Menkes Sebut Peluang 5 Obat Corona Baru untuk Indonesia, Termasuk Molnupiravir

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan sambutan saat menerima bantuan 500 ton oksigen dari Indonesia Morowali Industrial Park Sulawesi Tengah. Foto: Nick Hano/VOXPP
zoom-in-whitePerbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan sambutan saat menerima bantuan 500 ton oksigen dari Indonesia Morowali Industrial Park Sulawesi Tengah. Foto: Nick Hano/VOXPP

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan adanya peluang 5 jenis obat corona baru yang akan digunakan di Indonesia. Salah satunya seperti antivirus molnupiravir yang tengah ramai diperbincangkan publik.

Hal ini disampaikan Budi dalam konferensi pers virtual terkait PPKM Level secara virtual. Budi saat ini juga tengah berada di Amerika Serikat bersama Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan untuk bertemu produsen dari molnupiravir yakni Merck.

"Jadi pemerintah sudah uji klinis beberapa obat yang masuk kategori monoklonal antibodi seperti bamlanivimab dan etesevimab, dan kita sedang jajaki obat-obatan antivirus baru yang promising dan sekarang sedang ramai antara lain molnupiravir dari Merck," jelas Budi pada Senin (18/10).

Selain molnupiravir, bamlanivimab dan etesevimab, Indonesia saat ini juga terus mengikuti perkembangan dari dua obat lain.

"Kita juga mempelajari obat antivirus AT-527 yang di-develop Rosche dan Atea Pharmaceuticals, kita juga sedang mempelajari obat Proxalutamide yang diproduksi oleh Kintor Pharmaceutical dari China," lanjutnya.

Saat ini, obat-obatan tersebut juga masih dalam uji klinis tahap ketiga. Budi mengungkapkan Indonesia juga turut menawarkan untuk menjadi bagian dalam uji klinis tersebut. Hal ini dilakukan menurutnya agar bisa mengetahui kecocokan dari obat-obatan COVID-19 baru ini lebih cepat.

Oleh karena itu, dengan adanya vaksinasi dan juga obat-obatan yang menjanjikan, Budi optimis bahwa endemi akan segera terjadi.

"Banyak perkembangan jenis obat baru yang promising, memberikan harapan agar bisa menangani pandemi ini. Dan kalau kita sudah bisa melengkapi vaksin dengan obat-obatan diharapkan transisi pandemi jadi endemi akan bisa lebih cepat kita lakukan," pungkas Budi.