian, sebutnya, virus itu bukan hanya kembali ditemukan di Indonesia tetapi juga di Amerika Serikat, Inggris, dan Israel.

“Itu adalah tiga negara yang kasus polio muncul kembali tahun ini. Mereka sudah meneliti, dan penyebabnya karena vaksinasi kita tidak merata terutama akibat COVID-19,” tuturnya.

Menurut Budi, Aceh memang bukan salah satu daerah dengan cakupan imunisasi paling rendah. Tetapi, provinsi paling ujung sumatera itu masuk dalam kategori tersebut.

“Makanya saya mengajak bapak-ibu, ayo bawa anaknya imunisasi polio. Tidak ada satu orang ibu pun menginginkan anaknya cacat,” ungkapnya.

Usai memberikan sambutannya, Menkes Budi juga turut menyapa beberapa petugas puskesmas secara virtual. Mendengarkan keluh-kesah para petugas dalam melaksanakan program imunisasi, mulai dari penolakan orang tua hingga kekurangan vaksinator.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Gubernur Aceh Achmad Marzuki, meminta kepada seluruh bupati dan wali kota untuk serius dalam melaksanakan Sub PIN Polio di wilayahnya masing-masing-

“Saya imbau untuk melaksanakan secara serius, sehingga pencapaian 95 persen vaksinasi pada anak dapat tercapai,” katanya.

Kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh, Hanif, mengatakan sebelumnya pelaksanaan Sub PIN juga telah dilakukan di Kabupaten Pidie mulai 28 November 2022.

“Sampai hari ini cakupan imunisasi sudah mencapai 79,5 persen. Sisanya dalam satu minggu ini akan kita lakukan sweeping, mudahan-mudahan target 95 persen bisa tercapai,” katanya.

Hanif menyebutkan, untuk pelaksanaan Sub PIN Polio Aceh juga menyasar anak usia 0 -12 tahun dari seluruh kabupaten/kota di Aceh dengan total sasaran 1,2 juta anak.

“Target kita juga sama 95 persen. Semoga vaksinasi ini bisa berjalan dengan lancar,” katanya.